Eri Cahyadi Pastikan Pembangunan Flyover Taman Pelangi Surabaya Mulai Dikerjakan 2026
Titis Jati Permata July 16, 2026 03:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memastikan pembangunan Flyover Taman Pelangi ditargetkan mulai dikerjakan pada 2026. 

Proyek yang menjadi kewenangan pemerintah pusat tersebut kini memasuki tahap pematangan bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kota Surabaya.

Cak Eri mengatakan, komunikasi intensif terus dilakukan untuk menyelaraskan desain dan tahapan pelaksanaan pembangunan. 

Nantinya, Flyover tersebut menjadi salah satu infrastruktur pendukung pengembangan jalur kereta ganda (double track) sekaligus proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) yang menghubungkan Surabaya dan Sidoarjo.

Baca juga: Deretan Proyek Infrastruktur di Jatim, Fly Over Taman Pelangi Disupport KemenPU Tahun 2027

"Fly over sampai pertengahan tahun sudah dapat informasi insyaallah dikerjakan waktu dekat sama kementerian. Insyaallah tahun ini begitu," kata Wali Kota Eri ketika dikonfirmasi SURYA.co.id, di Surabaya, Kamis (16/7/2026).

Bebaskan 29 Persil Lahan

Terkait persiapan pembangunan Flyover tersebut, Pemkot Surabaya telah membebaskan 29 persil lahan tahun lalu dengan total anggaran sekitar Rp 81 miliar. 

Melintas sepanjang 400 meter dari Jalan Ahmad Yani menuju Jalan Jemur Andayani, anggaran pembangunan flyover tersebut diperkirakan akan mencapai Rp 355 miliar melalui anggaran pemerintah pusat.

Menurutnya, proses pembagunan akan berlangsung hingga tahun depan. 

"Karena kan multi years itu. Untuk desainnya nanti kita koordinasi lagi ya. Kalau kata teman-teman PU sudah," kata mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini. 

Kurangi Hambatan Lalu Lintas

Pembangunan flyover menjadi bagian dari upaya mengurangi hambatan lalu lintas di kawasan Taman Pelangi yang selama ini menjadi salah satu perlintasan sebidang paling padat di Surabaya. 

Kehadiran flyover juga akan mendukung kelancaran operasional kereta setelah jalur ganda dan elektrifikasi yang rencananya akan dikerjakan setelah flyover selesai.

Jelang pembangunan, Pemkot Surabaya, masih akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat maupun Pemprov Jatim. Sehingga, proses pembangunan flyover berjalan selaras dengan proyek perkeretaapian yang tengah disiapkan.

Pembangunan Flyover Prioritas Pemerintah Pusat

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menjelaskan, kawasan perlintasan sebidang di Taman Pelangi menjadi perhatian pihaknya dalam rencana proyek double track maupun SRRL. 

Perlintasan sebidang di lokasi itu dinilai berpotensi menjadi hambatan lalu lintas seperti kemacetan ketika proyek transportasi dimulai.

Karenanya, pembangunan flyover diprioritaskan oleh pemerintah pusat. 

Selain Taman Pelangi, kawasan Juanda, Wonokromo, Jagir hingga Ahmad Yani juga masuk pembahasan karena diperkirakan mengalami peningkatan kepadatan lalu lintas setelah proyek beroperasi.

“Wonokromo tanpa proyek ini pun sebenarnya sudah menjadi bottleneck. Dari frontage yang semula delapan lajur kemudian menyempit menjadi dua lajur. Dengan adanya SRRL tentu harus diantisipasi lebih lanjut,” kata Wagub Emil sebelumnya. 

Terkait rencana SRRL dan double track tersebut, Pemerintah Provinsi telah menggelar High Level Meeting. Pertemuan tersebut diikuti pejabat eselon I kementerian terkait, PT KAI, BPKP, pemerintah daerah, hingga tim konsultan yang sedang menyusun desain teknis proyek.

Tantangan Teknis Pembangunan

Wakil Gubernur mengungkapkan, penyusunan desain proyek menghadapi sejumlah tantangan teknis. 

Selain kebutuhan lahan, kawasan depo eksisting di Sidotopo masih memiliki persoalan status lahan dan keberadaan warga yang tinggal di lokasi tersebut.

Karena itu, seluruh pihak sepakat mengoptimalkan aset lahan yang sudah tersedia sebelum mempertimbangkan alternatif lain. "Setiap pembangunan kereta membutuhkan depo dan itu memerlukan lahan yang luas. Tadi disepakati kita optimalkan dulu tanah yang ada. Untuk persoalan status tanah akan dilihat lebih lanjut melalui mekanisme reforma agraria," katanya.

Emil menegaskan penyelesaian persoalan lahan juga harus memperhatikan aspek sosial. "Saya sampaikan kepada Bu Gubernur, saya dan Pak Wali Kota Surabaya sama-sama harus memikirkan nasib warga yang ada di situ juga. Jadi tidak sekadar bicara alasan teknis saja," tegasnya.

Pemprov Jatim bersama seluruh pemangku kepentingan menargetkan desain rinci proyek SRRL selesai pada awal 2027 sebagai acuan pelaksanaan konstruksi. 

Adapun fase pertama pembangunan akan membentang dari Sidoarjo hingga Stasiun Gubeng Surabaya dengan nilai investasi sekitar 230 juta euro. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.