TRIBUNBATAM.id - Sebuah fakta baru terungkap dari tragedi tewasnya seorang pemuda berinisial AL (27).
Ia nekat mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 12 Apartemen Skyview Setia Budi, Kota Medan, pada Jumat (10/7/2026).
Insiden tragis ini menyisakan kedukaan mendalam sekaligus keterkejutan bagi keluarga dan kerabat terdekat korban.
Kesedihan bertambah karena pemuda 27 tahun tersebut baru saja mewujudkan cita-citanya menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Kabupaten Nias.
Status korban sebagai abdi negara baru tersebut dikonfirmasi oleh Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Adrian Risky Lubis.
"Iya (baru diangkat jadi PNS)," kata Adrian singkat saat memimpin paparan kasus di Mapolrestabes Medan, Rabu (15/7/2026).
Penyelidikan kepolisian mengungkap bahwa AL baru menginjakkan kaki di Kota Medan sehari sebelum peristiwa naas itu terjadi.
Kedatangannya jauh-jauh dari Pulau Nias ke ibu kota Sumatra Utara tersebut membawa misi penting, yakni mengurus berkas administrasi kelulusannya.
"Korban datang dari Nias ke Medan mau ngambil SK (sertifikasi) sebagai pegawai," ungkap Adrian mendalam.
Namun, kenyataan pahit menanti. Baru saja tiba untuk menjemput bukti kelulusannya sebagai pegawai negeri, AL justru terjerat skenario pemerasan yang membuatnya frustrasi hingga mengambil keputusan fatal.
Depresi Akibat Diintimidasi dan Diperas Rp 4,5 Juta
Satreskrim Polrestabes Medan memastikan bahwa AL murni melakukan tindakan bunuh diri dengan melompat dari balkon kamar lantai 12.
Aksi nekat tersebut dipicu oleh rasa takut, panik, dan tekanan psikologis hebat setelah korban disudutkan oleh dua wanita teman kencan yang ia sewa, yakni JS dan FR.
Ketegangan bermula di dalam kamar saat kedua pelaku meminta tarif tambahan secara sepihak sebesar Rp 4,5 juta setelah memberikan layanan seks ekstra.
Karena tidak ada kesepakatan mengenai biaya tambahan sejak awal, korban menolak membayar dan merasa diperas, yang kemudian berujung pada intimidasi psikis oleh kedua pelaku.
"Jadi karena tidak ada perjanjian, pelaku ini meminta biaya yang cukup besar sekitar Rp 4,5 juta. Kedua pelaku sampai mendesak korban untuk menunjukkan saldo di rekeningnya," jelas Adrian.
Dalam kondisi terdesak di ruang apartemen yang sempit, korban yang panik sempat mengancam akan melompat dari balkon jika pemerasan tersebut tidak dihentikan.
Sayangnya, ancaman tersebut justru ditantang balik oleh kedua pelaku, hingga akhirnya AL benar-benar melompat dari lantai 12 dan tubuhnya terhempas ke area bawah apartemen.
Baca juga: Tampang 2 Wanita Pemicu ASN Lompat dari Lantai 12 di Medan, Polisi Ungkap Penyebab Kaki Korban Putus
Dua Pelaku Sempat Kabur Sebelum Ditangkap
Usai melihat AL terjun bebas, JS dan FR langsung melarikan diri dari kamar apartemen, meninggalkan korban yang sudah tak bernyawa di area parkir.
Pelarian mereka berakhir setelah personel kepolisian meringkus keduanya di dua lokasi berbeda.
Tersangka FR ditangkap di kawasan Bandar Baru, Deli Serdang, sedangkan tersangka JS diamankan di area Ringroad, Kota Medan.
Kini keduanya mendekam di sel tahanan Polrestabes Medan.
Kronologi Kejadian
Latar belakang kematian tragis ASN ATR/BPN Kabupaten Nias pada Jumat (10/7/2026) lalu akhirnya dibeberkan secara rinci oleh pihak kepolisian.
Berdasarkan hasil interogasi dan penyelidikan mendalam, Satreskrim Polrestabes Medan menemukan bukti kuat bahwa korban melompat karena tekanan yang luar biasa.
"Nah ini yang menjadi perhatian terkait penyebab korban jatuh, jadi korban ini terdesak sampai akhirnya melompat dari lantai 12 apartemen," ujar Adrian, saat paparan di Polrestabes Medan, Rabu (15/7/2026).
Sebelum insiden itu terjadi, korban diketahui memesan jasa wanita panggilan melalui aplikasi kencan.
Korban awalnya berkomunikasi secara intens dengan wanita berinisial FR hingga keduanya sepakat untuk bertemu di apartemen pada Jumat (10/7/2026) sekitar pukul 03.30 WIB.
Ketika tiba di lokasi sekitar pukul 04.20 WIB, FR ternyata tidak datang sendiri melainkan mengajak temannya, JS.
"Awalnya korban berkomunikasi dengan tersangka FR, namun sesampainya di apartemen FR ini membawa temannya berinisial JS yang juga sudah ditetapkan sebagai tersangka," katanya.
Mendapat kabar bahwa wanita pesonannya telah tiba, korban turun menggunakan lift untuk menjemput mereka.
Ketiganya kemudian bersama-sama naik kembali ke lantai 12 dan masuk ke kamar nomor 26 yang disewa korban.
Di dalam kamar, AL sempat melayangkan protes karena wajah asli FR tidak sesuai dengan foto yang ada di aplikasi kencan.
Karena merasa tertipu, korban membatalkan pesanan terhadap FR dan memilih untuk berhubungan badan dengan JS.
"Di situ karena batal, FR meminta uang pembatalan sebesar Rp 400 ribu dari perjanjian awal Rp 850 ribu. Dan si korban billing ke pelaku FR, dia mau berhubungan dengan temannya dengan perjanjian biaya juga sebesar Rp 850 ribu," katanya.
Setelah menerima uang pembatalan tersebut, FR keluar kamar dan membiarkan JS bersama korban di dalam.
Usai berhubungan intim selama kurang lebih 10 menit, korban meminta layanan tambahan kepada JS.
"Karena belum puas, korban meminta layanan tambahan kepada JS. Tapi di situ tidak ada perjanjian biaya tambahan," ucapnya.
Begitu layanan tambahan selesai diberikan, JS keluar dari kamar lalu mengajak FR untuk masuk kembali bersama-sama.
Mereka berdua kemudian menagih uang sebesar Rp 4,5 juta karena menilai layanan ekstra tersebut di luar dari tarif awal.
Korban langsung menolak tuntutan tersebut lantaran nominalnya yang terlampau besar dan menyatakan dirinya sudah tidak memegang uang lagi.
Tidak puas dengan jawaban korban, kedua pelaku terus menekan korban dan memaksanya memperlihatkan sisa saldo di rekening tabungannya.
"Jadi karena tidak ada perjanjian, pelaku ini meminta biaya yang cukup besar sekitar Rp 4,5 juta. Kedua pelaku sampai mendesak korban untuk menunjukkan saldo di rekeningnya," ucapnya.
Merasa ruang geraknya terkunci dan terus diintimidasi, korban mengancam akan melompat dari apartemen jika desakan pembayaran itu tidak dihentikan. Namun, kedua pelaku justru menantang ancaman tersebut.
"Jadi korban sempat ngancam mau lompat kalau terus didesak. Terus dibilang pelaku, yasudah kalau kau mau lompat. Akhirnya karena sudah semakin terdesak, korban akhinya lompat dari lantai 12 apartemen itu," ungkapnya.
Ruangan yang sempit membuat korban terdesak hingga ke area balkon luar dan akhirnya nekat melompat dari lantai 12 hingga tewas di tempat.
Melihat korban melompat, kedua pelaku segera meninggalkan lokasi kejadian sebelum akhirnya berhasil diendus dan ditangkap polisi di dua tempat terpisah.
(TribunBatam.id)