Mama-mama Lermatang Menari Tabar, Sambut Langkah Perdana Pembangunan Blok Masela 
Mesya Marasabessy July 16, 2026 06:03 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

SAUMLAKI, TRIBUNAMBON.COM - Dentuman Tifa dan langkah kaki yang kompak memecah keheningan di lokasi pembangunan LNG Blok Masela, Desa Lermatang, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kamis (16/7/2006). 

Sebelum proses Groundbreaking dimulai, puluhan orang tua adat dan mama-mama Lermatang tampil membawakan Tarian Tabar, suatu tarian tradisional khas Tanimbar yang menjadi simbol penghormatan kepada tamu. 

Mengenakan busana adat berwarna putih dipadukan dengan kain tenun Tanimbar, ikat kepala berhias bulu burung, serta kalung khas daerah, para penari bergerak serempak mengikuti irama tifa yang ditabuh secara bergantian, beriringan dengan nyanyian-nyanyian daerah. 

Satu persatu tamu undangan yang tiba, disambut dengan tarian penuh makna itu, menjadikan budaya lokal sebagai pembukaan sejarah baru pembangunan proyek strategis nasional. 

Sebab Tarian Tabar bukan sekedar hiburan penyambutan.  

Bagi masyarakat Tanimbar, tarian tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada tamu yang datang sekaligus ungkapan dan doa agar perjalanan dimulai mendapatkan perlindungan serta membawa kesejahteraan.

Baca juga: Wali Kota Bodewin Wattimena Umumkan Roberd Sapulette Sebagai Sekda Kota Ambon Terpilih

Baca juga: Bodewin Wattimena Batal Pawai, Antar Anak ke Sekolah Usai The Three Lions Dikalahkan Argentina

Momentum itu membuat wajah lokal Groundbreaking Blok Masela semakin terasa. 

Ditengah hadirnya pejabat pemerintah, tamu nasional, dan pelaku industri migas, masyarakat Lermatang menunjukkan bahwa pembangunan besar tetap berpijak pada akar budaya yang telah diwariskan leluhur turun-temurun. 

Kehadiran Tarian Tabar juga menjadi penanda bahwa masyarakat adat tidak sekedar menjadi penonton dalam dimulainya pembangunan proyek bernilai puluhan miliar dolar tersebut.

Mereka hadir sebagai tuan rumah yang menyambut babak baru perjalanan Blok Masela dengan cara yang paling khas melalui budaya. 

Hadir langsung dalam acara Groundbreaking ialah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, KSP Dudung, Komisaris Utama PT. Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan, Direktur Utama PT. Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, Chief Operating Officer (COO) dan Executive Vice President (EVP) Mohammad Juknis Abdul Wahab, serta Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman dan Ahli Menteri ESDM bidang Negosiasi, Diplomasi, dan Kerja Sama Mineral dan Batu Bara, Michael Wattimena. 

Sementara dari Pemerintah Daerah, hadir langsung Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa bersama Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath, Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Dody Triwinarto,  Kapolda Maluku, Irjen Pol. Dadang Hartanto, Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar Ricky Jauwerissa, dan Bupati Maluku Barat Daya, Benyamin Thomas Noach, serta jajaran Forum Koordinasi daerah lainnya. 

Untuk Presiden Prabowo Subianto hanya hadir melalui virtual dari istana kepresidenan di Jakarta. 

Pembukaan Groundbreaking baru dimulai sekitar pukul 15.20 WIT setelah rombongan tiba di titik lokasi pada Desa Lermatang. 

Groundbreaking ini menjadi tonggak dimulainya pembangunan fasilitas darat (Onshore LNG) Lapangan Abadi setelah proyek menempuh perjalanan panjang selama lebih dari dua dekade. 

Lapangan Abadi di Blok Masela sendiri merupakan lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia. 

Lokasinya berada sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafuru dengan kedalaman laut 400-800 meter. 

Potensi gas dari lapangan abadi itu diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik (TCF). 

Kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) Masela yang ditandatangani sejak 1998 dan telah diperpanjang hingga 2055 itu diproyeksikan mampu menghasilkan 9,5 juta metrik ton LNG per tahun (MMTPA), 150 juta kaki kubik standar gas pipa per hari (MMSCFD), serta produksi kondensat sekitar 35.000 barel per hari. 

Pengembangan lapangan migas baru (greenfield) tersebut memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi karena mencakup pengeboran deepwater, fasilitas subsea,Floating Production Storage and Offloading (FPSO), hingga pembangunan kilang LNG di darat (onshore LNG planet). 

Blok Masela diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$ 20,9 miliar atau sekitar Rp. 378 triliun (kurs Rp. 18.200).

Besaran nilai ini menjadi salah satu investasi sektor energi terbesar yang pernah masuk ke Indonesia. 

Proyek ini dikembangkan oleh konsorsium yang dipimpin INPEX bersama PT. Pertamina Hulu Energi dan PETRONAS melalui skema produksi gas alam cair (LNG), gas pipa, serta penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS).

Dengan besaran kepentingan yang dimiliki yakni, INPEX Masela, Ltd 65,0 persen, Pertamina 20,0 persen, Petronas 15,0 persen. 

Dengan jenis kontrak pembagian bagi hasil produksi hingga 15 November 2055. 

Proyek ini diperkirakan mampu menyerap hingga 10.000 tenaga kerja. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.