BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Cuaca ekstrem yang melanda perairan Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung dalam beberapa hari terakhir mulai memukul isi dompet emak-emak dan mengancam dapur masyarakat, Kamis (16/7/2026) pagi.
Harga sejumlah komoditas ikan laut di pasar tradisional Sungailiat, dilaporkan meroket tajam akibat pasokan yang mendadak langka di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sungailiat.
Dari pantauan di lapangan, ikan konsumsi harian dan sering dicari atau dibeli masyarakat seperti tongkol, kerisi, ciu ikan besar di kisaran Rp40 ribu perkilogram. Sedangkan, ikan hapau Rp50 ribu dan tenggiri Rp100 ribu.
"Rata-rata naik ikan seminggu ini Rp15 ribu perkilogram, lebih mahal lagi cumi harganya mencapai Rp140 ribu perkilogram kami jual," kata Anto, penjual ikan kepada Bangkapos.com.
Baca juga: Diisi Wajah Baru, 7 Kades Terpilih Bangka Selatan Diminta Bawa Semangat Baru Bangun Desa
Kondisi ini merupakan dampak langsung dari mogoknya aktivitas melaut, akibat gelombang tinggi yang membahayakan keselamatan para nelayan yang hendak melakukan aktivitas melaut.
"Melihat kondisi cuaca seperti ini, nelayan-nelayan takut mau turun. Tapi masih ada nelayan turun, tergantung kondisi cuaca. Akan tetapi, nelayan saya yang kerja sama saya rata-rata istirahat dulu karena kondisi cuaca," ucapnya.
Apalagi, biaya operasional yang tinggi kini tidak sebanding dengan risiko dan potensi hasil tangkapan di tengah laut yang sedang tidak bersahabat dan sangat membahayakan nelayan ketika berada di tengah laut.
"Kemarin saja tekor, dapat tidak sesuai dan biaya operasional selama di laut lumayan besar. Maka dari itu, nelayan yang ikut atau kerja sama saya istirahat dulu menunggu cuaca bagus," ujarnya.
Lebih lanjut ia mengakui dengan kondisi cuaca ekstrem dan buruk, pasokkan stok ikan saat ini sedang kosong dan tidak banyak stok hingga mengakibatkan harga ikan naik.
"Ini bisa dilihat kurang ikan, banyak perahu nelayan yang parkir dan tidak turun ke laut. Sangat berdampak dengan jumlah ikan, termasuk stok ikan yang ada di pasaran," ungkapnya.
Ia pun tak menampik, kondisi cuaca ini terjadi sudah beberapa hari terakhir dan akan kembali normal diperkirakan bulan depan. Mengingat, saat ini kondisi cuaca masih ekstrem atau buruk.
"Bulan Agustus biasa sudah normal, tapi mudahan-mudahan cuaca cepat normal karena kasihan nelayan di sini mau melaut atau turun demi menghidupi keluarga dan memenuhi kebutuhan," harapnya.
Sementara Feri, seorang pedagang lempah kuning di Air Ruay terpaksa tidak berjualan dikarenakan stok ikan kosong dan harga melambung tinggi akibat cuaca ekstrem.
"Hampir dua minggu tidak jualan, ikan susah sekarang. Tambah lagi, harga ikan lumayan mahal. Jadi, sementara waktu istirahat dulu jualan lempah kuning," kata Feri.
Baca juga: Baru Tiba dari OKI Sumsel, Kurir Ratusan Butir Ekstasi Langsung Diciduk di Pelabuhan Toboali
Dari pantauan Bangkapos.com di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sungailiat, sejumlah perahu nelayan terparkir dan kondisi air sedang surut hingga pukul 10.15 WIB.
(Bangkapos.com/Adi Saputra)