TRIBUNNEWS.COM - Pulau Obi, Halmahera Selatan, kini dikenal sebagai salah satu episentrum hilirisasi nikel di Indonesia.
Kehadiran industri tidak hanya mengubah wajah pulau berukuran 4 kali luas wilayah Singapura tersebut, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Peluang itu ditangkap dengan munculnya usaha-usaha baru yang dikelola warga, mulai dari kelompok UMKM, pemasok bahan pangan, hingga pelaku usaha lokal yang kini menjadi bagian dari rantai ekonomi di sekitar kawasan industri.
Salah satunya ialah Delila Nomor, warga Desa Kawasi. Tujuh tahun lalu, Delila habiskan waktunya menjadi ibu rumah tangga. Ia tidak pernah membayangkan akan memimpin sebuah kelompok usaha yang kini beranggotakan 31 perempuan.
Ia masih ingat, ketika tim community development Harita Nickel mendorongnya mengembangkan produk berbahan lokal yang dapat diolah. Delila memilih membuat abon ikan.
"Saya sebenarnya tidak tahu bikin abon. Tapi saya belajar sendiri. Pokoknya jatuh bangun dari awal," kenangnya.
Perjalanan itu tidak selalu mulus. Produk pertama yang mereka hasilkan bahkan belum memenuhi standar sehingga belum bisa dipasarkan. Delila bersama anggota kelompok terus mencoba. Mereka memperbaiki resep, mempelajari teknik pengolahan, menghitung masa simpan produk, hingga menyempurnakan kemasan.
"Awalnya cuma tahan satu minggu. Terus kami belajar lagi sampai satu bulan, akhirnya bisa enam bulan," ujarnya.
Tidak berhenti di situ, mereka juga belajar mengurus sertifikasi halal, pencatatan usaha, hingga pengelolaan bisnis. Bekal tersebut menjadi fondasi ketika kelompok perempuan Kawasi mulai mengembangkan berbagai produk olahan pangan khas Pulau Obi melalui Kelompok Obi Jaya Mandiri.
Hari ini, kelompok Obi Jaya Mandiri yang dipimpin Delila beranggotakan 31 perempuan. Mereka memproduksi berbagai makanan olahan seperti abon ikan, keripik pisang, sambal, air guraka (jahe), manisan pala, dan berbagai camilan khas lainnya.
Tak berhenti disitu, kelompok ini juga mengelola Nyala Cafe dan Hop Mart, dua unit usaha yang berada di dalam kawasan industri Harita Nickel. Dengan begitu, Delila dan anggota kelompoknya tidak hanya memproduksi makanan, tetapi juga memiliki saluran untuk memasarkan produknya.
Nyala Cafe dikelola oleh 16 anggota UMKM lokal dan menyediakan aneka makanan dan minuman bagi Insan Harita.
Dari kedua unit usaha itu Delila juga belajar bagi para anggotanya untuk mengelola operasional usaha, keuangan, hingga sumber daya manusia.
Pada 2025, Nyala Cafe membukukan omzet sekitar Rp985 juta, sementara Hop Mart mencapai Rp2,7 miliar. Bagi Delila, capaian tersebut menunjukkan bahwa usaha yang dimulai dari kelompok kecil ibu rumah tangga kini mampu berkembang menjadi bisnis yang memberi manfaat bagi banyak orang.
Nyala Cafe dan Hop Mart sendiri mempekerjakan lima karyawan yang seluruhnya dikelola oleh kelompok. Modal usaha berasal dari para anggota dengan nilai investasi yang berbeda-beda sesuai kemampuan masing-masing.
Menariknya, pembagian keuntungan tidak hanya didasarkan pada besarnya modal.
"Yang paling besar justru dilihat dari kehadiran. Kalau ada pesanan rica ayam atau pekerjaan lain, siapa yang aktif bekerja, pembagiannya juga lebih besar," kata Delila.
Mengelola usaha yang melibatkan puluhan orang tentu bukan tanpa tantangan. Perbedaan pendapat hingga rasa iri antaranggota pernah muncul. Namun, menurut Delila, tantangan tersebut menjadi bagian dari proses membangun usaha bersama.
Ia berharap semakin banyak perempuan di Kawasi berani mengambil kesempatan yang sama.
"Mudah-mudahan ibu-ibu yang lain juga mau membuka diri dan bergabung. Memang harus ada kesediaan dan kesabaran untuk belajar."
Jika Delila mewakili tumbuhnya UMKM, Dalfa Jouronga menunjukkan bagaimana peluang ekonomi juga hadir di sisi lain rantai usaha.
Perempuan berusia 28 tahun asal Kawasi itu awalnya hanya ingin membantu ayahnya yang berprofesi sebagai petani. Ketika keluarganya mendapat kesempatan memasok kebutuhan dapur perusahaan, sang ayah sempat ragu karena belum pernah menjalankan usaha seperti itu, Dalfa justru melihat peluang.
"Saya bilang ke bapak, ambil saja. Nanti saya sama kakak yang urus. Bapak cukup kasih modal," katanya.
Sejak saat itu, kesehariannya berubah. Ia mengatur pengadaan buah, sayur, tahu, tempe, dan berbagai kebutuhan pangan lainnya. Sebagian didatangkan dari luar Pulau Obi, sementara komoditas lokal diperoleh dari petani di Soligi dan Waringi.
Hubungan dengan para petani dibangun secara langsung. Ketika ada pesanan, Dalfa menghubungi mereka agar hasil panen dapat dipersiapkan sesuai kebutuhan.
"Kalau ada PO, saya telepon mereka. Mereka sudah tahu kapan harus siapkan barang dan kapan harus diantar," ujarnya.
Dalfa Jouronga sedang berkoordinasi dengan staf catering perihal paket sayur mayur yang disuplai untuk pangan pegawai
Menurut Dalfa, pola tersebut membuat petani memiliki pasar yang lebih pasti untuk sejumlah komoditas lokal. Di sisi lain, ia juga memperoleh pasokan yang lebih dekat dan lebih efisien dibanding harus mendatangkan seluruh kebutuhan dari luar daerah.
Sepanjang 2025, tercatat 67 supplier lokal terlibat dalam memenuhi berbagai kebutuhan operasional perusahaan dengan total nilai transaksi mencapai sekitar Rp169 miliar. Kehadiran para supplier tersebut ikut menghubungkan hasil pertanian masyarakat dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Kini, usaha keluarganya terus berkembang. Dari yang semula menyewa kendaraan operasional, kini mereka telah memiliki armada sendiri untuk mendukung distribusi barang.
"Saya jadi belajar bisnis, belajar mengatur keuangan, belajar berhubungan dengan petani. Saya juga jadi punya lebih banyak kenalan” pungkasnya.
Baca juga: Harita Nickel dan Masyarakat Kawasi Perkuat Kolaborasi Jaga Warisan Budaya Pulau Obi
Kisah Delila dan Dalfa menunjukkan bahwa dampak ekonomi di Pulau Obi tidak berhenti pada terciptanya lapangan kerja di sektor industri. Di sekitarnya, tumbuh pula ekosistem usaha yang melibatkan kelompok perempuan, petani, pelaku UMKM, hingga supplier lokal.
Pendekatan tersebut berkembang melalui program pengembangan ekonomi masyarakat yang tidak hanya berfokus pada bantuan modal, tetapi juga peningkatan kapasitas pelaku usaha, pendampingan bisnis, penyediaan fasilitas produksi, hingga pembukaan akses pasar. Selain Nyala Cafe dan Hop Mart, berbagai unit usaha lain seperti Obi Snack, RUTE (Rumah Usaha Tangguh Ekonomi), dan PROSA (Project Rasa) juga berkembang di Pulau Obi. Sepanjang 2025, keseluruhan UMKM tersebut membukukan total omzet sekitar Rp5,6 miliar.
Di tengah pesatnya hilirisasi nikel, angka-angka tersebut menjadi penanda bahwa pertumbuhan ekonomi di Pulau Obi tidak hanya terjadi di dalam kawasan industri. Ia juga tumbuh di dapur-dapur rumah warga, di kebun para petani, dan di tangan perempuan-perempuan seperti Delila serta Dalfa yang melihat perubahan sebagai peluang untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Baca juga: Program PELITA Harita Nickel Berdayakan Pemuda Pulau Obi Jadi Operator Bersertifikat