TRIBUNJOGJA.COM - Unta dikenal sebagai salah satu hewan paling tangguh di dunia.
Hidup di gurun yang panas dan minim air membuat banyak orang percaya punuk di punggungnya berfungsi sebagai tempat menyimpan cadangan air.
Anggapan ini sudah sangat populer sejak lama, bahkan sering muncul di buku pelajaran maupun film.
Padahal, punuk unta sama sekali tidak berisi air.
Punuknya dipenuhi jaringan lemak yang berfungsi sebagai cadangan energi saat makanan sulit ditemukan.
Lemak yang tersimpan bisa mencapai sekitar 36 kilogram.
Karena terus dipakai, ukuran punuk bisa mengecil, mengempis, bahkan terkadang terlihat miring ke salah satu sisi.
Setelah unta kembali mendapatkan cukup makanan, punuknya akan kembali tegak.
Saat lemak tersebut diubah menjadi energi, tubuh memang menghasilkan sedikit air sebagai produk sampingan proses metabolisme.
Namun, jumlah air yang dihasilkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Bahkan, proses pembakaran lemak juga meningkatkan laju pernapasan sehingga sebagian air kembali hilang melalui uap yang keluar dari paru-paru.
Rahasianya Ada di Seluruh Tubuh Unta
Kemampuan unta bertahan tanpa minum ternyata berasal dari berbagai adaptasi tubuh yang bekerja secara bersamaan.
Salah satunya adalah bentuk sel darah merah yang berbeda dari kebanyakan mamalia.
Jika sel darah merah manusia berbentuk bulat pipih, sel darah merah unta berbentuk oval.
Bentuk ini membuat darah tetap mengalir lancar meski tubuh mengalami dehidrasi berat.
Selain itu, sel darah merah tersebut juga sangat elastis sehingga mampu menahan perubahan volume secara ekstrem ketika unta minum air dalam jumlah besar sekaligus.
Dalam kondisi sangat haus, seekor unta bahkan mampu meminum lebih dari 100 liter air hanya dalam beberapa menit tanpa merusak sel darahnya.
Ginjal dan Hidung Ikut Menghemat Air
Adaptasi lain juga terjadi pada sistem ekskresi.
Ginjal unta bekerja sangat efisien sehingga menghasilkan urine yang sangat pekat.
Kotorannya pun sangat kering, bahkan masyarakat gurun sejak lama memanfaatkannya sebagai bahan bakar.
Sementara itu, hidung unta memiliki kemampuan menyerap kembali sebagian uap air dari udara yang diembuskan.
Saat bernapas, udara yang keluar akan didinginkan di dalam rongga hidung sehingga sebagian besar uap air mengembun dan diserap kembali oleh tubuh.
Mekanisme ini membantu mengurangi kehilangan cairan selama berada di lingkungan yang sangat kering.
Punuk Justru Membantu Mengurangi Panas
Selain menjadi cadangan energi, punuk juga berperan membantu mengatur suhu tubuh.
Karena lemak terkumpul di satu bagian tubuh, sebagian besar permukaan tubuh unta tidak tertutup lapisan lemak tebal.
Akibatnya, panas lebih mudah dilepaskan ke lingkungan dibanding jika lemak tersebar merata di bawah kulit seperti pada banyak mamalia lain.
Unta juga tidak mudah berkeringat.
Hewan ini baru mulai mengeluarkan keringat ketika suhu tubuhnya mencapai sekitar 41 derajat Celsius, jauh lebih tinggi dibanding manusia.
Dengan begitu, cairan tubuh dapat dihemat lebih lama.
Kenapa Mitos Ini Terus Bertahan?
Mitos bahwa punuk unta berisi air sebenarnya terdengar masuk akal.
Unta hidup di gurun yang sangat kering dan mampu bertahan lama tanpa minum.
Banyak orang kemudian menyimpulkan bahwa hewan ini pasti membawa persediaan air di dalam tubuhnya.
Rahasia ketahanan unta justru terletak pada kombinasi cadangan energi, bentuk sel darah merah yang unik, ginjal yang sangat efisien, sistem pernapasan yang mampu menghemat air, serta kemampuan tubuhnya mengatur suhu dengan sangat baik.
Fakta ini jadi pengingat sederhana, sesuatu yang terlihat masuk akal belum tentu benar sebelum dicek lewat sains.
(MG Farhatiy Rijal)