Cetak Sejarah, Kampus Papua Jaring Mahasiswa dari 5 Kampung Papua Nugini
Marius Frisson Yewun July 16, 2026 04:14 PM

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Yulianus Magai

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Universitas Internasional Papua (International University of Papua/IUP) resmi meluncurkan IUP International Bridging Programme atau Program Jembatan Internasional bersama lima kampung mitra di pesisir barat Vanimo, Papua Nugini (PNG), yakni Wutung, Musu, Yako, Waromo dan Vanimo (Lido).

Peluncuran program ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berlangsung di kawasan perbatasan Indonesia–Papua Nugini, Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, Kamis (16/7/2026).

Program ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kerja sama pendidikan tinggi lintas negara, sekaligus membuka akses pendidikan internasional bagi masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia dan Papua Nugini. Selain itu, program tersebut diharapkan mampu mempererat hubungan sosial, budaya, dan persaudaraan masyarakat kedua negara melalui jalur pendidikan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIV Tanah Papua, Dr. Suriel Samuel Mofu, S.Pd., M.Ed., TEFL., M.Phil. (Oxon), pimpinan Universitas Internasional Papua, perwakilan Yayasan Mamberamo Edukasi Papua, tokoh masyarakat, serta para kepala kampung dari lima wilayah mitra di Papua Nugini.

Baca juga: Tekan Piutang Daerah, Biak Numfor Luncurkan Inovasi KAMAM-KAMI

Usai kegiatan, Kepala LLDIKTI Wilayah XIV Tanah Papua, Dr. Suriel Samuel Mofu mengatakan penandatanganan kerja sama tersebut merupakan momentum bersejarah dalam dunia pendidikan tinggi, khususnya bagi Tanah Papua.

Menurutnya, untuk pertama kalinya sebuah perguruan tinggi di Tanah Papua membangun kerja sama langsung dengan lima kampung di Papua Nugini dalam bentuk program pendidikan internasional yang berkelanjutan.

"Hari ini kita menyaksikan bersama penandatanganan kerja sama antara Universitas Internasional Papua dengan lima kampung di Papua Nugini. Ini merupakan sejarah baru dalam dunia pendidikan tinggi, khususnya hubungan kerja sama antara Indonesia dan Papua Nugini melalui perguruan tinggi," kata Suriel kepada Tribun-Papua.com

Ia menjelaskan, kerja sama tersebut bukan sekadar hubungan antarlembaga pendidikan, tetapi merupakan implementasi nyata dari hubungan diplomatik yang telah lama dibangun oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Papua Nugini.

Baca juga: Biak Numfor Luncurkan Samom Mambruk Guna Hapus Birokrasi Kertas

Menurut Suriel, dunia pendidikan memiliki peran strategis untuk menerjemahkan kerja sama antarnegara menjadi program nyata yang langsung dirasakan masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan.

"Apa yang dilakukan Universitas Internasional Papua hari ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama besar antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Papua Nugini. Kini kerja sama itu diterjemahkan ke tingkat perguruan tinggi sehingga manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat," ujarnya.

Ia mengatakan, selama ini kerja sama Indonesia dan Papua Nugini lebih banyak dikenal melalui bidang ekonomi, keamanan, perdagangan, maupun hubungan diplomatik. Namun kini pendidikan tinggi mulai mengambil peran penting sebagai jembatan yang mempererat hubungan kedua negara.

Suriel mengaku bangga karena perguruan tinggi di Tanah Papua mampu menjadi pelopor dalam membangun kerja sama internasional yang berbasis masyarakat.

Menurutnya, meskipun jumlah mahasiswa yang akan mengikuti program tersebut pada tahap awal belum terlalu banyak, namun nilai strategisnya sangat besar bagi perkembangan pendidikan tinggi di Papua.

Baca juga: Siasat Biak Numfor Pertebal Kantong Fiskal Lewat Optimalisasi Aset dan Lelang

"Mungkin orang melihat jumlah mahasiswa yang akan diterima masih sedikit. Tetapi sesungguhnya ini adalah langkah yang sangat besar karena pendidikan tinggi di Tanah Papua kini sudah benar-benar masuk ke tingkat internasional," katanya.

Ia mengungkapkan, saat ini telah dipersiapkan sekitar 45 mahasiswa yang akan mengikuti program tersebut.

Melalui program itu, mahasiswa asal Papua Nugini akan memperoleh kesempatan belajar menggunakan sistem pendidikan tinggi Indonesia, meningkatkan kemampuan akademik, mengembangkan keterampilan bahasa Inggris, serta membangun pengalaman belajar dalam lingkungan multikultural.

Menurut Suriel, pengalaman tersebut akan menjadi bekal penting ketika para mahasiswa kembali membangun daerah asal mereka di Papua Nugini.

"Mereka akan belajar menggunakan sistem pendidikan Indonesia. Setelah menyelesaikan studi, mereka kembali dengan pengalaman baru, pengetahuan baru, serta kemampuan yang lebih baik untuk membangun masyarakatnya," katanya.

Baca juga: Pangkas Jarak Medis, TSE Pasok Obat Gratis di Pedalaman Papua Selatan

Lebih lanjut Suriel mengatakan, kedekatan geografis antara Jayapura dan wilayah perbatasan Papua Nugini menjadi salah satu alasan utama dipilihnya lima kampung tersebut sebagai lokasi awal pelaksanaan program.

Mobilitas masyarakat yang relatif mudah membuat proses pendidikan dan pertukaran mahasiswa menjadi lebih efektif.

"Jayapura berbatasan langsung dengan Papua Nugini sehingga akses masyarakat sangat mudah. Karena itu kita memulai dari lima kampung ini terlebih dahulu. Ke depan saya berharap kerja sama seperti ini dapat berkembang ke wilayah lain di Papua Nugini bahkan negara-negara Pasifik," ujarnya.

Suriel menambahkan, program tersebut juga menjadi bukti bahwa perguruan tinggi swasta di Tanah Papua mampu bersaing dan menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan di tingkat internasional.

Ia berharap keberhasilan Universitas Internasional Papua dapat menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi lain yang berada di bawah pembinaan LLDIKTI Wilayah XIV.

Saat ini, LLDIKTI Wilayah XIV membina 78 perguruan tinggi swasta yang tersebar di enam provinsi di Tanah Papua, yakni Papua, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Pegunungan, Papua Barat, dan Papua Barat Daya.

Menurutnya, seluruh perguruan tinggi memiliki kesempatan yang sama untuk membangun jejaring internasional sesuai potensi yang dimiliki masing-masing.

Baca juga: Kagumi Gol Menit Akhir Messi Cs Tekuk Inggris 2-1, Kapolda Papua Tengah Optimis Argentina Juara

 "Saya berharap kerja sama seperti ini tidak berhenti di sini. Perguruan tinggi lain juga harus mulai membangun kolaborasi internasional sehingga kualitas pendidikan tinggi di Tanah Papua terus meningkat," katanya.

Suriel juga memberikan apresiasi kepada Yayasan Mamberamo Edukasi Papua dan Universitas Internasional Papua yang telah berinisiatif membangun kerja sama tersebut.

Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk yayasan pendidikan, perguruan tinggi, tokoh adat, pemerintah daerah, hingga masyarakat di wilayah perbatasan.

"Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Karena itu semua pihak harus bekerja sama membangun kolaborasi yang kuat, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Dengan cara itu kita dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia Papua agar mampu bersaing secara global," jelasnya.

Ia berharap Program Jembatan Internasional IUP menjadi awal lahirnya berbagai bentuk kerja sama pendidikan lainnya yang melibatkan masyarakat perbatasan Indonesia dan Papua Nugini.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Jayapura Besok, Jumat 17 Juli 2026: Jayapura Utara dan Abepura Cerah

"Melalui pendidikan kita membangun persaudaraan, menjaga perdamaian, menjaga manusia, dan menjaga tanah ini agar tetap menjadi tempat yang membawa kesejahteraan bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang. Saya mengucapkan selamat kepada Universitas Internasional Papua atas lahirnya program ini, semoga terus berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat di kedua negara," pungkasnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.