TRIBUNJOGJA.COM- Pernah merasa suasana hati mudah berubah menjelang haid?
Hal-hal kecil yang biasanya tidak terlalu dipikirkan tiba-tiba terasa menyebalka.
Ada yang jadi lebih mudah marah, lebih sensitif saat mendengar ucapan orang lain, atau mendadak ingin menangis tanpa tahu penyebab yang jelas.
Bahkan, tidak sedikit yang merasa emosinya naik turun hanya dalam waktu singkat.
Baru saja tertawa, beberapa saat kemudian sudah merasa sedih atau kesal.
Perubahan suasana hati sebelum menstruasi merupakan hal yang cukup umum dialami banyak perempuan.
Kondisi ini sering dikaitkan dengan Premenstrual Syndrome (PMS), yaitu kumpulan gejala fisik maupun emosional yang muncul beberapa hari hingga sekitar dua minggu sebelum menstruasi dimulai.
Meski sering dianggap sekadar "mood swing", sebenarnya ada proses yang sedang terjadi di dalam tubuh.
Perubahan Hormon Tidak Hanya Memengaruhi Tubuh
Sepanjang siklus menstruasi, tubuh mengalami perubahan kadar hormon, terutama hormon estrogen dan progesteron.
Setelah ovulasi, kadar kedua hormon tersebut akan berubah sebagai bagian dari persiapan tubuh menghadapi kemungkinan kehamilan.
Jika kehamilan tidak terjadi, kadar hormon kemudian menurun menjelang menstruasi.
Perubahan inilah yang dipercaya ikut memengaruhi bagian otak yang mengatur emosi.
Dengan kata lain, bukan berarti seseorang menjadi lebih emosional tanpa alasan.
Tubuh memang sedang mengalami perubahan biologis yang dapat memengaruhi suasana hati, meski tingkat pengaruhnya bisa berbeda pada setiap orang.
Apa Hubungannya dengan Perasaan?
Penelitian menunjukkan bahwa perubahan hormon dapat memengaruhi zat kimia di otak yang disebut serotonin.
Serotonin sering dikaitkan dengan suasana hati, kualitas tidur, nafsu makan, hingga kemampuan seseorang mengelola emosi.
Ketika kadar hormon berubah menjelang menstruasi, kerja serotonin juga dapat ikut terpengaruh.
Akibatnya, sebagian perempuan menjadi lebih sensitif terhadap keadaan di sekitarnya.
Misalnya, komentar yang biasanya dianggap biasa saja bisa terasa lebih menyakitkan.
Tugas yang umumnya mudah diselesaikan mendadak terasa melelahkan. Bahkan, ada yang merasa lebih ingin menyendiri atau kehilangan semangat melakukan aktivitas sehari-hari.
Namun, penting untuk dipahami bahwa setiap orang memiliki respons yang berbeda.
Ada yang hampir tidak merasakan perubahan suasana hati sama sekali, sementara ada pula yang merasakan perubahan emosi cukup jelas setiap bulan.
Sayangnya, perubahan emosi menjelang haid masih sering dianggap berlebihan atau sekadar alasan.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa gejala emosional pada PMS memang benar-benar dapat dirasakan.
Bukan karena seseorang kurang mampu mengendalikan diri, melainkan karena tubuh sedang melalui perubahan hormonal yang memengaruhi cara otak memproses emosi.
Tentu saja, hormon bukan satu-satunya penyebab.
Kondisi seperti stres, kurang tidur, tekanan pekerjaan atau kuliah, hingga kelelahan juga dapat membuat perubahan suasana hati terasa lebih kuat.
Karena itulah, pada bulan-bulan ketika aktivitas sedang padat atau pikiran sedang penuh, gejala PMS sering kali terasa lebih mengganggu dibandingkan biasanya.
Kenapa Ada yang Mengalami PMS Lebih Berat?
Kalau kamu pernah membandingkan pengalamanmu dengan teman, mungkin muncul pertanyaan, "Kok dia biasa saja, sedangkan aku jadi lebih sensitif?"
Ternyata, setiap perempuan memang bisa mengalami gejala PMS yang berbeda-beda.
Hal ini dikarenakan sebagian orang memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap perubahan hormon, bukan karena kadar hormonnya lebih banyak atau lebih sedikit.
Artinya, dua orang bisa mengalami perubahan hormon yang hampir sama, tetapi respons tubuh dan otaknya terhadap perubahan tersebut bisa berbeda.
Itulah sebabnya ada yang hanya merasa sedikit lebih mudah lelah, sementara yang lain menjadi lebih mudah marah, cemas, atau sedih.
Selain itu, faktor lain seperti stres, kurang tidur, pola makan, hingga aktivitas fisik juga dapat memengaruhi seberapa berat gejala PMS yang dirasakan.
Bukan Hanya Emosi, Tubuh Juga Ikut Berubah
PMS tidak hanya berkaitan dengan suasana hati. Banyak perempuan juga merasakan perubahan pada tubuh menjelang menstruasi.
Misalnya, payudara terasa lebih nyeri, perut kembung, muncul jerawat, nafsu makan meningkat, atau tubuh terasa lebih cepat lelah dari biasanya.
Semua gejala tersebut saling berkaitan. Ketika tubuh terasa kurang nyaman, suasana hati pun bisa ikut terpengaruh. Sebaliknya, saat emosi sedang tidak stabil, rasa lelah atau tidak nyaman pada tubuh juga bisa terasa lebih mengganggu.
Karena itu, perubahan fisik dan emosional sebelum haid sering kali muncul bersamaan, bukan sebagai dua kondisi yang terpisah.
Kapan Perubahan Emosi Masih Dianggap Normal?
Merasa lebih sensitif atau mudah tersinggung beberapa hari sebelum haid umumnya masih termasuk hal yang wajar, terutama jika gejalanya membaik setelah menstruasi dimulai.
Namun, ada kondisi yang perlu mendapat perhatian lebih.
Dalam dunia medis, terdapat kondisi yang disebut Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD).
Gejalanya mirip dengan PMS, tetapi intensitasnya jauh lebih berat.
Seseorang dapat mengalami kesedihan yang mendalam, mudah marah, cemas berlebihan, atau kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai.
Meski demikian, PMDD jauh lebih jarang terjadi dibandingkan PMS. Karena itu, tidak semua perubahan emosi sebelum haid mengarah pada kondisi tersebut.
Apa yang Bisa Dilakukan agar PMS Terasa Lebih Ringan?
Walaupun PMS tidak selalu bisa dicegah, ada beberapa kebiasaan yang dapat membantu mengurangi gejalanya.
Emosi Sebelum Haid Bukan Sekadar "Drama"
Perubahan suasana hati sebelum menstruasi sering kali menjadi bahan candaan.
Padahal, apa yang dirasakan banyak perempuan memiliki dasar biologis yang nyata.
Perubahan hormon memang dapat memengaruhi cara otak mengatur emosi. Ditambah dengan faktor seperti stres, kelelahan, atau kurang tidur, perubahan tersebut bisa terasa semakin jelas.
Karena itu, ketika seseorang menjadi lebih mudah marah, sedih, atau sensitif menjelang haid, bukan berarti ia sedang mencari perhatian atau tidak mampu mengendalikan emosinya.
Tubuhnya memang sedang melalui serangkaian perubahan yang dapat memengaruhi kondisi fisik maupun psikologis.
Memahami hal ini dapat membuat seseorang lebih bijak dalam menyikapi perubahan yang terjadi setiap bulan.
(MG Mayumi Cinta Mahesi)