Menteri Amran, Rektor USK dan Cerita Fikar W Eda tentang Sengkewe
Mawaddatul Husna July 16, 2026 03:54 PM

Oleh: Risman Rachman *)

Ketika Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berdiri diantara barisan bibit kopi Rimba Raya, Selasa (14/7/2026), dan menyebut angka Rp 4 triliun serta janji Rp 30 juta sebulan untuk keluarga petani.

Kamera-kamera menangkap sesuatu yang layak disyukuri: pejabat negara yang turun langsung ke kebun, kebun yang hijau, dan harapan konkret bagi petani dataran tinggi Gayo.

Tapi di balik angka-angka yang menggembirakan itu, ada kisah lain yang tak kalah layak diceritakan.

Kisah yang menunjukkan bahwa kemajuan kopi Gayo hari ini adalah hasil kerja banyak tangan, teristimewa tangan para perempuan. 

Lima hari lalu, cerita tentang jejak kopi dan peran perempuan itu berlangsung di ruang kerja Rektor Universitas Syiah Kuala Prof Mirza Tabrani saat berlangsung silaturahmi dengan seniman Fikar W Eda, Herman RN, Devie, yang ditemani Wina Sanusi Wahab.

Cerita itu mengalir di antara wangi kopi dari cangkir-cangkir di atas meja. 

Fikar membawa satu pengayaan penting terhadap narasi yang selama ini dianggap baku: bahwa kopi Gayo lahir dari tangan kolonial.

Ia merujuk catatan lama, jauh sebelum Belanda menaklukkan Tanah Gayo lewat perang di penghujung abad ke-19, pohon kopi sudah lebih dulu tumbuh di sana.

Orang Gayo Menyebutnya Sengkewe

Orang Gayo, kata Fikar, menyebutnya Sengkewe, ditanam sebagai pagar halaman, dan yang diseduh bukan bijinya melainkan daunnya, dicampur gula aren, dalam tradisi yang dikenal sebagai kopi kertog.

Kedekatan itu bahkan terekam dalam mantra penyerbukan yang masih hidup dalam ingatan lisan sebagian masyarakat Gayo rangkaian kata yang oleh Fikar tidak dibaca sebagai mistisisme belaka, melainkan sains lokal yang dibungkus puisi: catatan leluhur tentang bagaimana angin, air, tanah, dan matahari bekerja sama dalam proses penyerbukan.

Ada satu fakta lagi yang layak diberi tempat lebih besar di setiap cerita tentang kopi Gayo: delapan puluh persen dari seluruh rantai produksi, dari merawat pohon di kebun hingga tawar-menawar dengan toke, digerakkan oleh tangan perempuan.

Merekalah yang memetik, menjemur, menimbang, dan berhitung harga pondasi yang selama ini menopang kesuksesan yang kini dirayakan bersama.

Pembeli global, menurut Fikar, sesungguhnya tidak hanya jatuh cinta pada rasa yang tersaji di cangkir, melainkan pada kisah kemanusiaan yang menempel diam-diam di setiap bijinya kisah yang kini semakin layak diangkat sebagai bagian dari nilai jual kopi Gayo ke dunia.

Cerita akar dan mantra itu punya pasangannya yang tak kalah menarik: kerja di batang.

Prof Mirza menjawab pesona sejarah yang baru saja dipaparkan dengan semangat yang sama-sama membangun, hanya dari sisi yang lebih teknis.

Target produksinya dua juta bibit unggul, sebuah ikhtiar besar yang sejalan dengan semangat hilirisasi yang didorong Menteri Amran.

Salah satu tantangan yang tengah ditangani serius oleh USK adalah memastikan setiap bibit unggul, seperti varietas Gayo 1 dan Gayo 2, benar-benar tertelusur silsilahnya sejak dari pohon induk resmi melalui metode sambung atau grafting.

Ini pekerjaan yang membutuhkan ketelitian ekstra, dan justru di titik inilah kehadiran kampus menjadi pelengkap yang pas bagi program besar pemerintah pusat: memastikan kuantitas bibit yang digalakkan Kementan tumbuh beriringan dengan kualitas genetik yang terjaga.

Untuk itu, tim USK kini bergerak melakukan survei fisik di Bener Meriah dan Gayo Lues, memetakan bibit-bibit yang benar-benar murni dari jalur genetik resmi kerja yang mungkin tidak seheboh sorotan kunjungan menteri.

Tapi menjadi bagian penting dari fondasi jangka panjang yang menopang keberhasilan program hilirisasi kopi Gayo.

Kesiapan USK menangani persoalan semacam ini sebenarnya bukan barang baru.

Kampus ini punya rekam jejak menangani tantangan serupa pada komoditas lain, dan pola kerjanya selalu sama: turun ke lapangan, teliti, baru bertindak.

Awal Juli lalu, tim Fakultas Pertanian USK yang dipimpin Guru Besar Prof Dr Ir Rina Sriwati mendampingi panen perdana bawang merah di Desa Meunasah Teungoh, Pidie Jaya lahan yang sebelumnya tertimbun material banjir setebal 30 sentimeter. 

Alih-alih dianggap lahan mati, tanah timbunan itu justru diuji di laboratorium: kandungan nitrogen, fosfor, kalium, dan unsur hara lain diperiksa satu per satu sebelum ditentukan formula pupuknya.

"Pemupukan harus berdasarkan hasil analisis tanah, bukan sekadar perkiraan," kata Prof Rina.

Hasilnya, bawang merah bisa tumbuh subur di lahan yang tadinya dianggap rusak, dan model ini disebutnya berpotensi menjadi pilot project nasional untuk memulihkan lahan pertanian pascabencana di daerah lain.

Cerita bawang merah di Pidie Jaya dan cerita pemurnian bibit kopi Gayo di Bener Meriah sebenarnya satu keluarga besar yang sama.

Kekuatan USK bukan cuma pada satu komoditas unggulan, melainkan pada daya dukung sumber daya manusia guru besar, peneliti, laboratorium yang bisa dipindahkan dari satu persoalan pertanian ke persoalan lainnya. 

Modal itulah yang menjadi jaminan berharga bahwa janji replanting dua juta bibit kopi, yang sejalan dengan visi hilirisasi Menteri Amran, dikawal dengan kerja ilmiah yang teliti, seperti yang telah dibuktikan Prof Rina di sawah berpasir Pidie Jaya.

Prof Mirza sendiri tidak berhenti pada kerja teknis itu. Dengan naluri bisnis yang tak ia sembunyikan, ia melihat kekayaan cerita sejarah dan kekuatan para seniman yang baru saja terungkap sebagai peluang besar yang layak dirawat bersama, sejalan dengan uap kopi yang masih hangat di mejanya.

"Saya kan otak saya bisnis. Bagi saya, ini semua produk emas," katanya—kalimat yang mencerminkan optimisme seorang rektor yang ingin kampusnya menjadi mitra aktif bagi kemajuan daerah.

Dari sanalah tercetus gagasan USK Arts and Cultural Festival.

Sebuah panggung yang mengawinkan sains, seni, komoditas, dan industri kreatif sekaligus, dirancang sebagai economic leverage yang mengundang eksposur dan modal internasional masuk ke Aceh.

Tentu dengan kemungkinan membuka jalur komunikasi ke Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya yang portofolionya bersinggungan langsung dengan agenda semacam ini.

Dua panggung yang berjarak lima hari itu meja rektor yang penuh cangkir kopi dan kebun pembibitan yang dikunjungi menteri sebenarnya sedang bicara tentang hal yang sama dari dua arah yang saling melengkapi. 

Amran menjanjikan hilirisasi dan ekspor yang menggetarkan dunia lewat angka-angka besar dan dukungan nyata dari pemerintah pusat.

USK menopangnya dengan sains yang menjaga silsilah genetik tetap terjaga, dan dengan cerita kebudayaan yang selama ini tersimpan diam-diam di tangan perempuan pemetik dan mantra Sengkewe yang diwariskan leluhur.

Mantra itu sendiri mengajarkan bahwa penyerbukan hanya berhasil kalau angin, air, tanah, dan matahari saling menjaga keseimbangan.

Barangkali begitu pula hilirisasi kopi Gayo hari ini: ia tumbuh sehat karena kebijakan pemerintah pusat, sains genetik kampus, dan cerita kebudayaan yang mengakar dirawat bersamaan.

Serta dukungan Pemerintah Daerah sebuah kolaborasi yang patut diapresiasi semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Rombongan menteri memang sudah kembali ke Jakarta, membawa optimisme baru bagi petani Gayo.

Yang tersisa di dataran tinggi itu adalah kerja lanjutan tim USK memetakan akar yang benar, dan cerita-cerita yang kini semakin layak didengar tentang perempuan yang menopang rantai produksi.

Tentang daun yang pernah diseduh sebelum bijinya dikenal dunia, dan tentang mantra yang, jika didengar dengan telinga yang tepat, sebenarnya sudah lama mengajarkan apa yang sekarang disebut orang sebagai keberlanjutan. 

Siapa tahu, ketika cerita tentang kopi dan perempuan pemetik ini sampai ke Menteri Amran dan Menteri Riefky Harsya, jalan kopi menjadi jalan kebudayaan sekaligus jalan ekonomi yang saling menopang kemajuan Aceh sewangi kopi Gayo.

*) Penulis adalah Penikmat Kopi, tinggal di episentrum kopi, Ulee Kareng, Banda Aceh.

Baca juga: Teater Tudung Payung Hidupkan Ritme Kopi dalam Sengkewe Sepanjang Musim

Baca juga: Sengkewe Sepanjang Musim: Teater Puisi di Tengah Reruntuhan, Cahaya dari Taman Kota Takengon

Baca juga: Empat Tokoh Budaya Tanah Gayo Ini jadi Pemeran Pertunjukan Sengkewe Sepanjang Musim

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.