TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Di sebuah sudut Sewon, Bantul, terdapat sebuah rumah tua yang tak banyak berubah dari bentuk aslinya.
Dinding kayu berpadu bata ekspos, rak buku memenuhi beberapa sisi ruangan, sementara lukisan karya seniman lokal menggantung tanpa pola tertentu.
Perabot yang digunakan pun bukan furnitur baru, melainkan lemari, meja, hingga kursi bekas yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.
Di balik meja bar, seorang barista menyeduh kopi dengan tenang.
Tidak ada suara mesin espresso yang berdengung cepat. Setiap seduhan dibuat secara manual, sembari sesekali mengobrol dengan tamu yang datang.
Di ruangan lain, beberapa pengunjung memilih tenggelam dalam buku, ada yang berbincang santai, sementara lainnya hanya menikmati suasana tanpa banyak bicara.
Pemandangan seperti itulah yang hampir setiap hari ditemui di Jagongan, sebuah slow bar yang memilih berjalan dengan ritmenya sendiri, jauh dari kesan serba cepat yang kini banyak ditemui di kedai kopi modern.
Bagi Dika, salah satu owner sekaligus barista Jagongan, tempat itu sejak awal memang tidak pernah ingin menjadi sekadar coffee shop.
"Kalau mau dideskripsikan, Jagongan ini adalah rumah. Sesimpel itu. Kita ingin tempat ini jadi tempat istirahat buat teman-teman yang sudah lelah berkegiatan di kota," ujarnya.
Baca juga: Prambanan Masuk Tiga Besar Atraksi Wisata Indonesia Paling Diminati Wisatawan
Konsep rumah itu bukan sekadar slogan. Saat tamu datang, mereka tidak langsung menerima daftar menu.
Sebaliknya, barista akan mengajak berbincang lebih dulu, memperlihatkan koleksi biji kopi yang tersedia, lalu menjelaskan karakter masing-masing sebelum pelanggan menentukan pilihan.
"Kalau main ke rumah teman kan enggak mungkin dikasih menu. Ya sama seperti di sini. Teman-teman datang, kita suguhkan kopi," kata Dika.
Pilihan untuk hanya menjual kopi pun lahir dari perjalanan Jagongan sendiri.
Awalnya, tempat itu berangkat dari kebiasaan sekelompok teman yang gemar berkumpul.
Dalam setiap pertemuan, kopi selalu menjadi suguhan utama hingga akhirnya muncul gagasan untuk menjadikan kebiasaan tersebut sebagai sebuah usaha.
Alih-alih menawarkan banyak produk, mereka justru memilih fokus pada satu hal.
"Kita memilih single product supaya benar-benar fokus. Awalnya memang dari tongkrongan yang dipertemukan oleh kopi," ujarnya.
Perjalanan Jagongan ternyata juga berkembang seiring waktu.
Pada masa awal berdiri, mereka hanya menggunakan biji kopi yang tersedia sesuai kemampuan modal. Namun kini, pilihan kopi semakin beragam, mulai dari specialty coffee hingga biji kopi impor.
Sebagian besar kopi bahkan dipilih langsung dari petani maupun teman-teman yang baru mulai menekuni dunia perkebunan kopi. Setelah itu seluruh proses roasting dilakukan sendiri di Jagongan.
"Dulu kami pakai kopi yang sedapatnya karena memang modal terbatas. Sekarang kami jauh lebih serius. Beans specialty ada, impor juga ada, dan semuanya kami roasting sendiri. Beberapa langsung dari petani, sebagian lagi dari teman-teman yang baru memulai bertani kopi dan kami coba dukung," jelasnya.
Meski serius dalam urusan kopi, Dika mengatakan misi utama Jagongan bukan sekadar menjual minuman, melainkan mengenalkan kekayaan kopi kepada masyarakat.
"Misi kami sebenarnya edukasi. Kami ingin orang tahu kalau kopi Indonesia itu banyak. Ada dari Sumatera, Sulawesi, Jawa Barat, sampai Timor Leste," katanya.
Suasana hangat yang terasa di Jagongan rupanya juga tidak muncul begitu saja.
Dika mengungkapkan, para barista memang berlatih untuk membangun percakapan dengan pelanggan agar interaksi yang terjadi tetap terasa alami.
"Itu memang dikonsep. Kami latihan supaya bisa ngobrol senatural mungkin dengan pelanggan," ujarnya.
Namun tujuan akhirnya bukan untuk membuat pelanggan membeli lebih banyak kopi.
"Kopi buat kami hanya suguhan. Yang ingin kami bangun sebenarnya kedekatan emosional. Orang mungkin tiga tahun lagi lupa rasa kopinya, tapi sepuluh tahun lagi mereka masih ingat suasana Jagongan dan orang-orang yang pernah mereka temui di sini," ucap Dika.
Dari percakapan-percakapan sederhana itulah lahir banyak cerita yang tak pernah mereka rencanakan.
Ada pelanggan yang datang sejak masih kuliah lalu kembali bersama keluarganya. Bahkan ada pula pasangan yang akhirnya menikah setelah pertama kali bertemu di Jagongan.
"Ada yang ketemu di sini, duduknya beda meja, terus akhirnya menikah. Ada juga yang dulu datang sendiri waktu kuliah, sekarang datang lagi bawa keluarga. Cerita-cerita seperti itu banyak," katanya sambil tersenyum.
Suasana santai tersebut menjadi bagian dari identitas slow bar yang diusung Jagongan.
Setiap cangkir dibuat dengan metode manual sehingga membutuhkan waktu lebih lama dibanding kedai kopi yang menggunakan mesin otomatis.
Menurut Dika, ritme tersebut merupakan konsekuensi yang memang mereka pilih.
"Kalau datang ke slow bar memang harus mengikuti alurnya. Banyak yang bilang kenapa enggak pakai mesin biar cepat. Tapi memang bukan itu yang kami cari. Kami ingin semuanya tetap santai," ujarnya.
Meski demikian, Jagongan tetap berusaha menjaga fleksibilitas agar pelanggan tidak perlu menunggu terlalu lama.
Hal lain yang membedakan Jagongan dari banyak slow bar lain adalah karakter setiap baristanya.
Dika mengatakan mereka sengaja tidak membuat standar baku mengenai cara melayani pelanggan.
Setiap barista bebas menunjukkan kepribadian masing-masing sehingga pengalaman yang dirasakan tamu bisa berbeda tergantung siapa yang sedang berjaga.
"Kami enggak punya SOP soal harus begini atau begitu di depan pelanggan. Mau jadi diri sendiri saja. Jadi kalau datang pagi mungkin ketemu Mbak Ayu, malam bisa ketemu aku atau teman-teman lain. Karakternya beda-beda dan itu enggak masalah," katanya.
Keunikan lain juga terlihat dari interior ruangannya. Hampir seluruh furnitur berasal dari barang bekas yang dibeli dengan harga murah ketika modal masih terbatas.
Tanpa direncanakan, koleksi lukisan karya teman-teman seniman pun terus bertambah hingga memenuhi dinding.
"Semuanya ngalir. Properti banyak yang beli barang bekas karena dulu modalnya terbatas. Lukisan juga enggak direncanakan sebanyak ini. Teman-teman pelukis banyak yang minta nitip karya, akhirnya malah jadi seperti sekarang," ujar Dika.
Baginya, tidak ada hal yang perlu dibuat berlebihan. Apa yang ditampilkan di media sosial sama persis dengan yang ditemui pengunjung ketika datang langsung.
Ia juga ingin Jagongan menjadi ruang yang menghapus sekat status sosial. Siapa pun bisa datang tanpa harus merasa canggung.
"Di sini enggak ada status sosial. Mau pakai sandal jepit, pakai sarung, atau datang rapi pakai sepatu, semuanya sama. Yang penting orang merasa dihargai dan enggak merasa sendirian saat datang ke sini," tuturnya.
Di Jagongan, kopi memang menjadi alasan orang berkunjung. Namun yang dibawa pulang bukan hanya aroma dan rasa dari secangkir seduhan, melainkan pengalaman bertemu orang-orang baru, percakapan yang mengalir tanpa dibuat-buat, dan perasaan seolah baru saja mampir ke rumah seorang teman lama.(nto)