Laporan wartawan TribunJatim.com, Isya Anshori
TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Pagelaran Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 diadakan di pelataran Candi Tegowangi Kecamatan Plemahan Kabupaten Kediri, Rabu (15/7/2026) malam.
Acara itu juga dihadiri oleh Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana.
Kegiatan budaya tersebut menjadi bagian dari perjalanan spiritual dan kebudayaan yang menghubungkan sejumlah situs bersejarah di Pulau Jawa.
Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 merupakan perjalanan budaya yang mengusung semangat pasabhan atau pertemuan kebudayaan Jawa dan Bali. Dalam rangkaian tersebut, Candi Tegowangi menjadi titik ketiga setelah Banyuwangi dan Kota Batu Malang.
Di setiap lokasi, penyelenggara menampilkan pertunjukan Topeng Sakral Sri Aji Dalem Jawi dan Wayang Wong Tantri Nandaka Harana yang sarat dengan nilai-nilai spiritual, sejarah, dan ajaran moral warisan leluhur.
Mas Dhito, sapaan akrab Bupati Kediri menyampaikan bahwa pagelaran yang diselenggarakan Yayasan Puri Kauhan Ubud tersebut memiliki makna spiritual yang mendalam, khususnya bagi umat Hindu.
Pemerintah Kabupaten Kediri, lanjut Mas Dhito, mendukung penuh penyelenggaraan kegiatan tersebut bersama Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai bentuk komitmen menjaga kerukunan masyarakat yang majemuk.
Baca juga: Yadnya Kasada, 3 Dukun Pandita Dikukuhkan di Pura Luhur Poten, Berasal dari Probolinggo dan Pasuruan
"Tentunya ini bagian dari menjaga toleransi antar umat beragama," katanya.
Menurut Mas Dhito, keberadaan Candi Tegowangi sebagai salah satu situs sejarah menjadi tempat yang tepat untuk mempertemukan berbagai unsur budaya sekaligus memperkuat semangat persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
Ia menilai seni dan budaya mampu menjadi media yang efektif dalam membangun dialog lintas agama maupun lintas generasi tanpa harus menghilangkan nilai-nilai tradisi yang diwariskan para leluhur.
"Pada malam hari ini pluralisme itu hadir betul di Kabupaten Kediri ini," ucap Mas Dhito.
Selain menyuguhkan hiburan, pertunjukan Wayang Wong Tantri Nandaka Harana juga mengandung pesan moral mengenai kebijaksanaan, kepemimpinan, keberanian, hingga kemenangan dharma atas adharma yang masih relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Sementara itu, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Kediri, khususnya Bupati Hanindhito Himawan Pramana, yang telah memfasilitasi penyelenggaraan Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 di Candi Tegowangi.
"Titik ini bukan hanya menjadi tempat yang biasa tetapi adalah titik spiritual peradaban yang sangat penting," terangnya.
Ari menjelaskan, Candi Tegowangi memiliki nilai sejarah yang sangat besar karena memuat ajaran moral yang diwariskan melalui Kidung Sudamala. Kisah tersebut hingga kini masih hidup dan banyak dipentaskan dalam tradisi seni pertunjukan di Bali.
"Cerita Sudamala ternyata bersumber dari apa yang tergambar di candi ini," ungkapnya.
Melalui Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026, Candi Tegowangi kembali menegaskan perannya bukan hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan budaya, spiritualitas, dan toleransi yang mempererat hubungan masyarakat lintas agama, lintas budaya, serta lintas generasi.
Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com