SURYA.CO.ID, SURABAYA - Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Prof. Dr. Eng. Hosta Ardhyananta, S.T., M.Sc., mengembangkan inovasi material komposit polimer hibrida dari limbah sawit lokal guna menekan ketergantungan impor material teknologi nasional.
Langkah strategis ini, menjadi jawaban atas tantangan kemandirian teknologi Indonesia yang selama ini masih bergantung pada pasokan bahan baku luar negeri.
Melalui pemanfaatan sumber daya alam lokal yang melimpah, komposit polimer ini diproyeksikan mampu menyokong berbagai industri vital di tanah air.
Kebutuhan akan material yang ringan, berkinerja tinggi, dan ramah lingkungan terus meningkat seiring laju perkembangan teknologi modern.
Menjawab kebutuhan tersebut, Prof. Hosta Ardhyananta memanfaatkan limbah tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan penguat (filler).
"Material komposit polimer berpotensi diterapkan pada sektor transportasi, dirgantara, energi, konstruksi, kesehatan, hingga pertahanan," ujar Guru Besar ke-248 ITS sekaligus dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi (DTMM) ITS tersebut saat dikonfirmasi SURYA.co.id pada Kamis (16/7/2027).
Menurut Hosta, limbah tandan kosong kelapa sawit sangat melimpah di Indonesia, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Padahal, serat selulosa dari limbah tersebut memiliki karakteristik unggul untuk memperkuat ikatan struktural.
"Padahal, filler limbah serat alam memiliki nilai tinggi karena mampu membentuk ikatan yang kuat dengan matriks epoksi," papar alumnus program doktor Toyohashi University of Technology, Jepang tersebut.
Secara teknis, material komposit polimer merupakan perpaduan antara matriks polimer dengan bahan penguat.
Matriks tersebut bisa bersumber dari minyak bumi, tumbuhan, maupun hewan. Sedangkan penguatnya dapat berupa serat alami, biomassa, selulosa, hingga serat mikro.
Inovasi yang diusung Prof. Hosta terletak pada penggabungan dua atau lebih jenis bahan pengisi (hibrida).
Keunggulan dari kombinasi formula ini meliputi:
"Kombinasi komponen ini mampu menghasilkan material baru dengan sifat unggul, seperti densitas yang rendah, namun memiliki kekuatan mekanik yang tinggi. Serat selulosa berperan sebagai jembatan yang memperkuat interaksi antarkomponen, sehingga transfer beban tegangan menjadi lebih baik," tambahnya.
Tidak hanya terbatas pada material komposit ringan, Hosta menekankan bahwa komoditas kelapa sawit Indonesia menyimpan potensi energi dan industri yang luar biasa jika dikelola secara terintegrasi.
Selain tandan kosongnya diolah menjadi komposit hibrida, minyak sawit juga dapat dikonversi menjadi biogasoline.
Langkah hilirisasi ini dipercaya akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan, serta memperkuat ketahanan industri nasional.
"Pemanfaatan sumber daya lokal ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap material impor," tegas Hosta.
Untuk merealisasikan potensi besar ini, ia berharap adanya penguatan sinergi triple-helix antara institusi pendidikan tinggi, sektor industri dan pemerintah agar riset material komposit hibrida berbasis kearifan lokal ini dapat segera diproduksi massal.
Pemanfaatan inovasi komposit polimer hibrida dari limbah sawit ini, diharapkan menjadi momentum emas bagi Indonesia untuk lepas dari ketergantungan impor material teknologi tinggi.