POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Sektor pertambangan timah telah lama menjadi penghidupan masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Namun di hari ini, tersimpan jeritan sosial dari para pekerjanya.
Kesunyian dan kepasrahan yang selama ini menyelimuti desa-desa penambang di Belitung Timur perlahan mulai terdengar suara kritis dari masyarakat.
Satu di antaranya Imron (29), warga Desa Batu Penyu.
Pria yang sudah akrab dengan sengatan matahari ini memutuskan untuk berani membuka suara dan memotret kondisi masyarakat di tengah lesunya tata niaga timah saat ini.
Imron merasa miris melihat kontradiksi yang terjadi di tanah kelahirannya.
Bangka Belitung secara global dikenal luas sebagai salah satu daerah penghasil timah terbesar di dunia, namun nasib rakyatnya justru miris.
"Daerah Bangka Belitung ini dari zaman dahulu sudah dicap ke seluruh dunia sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia. Tapi kenyataannya sekarang apa? Rakyat kecil di bawah justru hidup sare (sengsara)," ujar Imron kepada Posbelitung.co, Rabu (15/7/2026).
Baca juga: Besok Jumat, 1.000 Massa Ormas Kamek Damar Unjuk Rasa di DPRD Beltim
Keputusan Imron untuk bersedia diwawancarai Posbelitung.co didasari oleh keinginannya untuk melihat Kabupaten Belitung Timur kembali bangkit.
Menurutnya, selama ini kondisi kemerosotan ekonomi di masyarakat bawah seolah sengaja ditutupi. Banyak orang yang memilih diam dan meredam keluh kesahnya karena tidak tahu harus mengadu ke siapa.
"Saya bersedia diwawancara karena ingin Belitung Timur ini maju. Selama ini saya merasa seperti tidak ada yang berani buka suara. Suara-suara keluhan kami di bawah sengaja diredam, makanya tidak ada yang mengoreksi," katanya.
Imron juga melayangkan kritik terhadap sikap pasif jajaran pemerintah daerah maupun pusat.
Ia menilai ada perbedaan perlakuan yang sangat mencolok dari kalangan elit politik saat momentum pemilu dan pasca pemilu.
Di saat kontestasi politik berlangsung, para pejabat dan politisi terlihat sangat aktif turun ke desa-desa mencari simpati warga.
Namun di saat komoditas timah hancur dan rakyat menjerit, para penguasa justru seolah menutup mata.
"Jangan sampai ketika zaman pemilu saja pemerintahan kita bergerak aktif mencari masyarakat. Tapi giliran sekarang semenjak harga timah turun drastis, semuanya malah diam-diam saja tanpa tindakan," ungkap Imron.
Baca juga: Sempat Tertunda, Khairil Kembali Gelar Munajat Bulanan di Rumah Dinas Wabup Beltim
Imron mengatakan dampak dari lesunya sektor timah ini tak hanya merugikan dirinya saja, tapi sudah berimbas pada perputaran ekonomi di desa.
Akibat lesunya pendapatan dari sektor timah, daya beli masyarakat di pasar dan warung-warung kelontong jatuh. Kehidupan komunal desa yang biasanya hidup berkat perputaran uang timah, kini berubah menjadi sepi dan lesu.
"Dampak dari jatuhnya harga timah ini jelas sangat terasa di satu desa, Bang. Kan abang liat sendiri pasar udah sepi. Sebenarnya semua masyarakat di bawah itu sudah ingin bersuara dan menjerit, tapi ya itu tadi, suaranya teredam semua," ujarnya.
Lesunya harga timah membuat gairah kerja para penambang runtuh.
Ditambah, ketakutan akan modal operasional yang tetap tinggi membuat warga dirundung kecemasan.
"Karena harga hancur begini, masyarakat jadi tidak semangat bekerja. Mau mengeluarkan modal jadi ketakutan sendiri. Uang modal yang ada lebih baik disimpan untuk didang (masak) makanan sehari-hari," kata Imron membeberkan realita.
Oleh karena itu, Imron meminta ada solusi jangka panjang bagi masa depan nasib para penambang timah jika komoditas ini benar-benar mati.
"Kami masyarakat kecil ini butuh solusi konkret dari pemerintah di atas. Kalau memang timah ini sudah tidak bisa diandalkan, lalu apa solusi pekerjaan alternatif untuk kami para penambang ini agar dapur bisa tetap mengebul?" tanya Imron.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)