Kelompok Kriminal Terorganisir asal India Jadi Ancaman Global
Tribunnews July 16, 2026 07:20 PM

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menyebutnya "Operation Hard Ball", operasi penindakan internasional terbesar sejauh ini terhadap kelompok-kelompok kejahatan terorganisir asal India.

Pekan lalu, operasi ini berujung pada penangkapan 24 tersangka di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Spanyol, serta dakwaan terhadap 37 terdakwa.

Di pusat kasus ini ada Lawrence Bishnoi, gangster asal India yang kini mendekam di penjara. Dia dituduh jaksa AS memerintahkan pembunuhan, pemerasan, dan perdagangan narkoba internasional dari dalam penjara di negara bagian Gujarat menggunakan ponsel selundupan.

Sementara, Goldy Brar yang diduga sebagai tangan kanan dan juga dikenal dengan nama Satinderjeet Singh Brar, masih buron dengan imbalan 50.000 dolar AS (Rp901,8 juta) dari FBI bagi siapa pun yang berhasil menangkapnya.

Dari Punjab ke Amerika Utara

Pihak India pada Selasa (14/07) menyambut baik dakwaan AS terhadap Bishnoi dan sejumlah rekannya atas pembunuhan pemimpin separatis Sikh Hardeep Singh Nijjar di Kanada pada 2023, dengan menyebut kasus ini menegaskan ancaman kejahatan terorganisir lintas negara yang terus tumbuh.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri India Randhir Jaiswal mengatakan India dan AS memiliki kemitraan yang "kuat dan terus berkembang" dalam memberantas kejahatan terorganisir dan terorisme.

Namun, menurut para pakar, signifikansi Operation Hard Ball jauh melampaui satu kelompok saja. Operasi ini memperlihatkan bagaimana komplotan-komplotan kejahatan terorganisir asal India berevolusi dari sekadar masalah hukum dan ketertiban domestik menjadi bisnis kriminal lintas negara yang membentang dari Amerika Utara, Eropa, hingga wilayah lain.

Menurut dakwaan tersebut, organisasi Bishnoi menggunakan kekerasan, perdagangan narkoba, dan pemerasan untuk membangun pengaruh di kalangan diaspora India.

Jaksa menuduh kelompok ini meminta uang jutaan dolar dari pemilik bisnis di Amerika Utara dan memerintahkan aksi kekerasan terhadap mereka yang menolak membayar.

Dakwaan itu juga menuduh Bishnoi dan Brar memerintahkan pembunuhan Nijjar pada 2023 di luar gurdwara (tempat ibadah umat Sikh) di Surrey, British Columbia. Insiden pembunuhan ini bahkan sempat menyeret hubungan India-Kanada jatuh ke titik krisis. Namun, dokumen dakwaan itu tidak menuduh adanya keterlibatan pemerintah India dalam pembunuhan tersebut.

Generasi baru kejahatan terorganisir

Meski begitu, kejahatan terorganisir yang terkait India tidak dimulai dari Lawrence Bishnoi.

Pada era 1980-an dan 1990-an, gangster India Dawood Ibrahim membangun sindikat kejahatan lintas negara bernama D-Company, beroperasi dari Dubai dan kemudian Karachi, menggunakan jaringan penyelundupan, narkotika, dan pemerasan yang membentang dari Asia, Teluk, hingga Eropa.

Mantan tangan kanannya, Chhota Rajan, membangun jaringan tandingan di Asia Tenggara sebelum akhirnya ditangkap di Indonesia pada 2015. Sindikat-sindikat itu mengandalkan tempat perlindungan geografis, perlindungan politik, dan hierarki yang dikendalikan ketat.

"Berbeda dari D-Company milik Dawood Ibrahim atau sindikat Chhota Rajan, yang sebagian besar beroperasi lewat poros Dubai-Mumbai memakai jaringan penyelundupan yang berpusat pada emas dan perak, kelompok Bishnoi mewakili generasi baru kejahatan terorganisir India," kata Shreekumar Menon, spesialis pemberantasan narkoba ternama, kepada DW.

Operasinya membentang dari India, Kanada, hingga Amerika Serikat, tanpa perlindungan dari pemerintah negara mana pun.

Sebaliknya, menurut para penyidik, gerombolan ini mengandalkan jaringan diaspora, komunikasi digital, perdagangan narkoba, dan senjata api untuk menopang aksi pemerasan dan memproyeksikan pengaruhnya lintas benua.

Menon mengatakan diaspora India yang terus berkembang, terutama di Amerika Utara, membuka pasar dan peluang baru bagi jaringan kriminal.

Berbeda dari sindikat-sindikat sebelumnya, kelompok Bishnoi beroperasi di lingkungan yang jauh lebih canggih secara teknologi, menggunakan komunikasi terenkripsi dan operator di luar negeri untuk mengoordinasikan aktivitasnya.

"Meski belum bisa disandingkan dengan skala kartel Kolombia, kemunculannya di lanskap narkoba dan pemerasan Amerika Utara menandai perubahan yang signifikan. Kelompok-kelompok India selama ini dipandang sebagai pemain regional, tapi kasus Bishnoi menunjukkan mereka kini mulai jadi pemain dalam kejahatan terorganisir lintas negara," kata Menon.

Teknologi memengaruhi cara kerja dunia kejahatan

Berbeda dari para pendahulunya, jaringan Bishnoi lebih muda, lebih terdesentralisasi, dan mengandalkan teknologi digital.

Menurut para penyidik, mereka memadukan jaringan kriminal lokal di India dengan rekanan di luar negeri yang bertugas mengidentifikasi target, mengumpulkan uang pemerasan, memindahkan narkoba, dan memperoleh senjata.

Aplikasi pesan terenkripsi memungkinkan para pemimpin yang mendekam di penjara tetap mengarahkan operasi. Di saat yang sama, media sosial membantu perekrutan, intimidasi, dan propaganda.

Evolusi ini menjadikan diaspora India sekaligus sebagai sumber peluang dan target kejahatan.

Pemilik bisnis di Kanada, AS, dan Inggris melaporkan ancaman pemerasan yang terafiliasi dengan sindikat asal India. Sementara itu, para pelaku di luar negeri diduga melancarkan intimidasi jauh dari basis tradisional kelompok tersebut di negara bagian Punjab, Haryana, dan Gujarat.

Kejahatan yang dulu berakar pada sengketa lahan lokal dan pembunuhan bayaran kini mengikuti arus migrasi, uang, dan komunikasi digital lintas negara.

Bagi aparat penegak hukum, penyelidikan kini membutuhkan pertukaran intelijen, penangkapan terkoordinasi, serta penelusuran komunikasi terenkripsi dan aliran dana lintas negara.

Kolaborasi penegak hukum AS, Kanada, Spanyol dan India dalam Operation Hard Ball menjadi bukti nyata bahwa ancaman ini bersifat lintas negara.

Bisakah penegakan hukum internasional mengejar ketertinggalan?

Ajay Sahni, Direktur Eksekutif dari Institute for Conflict Management, mengatakan Operation Hard Ball mengungkap ancaman yang sudah berkembang selama puluhan tahun. Menurutnya pola ini bukan fenomena yang benar-benar baru.

"Kasus Bishnoi bukan menandai awal dari internasionalisasi kejahatan terorganisir India," kata Sahni kepada DW. "Ini menandai titik ketika penegakan hukum internasional akhirnya berhasil mengejar ancaman yang sudah berkembang selama puluhan tahun."

Sahni mengatakan teknologi telah mengubah cara kerja jaringan kriminal.

"Komunikasi terenkripsi, mata uang kripto, dan biaya perjalanan internasional yang murah memungkinkan sel-sel yang terhubung secara longgar untuk berkolaborasi lintas benua, tanpa hierarki kaku yang diandalkan sindikat-sindikat lama," katanya.

"Model bisnisnya tidak berubah, pemerasan, narkotika, pembunuhan bayaran, dan kejahatan finansial tetap jadi sumber pendapatan utama. Yang berubah adalah kecepatan, jangkauan, dan daya tahan jaringan-jaringan ini."

Evolusi itu, menurutnya, telah melampaui kemampuan penegakan hukum.

"Kejahatan terorganisir semakin bersifat lintas negara, tapi penegakan hukum cenderung masih bersifat nasional," katanya, sembari menunjukkan bahwa "jaringan kriminal memanfaatkan fragmentasi yurisdiksi, sementara para penyidik harus menghadapi berbagai hambatan hukum, diplomatik, dan prosedural sebelum aksi terkoordinasi bisa dilakukan."

Avinash Mohananey, mantan pejabat senior intelijen India dan pakar kejahatan terorganisir, mengatakan kasus Bishnoi adalah babak terbaru dalam evolusi kejahatan terorganisir India, bukan penyimpangan darinya.

"Jaringan Bishnoi bukan sindikat kejahatan India pertama yang mendunia. Seperti D-Company dan sindikat Chhota Rajan sebelumnya, jaringan ini membangun operasi lintas negara untuk pemerasan, pembunuhan bayaran, perdagangan narkoba, dan mencari tempat perlindungan. Yang pada akhirnya melemahkan sindikat-sindikat itu adalah kerja sama internasional yang konsisten," kata Mohananey kepada DW.

"Tindakan otoritas AS, yang bekerja sama dengan mitra internasional, berpotensi memberi pukulan telak bagi jaringan Bishnoi. Sindikat kejahatan India sebelumnya baru berhasil dilumpuhkan ketika pertukaran intelijen dan kerja sama penegakan hukum melintasi batas negara," pungkasnya.

Diadaptasi oleh Alfi Milano Anadri

Editor: Muhammad Hanafi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.