TRIBUNMANADO.CO.ID - Tribun Podcast kali ini mengangkat tema Politik Kaum Muda.
Menghadirkan narasumber Ilham Akbar Mustafa, Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG).
Bincang-bincang dilakukan di Studio Podcast Tribun Manado, Jalan AA Maramis, Kelurahan Kairagi, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara.
Podcast kali ini dipandu oleh David Kusuma, Jurnalis Tribun Manado.
Berikut petikan wawancaranya:
Tribun Manado: Tribuners, di sore hari ini kita mengundang narasumber yang tidak asing, tetapi juga sayang untuk dilewatkan. Mungkin ada yang tak kenal, dia adalah Ilham Akbar Mustafa.
Beliau ini wakil ketua umum pengurus pusat Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG). Apa kabar ini Bang Ilham?
Tribun Manado: Apa kabar?
Ilham Akbar Mustafa: Sehat Alhamdulillah.
Tribun Manado: Bisa diceritakan, masa kecilnya di mana?
Ilham Akbar Mustafa: Kecil di Sulawesi Utara. Lahir di Ternate. Aslinya orang Sulawesi Utara.
Opa saya itu orang Minahasa, Oma saya itu orang Bolmong. Jadi ibu saya itu guru, guru SMP di Bolaang Mongondow.
Jadi karena bapak saya orang Ternate, saya lahir di Ternate.
Berapa bulan setelah lahiran balik lagi ke Bolmong. Jadi dari masa kecil disana, sekolah sampai SMA itu di Bolaang Mongondow.
Tribun Manado: Bisa tau sekolah dimana?
Ilham Akbar Mustafa: Kalau SD di SD N 2 Poigar. SMP juga di tempat ibu mengajar, SMP 1 Poigar. SMA di Kota Kotamobagu.
Tribun Manado: Mungkin waktu itu SMA-nya hanya ada di Kota Kotamobagu?
Ilham Akbar Mustafa: Ada SMA di Poigar, tapi karena mungkin pengen juga dapat suasana baru.
Karena juga di kampung akses informasi terbatas, akses pengetahuan juga terbatas, makanya memang waktu SMA itu lulus SMP saya putuskan untuk ke Kota Kotamobagu tinggal sama Tante disana.
Di Kota Kotamobagu,SMA 2 Kota Kotamobagu.
Tribun Manado: Mungkin masih ada rekan-rekan di Kota Kotamobagu?
Ilham Akbar Mustafa: Di Kota Kotamobagu teman banyak, di Manado juga teman banyak.
Menjelang lulus SMA saya udah punya motivasi dan keinginan untuk bisa ke Makassar lanjut studi.
Kuliahnya itu maunya di Unhas.
Itu ada ceritanya juga. Bapak itu dari kecil, jadi yang merangsang saya, aktivisme politik saya itu Bapak.
Bapak itu waktu kita masih kecil, masih SD SMP itu Bapak selalu langganan Kompas, koran Kompas.
Jadi setiap hari itu kurir pos selalu antar Kompas ke rumah.
Itulah yang pelan-pelan merangsang aktivisme politik saya, keinginan untuk baca dan lain-lain.
Terus kemudian ada satu momen yang berkesan dan mengendap lama di ingatan saya itu peristiwa 98.
Terus saya masih kecil itu Bapak waktu itu masih kuliah.
Bapak selalu cerita soal HMI, organisasi-organisasi
Cerita dia basic training, Bastra, tapi dia tidak punya karir, dia tidak menempuh karir yang panjang di HMI.
Selesai studi, Bapak pernah organisasi juga di HMI tapi cuma LK1.
Dia menyebut beberapa nama yang memang itu adalah di kemudian hari ketika saya serius ber-HMI sampai di pengurus besar di PB, nama-nama yang beliau sebut itu adalah nama-nama yang memang legenda di HMI.
Tribun Manado: Ke Unhas itu tahun berapa?
Ilham Akbar Mustafa: Tahun 2007. Lulus juga pun saya itu waktu itu kuliah di Makassar itu karena keinginan pribadi.
Kalau mau ikut keinginan ibu saya masuk polisi.
Menurut dia, karena kita sadar lah orang tua saya cuma guru, PNS itu punya banyak keterbatasan.
Dia bilang kalau kau mau ini masuk polisi aja supaya ibu sekali keluar uang.
Kalau kuliah itu kan per semester.
Tapi saya punya ketetapan hati waktu itu saya harus ke Makassar, saya harus memilih jalan ini.
Dan waktu itu ada undangan dari Unhas.
Nah pada saat itu saya melampirkan, menerima undangan itu kami tiga orang yang diterima di Unhas.
Tribun Manado: Itu dari Kota Kotamobagu?
Ilham Akbar Mustafa: Dari Kota Kotamobagu. Yang angkatan saya itu tiga orang, saya terus dua teman saya, tapi mereka di jurusan Fisip, saya di Teknik Sipil.
Keterimanya di Teknik Sipil.
Bagi saya itu jalan Tuhan karena saya tidak tes, hanya menjawab undangan itu, melampirkan rapor nilai dari kelas 1 sampai kelas 3.
Pihak Unhas yang verifikasi dan menyatakan lulus itu kan pihak Unhas, tidak ada intervensi. Jadi menurut saya ini adalah jalan Tuhan.
Tribun Manado: Jalan Tuhan karena memang siswa berprestasi.
Ilham Akbar Mustafa: Bisa dibilang berprestasi juga tidak amat.
Karena di SMA itu kan pertama kenal pergaulan masa muda, sedang dalam fase memilih, dalam fase masih mengambang mencari jati diri.
Pilihan ke Makassar hari ini adalah pilihan yang memang saya pilih sendiri, jadi di kemudian hari saya tidak pernah menyesal dengan pilihan itu.
Diterima di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Hasanuddin.
Tribun Manado: Bagaimana terlibat organisasi HMI?
Ilham Akbar Mustafa: Karena memang sejak dari awal saya memilih ke Makassar karena itu menurut saya ya kalau ke Jakarta waktu itu kan kejauhan.
Kalau ada apa-apa pulang ke rumah, pulang kampung itu terlalu jauh dan seram lah masih waktu lulus SMA itu.
Jadi saya pilih di Makassar saja sebagai salah satu aktivisme politik mahasiswa.
Di Makassar menurut saya dan di sana betul saya masuk semester 1 langsung masuk HMI.
Meskipun ada organisasi intra, tidak ada organisasi intra di kampus yang tidak saya masukin mulai dari himpunan, terus Senat Fakultas, begitu juga ada namanya Pusat Studi Demokrasi di Unhas itu juga.
Terus di semester 1 masuk juga HMI, Basic, Pengurus Komisariat sampai Pengurus Cabang.
Total masa kuliah kita itu ya 14 semester, jatah yang dikasih negara untuk mahasiswa S1 ya kita pakai semua kuota perkuliahan yang dikasih negara 14 semester.
Tribun Manado: Sering terlibat menyuarakan ketidakpuasan masyarakat turun ke jalan?
Ilham Akbar Mustafa: Sering banget, apalagi di Makassar.
Karena itu memang tujuan saya untuk menempa diri di Makassar.
Karena salah satunya yang membuat saya tertarik adalah aktivisme mahasiswa, gerakan mahasiswa di Makassar menurut saya salah satu kawasan merah di muka yang memang melahirkan banyak tokoh-tokoh muda, tokoh-tokoh mahasiswa banyak lahir dari sana.
Dan itu yang mendasari kenapa saya harus ke Makassar.
Itu satu yang tidak terhitung berapa jumlah, berapa kali demonstrasi yang saya ikuti mulai dari sekedar hanya massa demonstran sampai kemudian jenderal lapangan pun pernah.
Dan memang saya menikmati karena menurut saya sikap kritis, nalar kritis itu tidak bisa didesain, tidak bisa tiba-tiba.
Dia itu harus lahir dari proses sense kita, kepedulian kita kepada masyarakat.
Itu tidak bisa dipaksakan atau didiktekan.
Dia itu harus lahir dari proses sejauh apa kamu membaur dan mencium keringat rakyat, tumbuh bersama penderitaan rakyat.
Itu yang kemudian membangun karakter serta keberpihakan kita di kemudian hari ketika kita menjadi politisi, ketika kita menjadi pejabat publik.
Pengalaman-pengalaman bersama tumbuh bersama rakyat itu yang kemudian sedikit banyak menentukan arah kebijakan kita.
Apakah akan kita dorong dan kita arahkan, atau kita desain kebijakan ini berpihak kepada rakyat atau justru hanya menguntungkan kepentingan kita.
Nah jatah tadi dipakai 14 semester, 7 tahun. Orang kan kalau lewat 7 tahun DO.
Tribun Manado: Setelah itu sempat kerja?
Ilham Akbar Mustafa: Tidak kerja. Langsung ke Jakarta. Jadi waktu itu pulang dulu ke kampung setelah selesai karena ujiannya pas 14 semester, 7 tahun.
Jadi kita tidak diwisuda, kita hanya wisudanya fakultas.
Terus orang tua mau datang saya bilang nggak usah karena kita ini udah masuk mahasiswa yang sudah mau expired.
Yang wisuda-wisuda itu kan hanya anak-anak yang lulus tepat waktu.
Saya pulang terus habis itu ada mungkin 3 bulan nganggur di rumah.
Orang tua nanya mau kerja dimana, saya bilang saya mau balik ke Jakarta melanjutkan S2.
Orang tua bilang lagi, "Kan adik kamu itu masih ada 2 orang yang lagi kuliah, kalau kau ambil jatah untuk S2 berarti harus ada yang kita korbankan nih."
Saya bilang tidak usah.
Keputusan saya untuk S2 itu berarti tanggung jawab saya.
Disitulah saya tidak akan pernah sampai kapanpun melupakan HMI karena pada akhirnya jalur dan jejaring itu yang kemudian saya pakai membuat bisa masuk ke sana ke Jakarta.
Saya jadi masuk dulu jadi pengurus besar, pengurus PB HMI.
Setelah jadi pengurus PB HMI, pelan-pelan kemudian daftar kuliah.
Jadi selesai 2014, 2016 Januari itu saya mulai kuliah S2 di Universitas Indonesia.
Tribun Manado: Fakultas apa lagi disitu?
Ilham Akbar Mustafa: Masuk Sekolah Ilmu Lingkungan Pascasarjana.
Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia ambil jurusan lingkungan.
Jadi memang kalau S1-nya itu Teknik Sipil jadi ke teknis pembangunan secara dalam konteks yang sangat teknis.
S2 saya ini karena pascasarjana lebih ke kebijakan. Itu karena aktivis juga mungkin 4 tahun baru selesai itu.
Tapi sebenarnya perkuliahan selesai 4 semester sudah selesai, 2 tahun sudah selesai.
Tapi karena tahun 2018 saya maju jadi calon Ketua Umum, Ketua Umum PB HMI, dan mulai berkampanye itu keliling Indonesia ke cabang-cabang tahun 2017, maka saya sempat cuti 3 semester.
Ketua Umum PB HMI waktu itu Kongresnya di Ambon.
Kongres kalah, gak sampai menang, cuma jadi pemenang kedua, suara terbanyak kedua.
Setelah itu itu saya balik selesaikan karir di HMI, selesaikan kuliah lagi ngurus tesis, selesaikan tesis penelitian.
Tesis penelitian saya di Bolmong.
Selesai, terus balik wisuda akhir tahun 2020 pada saat Covid, itu selesai S2.
Tribun Manado: Bagaimana awal keterlibatan dengan Golkar hingga dipercaya sebagai wakil ketua?
Ilham Akbar Mustafa: Mentor saya di Kongres Ambon itu mayoritas itu senior Golkar, senior HMI yang kemudian menjadi politisi Golkar.
Pada saat kalah, saya berdiskusi banyak dengan senior-senior itu.
Sudahlah jalan takdirmu di HMI cuma sampai sini. Pilihanmu, kau mau jadi profesional atau menjadi politisi.
Saya memilih jadi politisi masuk Golkar. 2018 itu saya udah ambil KTA Golkar, udah jadi pengurus AMPG departemen.
Sempat juga jadi staf khusus.
Staf khusus itu diangkat surat persetujuan presiden itu di Oktober 2025 tahun lalu, terus kemudian dilantik di 4 November.
Akhir Oktober tahun lalu dilantik jadi staf khusus dan itu karena menterinya adalah Menteri Golkar.
Terus direkomendasikan, ketua umum AMPG rekomendasikan kepada Ketum Bahlil. Ketum Bahlil kemudian minta ke Pak Menteri untuk di antara salah satu dari 4 staf khususnya itu saya satunya.
Jadi sampai sekarang berarti bolak-balik Jakarta, sebulan sekali.
Anak istri disini, istri ngajar di Unsrat jadi dosen. Orang tua tapi masih di Poigar, bolak-balik Jakarta Manado masuk terjun ke Golkar politik.
Tribun Manado: Ada ketertarikan tidak menjadi calon legislatif berikut atau mungkin ada bayangan kesana?
Ilham Akbar Mustafa: Menjadi politisi itu menurut saya ujungnya adalah kerja untuk rakyat.
Pilihannya kemudian adalah kerja untuk rakyat banyak dimensinya; anda mau jadi profesional atau kemudian menjadi politisi yang politisi partai.
Menjadi politisi partai itu kemudian ujungnya itu kenapa kita memilih partai.
Karena partailah yang kemudian dalam rentak ada yang cukup memang politisi partai tetapi tidak punya keinginan untuk menjadi politisi, tidak mau jadi politisi yang berjuang di eksekutif.
Nah bagi saya kalau mau ditanya apakah ada mimpi untuk menjadi calon legislatif, ya memang ujungnya akan kesana.
Tidak ada politisi yang menurut saya hanya politisi yang tidak berani yang tidak mau diuji secara elektoral.
Kalau kamu punya konsep, punya gagasan, punya pikiran tentang bagaimana rakyat harus hidup, bagaimana kebijakan harus dikelola, ya harus kau suka tidak suka kau harus menguji itu terlibat ujian elektoral.
Dimana ujian elektoral itu pemilu tempatnya, kalau kau memilih menjadi kader partai, menjadi politisi partai.
Jadi yang punya pikiran dan gagasan yang saya sebut tadi, suka tidak suka demokrasi menyediakan ruang bagi kita untuk menguji kehampaan rakyat agar rakyat bisa punya banyak pilihan.
Jangan kemudian ada orang yang merasa bahwa gagasannya yang paling benar tetapi kebenaran itu hanya diyakini oleh dia sendiri.
Subjektivitas itu tidak berani dipertarungkan dan diuji di depan publik sehingga rakyat punya kesempatan untuk menilai benarkah gagasan yang kau tawarkan itu atau tidak.
Kalau dia sepakat dengan gagasanmu, buktikan itu di parlemen.
Menguji ini yang kita harus punya keberanian.
Tidak semua juga kader partai, politisi partai yang punya keberanian untuk menguji dan mempertarungkan gagasan tapi itu di pemilu.
Ya setiap kader politik harus berani untuk melewati ujian elektoral.
Disitu kan tingkat penerimaan sejauh apa kamu bisa menyampaikan pikiran, mengkomunikasikan pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang kau anggap ideal itu kepada masyarakat.
Kalau kau terpilih berarti kan masyarakat meyakini bahwa pikiran yang kau tawarkan itu adalah efek ideal untuk kehidupan mereka, kehidupan mereka yang lebih baik.
Disinilah ujian jurus-jurus politik itu diuji disitu.
Nah menurut saya yang memang sudah lah besar dalam pertarungan-pertarungan semacam itu suka tidak suka 2029 saya akan bertarung.
Tribun Manado: Melihat kader-kader senior-senior Golkar tentu ada panutan-panutan yang bisa dilihat contoh-contoh yang bisa jadi panutan Bang Ilham?
Ilham Akbar Mustafa: Kalau di Golkar, Bahlil Lahadalia. Ada banyak mentor, ada banyak guru, ada banyak patron.
Kalau dulu kan ada Bang Akbar Tanjung, itu memang role model.
Role model aktivis yang berhasil di politik ya Bang Akbar.
Itulah yang kemudian membuka keran bagi banyak aktif.
Dia bukan hanya role model tetapi keberpihakan dia kepada aktivis-aktivis, junior-juniornya yang kemudian dia terima masuk buka ruang bagi semua siapa saja untuk bisa masuk.
Hari ini ada Bang Bahlil yang kemudian kalau ditanya kenapa memilih Bang Bahlil sebagai mentor atau role model, ya karena saya melihat Bang Bahlil saya lihat diri saya, saya lihat Bang Bahlil saya lihat masa lalu saya.
Bang Bahlil itu di balik kisah kesuksesan beliau ya mungkin banyak publik sudah sama-sama tahu dia melewati fase hidup yang dirasakan oleh banyak anak-anak Indonesia.
Banyak pengalaman hidupnya itu yang kemudian dirasakan oleh banyak sekali anak-anak muda Indonesia.
Jadi ketika mereka melihat Bang Bahlil hari ini berhasil itu kan menghidupkan mimpi dan harapan.
Kalau Bang Bahlil hari ini sukses bisa mencapai posisi strategis baik kemudian baik sebagai Menteri, baik sebagai Ketua Umum Golkar, sukses sebagai pengusaha dan memulainya dari posisi start yang sama, itu kan menciptakan harapan bahwa anak-anak muda Indonesia siapapun itu tidak peduli dia bin siapakah, nasab keluarganya siapa, tidak peduli dia datang dari mana, tapi ketika dia mau bekerja keras, dia punya disiplin, dia mau memperjuangkan apa yang dia cita-citakan, dia pasti akan sampai.
Itulah kenapa kemudian sedikit banyak juga saya bersyukur masuk Golkar dapat posisi Wakil Ketua Umum AMPG, menjadi Staf Khusus Menteri, suka tidak suka karena Ketua Umumnya adalah Bang Bahlil.
Kalau bukan Bang Bahlil jauh-jauh kita ini bos.
Tapi memang Bang Bahlil itu fair ya sebagai Senior meskipun kita punya kedekatan.
Beliau Senior di HMI, Senior di HIPMI.
Bagi saya, saya bilang tadi bahwa Bang Bahlil itu fair.
Fairnya itu dia itu sportif orangnya.
Meskipun kami punya kedekatan secara emosional, saya ini Junior dia di HMI, Junior dia di HIPMI, tapi kalau tidak punya kapasitas politik, tidak punya kapasitas personal yang cukup, tidak mungkin juga akan direkomendasikan.
Jadi ada kesempatan tapi kamu harus buktikan bahwa kamu layak untuk mendapatkan kesempatan itu.
Makanya kenapa Bang Bahlil itu lebih senang dengan Junior-Juniornya itu yang bertarung.
Bang Bahlil itu bilang begini: "Tidak apa-apa gagal, tidak apa-apa kalah. Tentu kehidupan kita ini kan hanya menghabiskan jatah gagal.
Kata dia yang paten itu bukan yang menang, yang paten itu yang gagal terus bangkit dan dia menang." Jadi itu jadi role model.
Tribun Manado: Golkar di Sulawesi Utara dulu ini salah satu basis di Indonesia. Bagaimana Bang Ilham melihat kedepan Golkar ini di bawah kepemimpinan ketua DPD yang baru? Bagaimana kaderisasi Golkar kedepan dan seperti apa Golkar ini mengembalikan kejayaannya nanti di Sulawesi Utara?
Ilham Akbar Mustafa: Basis Golkar itu hampir semua provinsi di Indonesia dulunya itu ada satu fase dimana ada satu masa dimana Golkar itu berjaya sebagai pemenang pemilu dari pemilu ke pemilu di zaman Orde Baru.
Memang dalam fase masa tertentu Golkar itu sebagai penguasa, partai penguasa. Dia punya tiga jalur itu, tiga jalur konsolidasi yang disebut sebagai ABG: ABRI, Birokrat, dan Golkar.
Tiga instrumen ini yang kemudian menjadi tangan Golkar untuk kerja-kerja elektoral memenangkan pemilu.
Tapi begitu masuk reformasi ketika ABRI kembali ke barak, dwifungsi ABRI hilang, birokrat harus memilih mau jadi partai atau menjadi birokrat.
Kalau mau ber-Golkar, ber-Golkar, kalau mau birokrat harus netral.
Situasi itu yang kemudian membuat angin segar demokrasi di era reformasi membuat bertumbuh partai-partai baru, kemudian lahir partai-partai yang secara basis elektoralnya punya kekuatan masing-masing.
Tetapi kan kita pernah melihat di dalam sejarah pemilu di tahun 2004 ketika setelah reformasi, di tengah arus penolakan terhadap Golkar yang sangat besar bahkan di beberapa daerah di Jawa itu kantor Golkar dibakar dan lain-lain, pasang bendera Golkar pun gak boleh, diturunkan, Bang Akbar berhasil membuktikan di 2004 dia berhasil memenangkan Golkar.
Nah pertanyaannya kemudian bisakah Bang Bahlil melakukan itu?
Kita jangan dulu bicara konteks Mika.
Strategi ketua umum Bahlil dan dia itu berkali-kali mengatakan target kita bukan menang, 2029 target kita bukan menang, target kita tambah kursi.
Kalau hari ini 102 kursi maka besok dipilih 2029 kita harus nambah lebih besar, lebih besar dari 102.
Beliau itu tidak punya target muluk-muluk, beliau cuma punya target satu: "Saya dipilih di Munaslub Partai Golkar menjadi ketua umum, tugas saya satu, menambah jumlah kursi."
Makanya kenapa kemudian dia declare beberapa bulan lalu bahwa dia akan nyaleg dari Papua.
Saking seriusnya Bang Bahlil mau menambah jumlah kursi dia akan terjun lagi, dia akan terjun.
Target kita, kemarin saya baru habis ketemu dia, target kita bukan menang, target kita adalah tambah kursi, tambah suara, tambah kursi.
Karena dengan cara itu kita bisa memastikan bahwa program-program baik yang selama ini dimiliki oleh Bapak Presiden, program-program yang menjadi perjuangan Partai Golkar bisa kita realisasikan kalau kita punya jumlah suara signifikan di parlemen.
Berarti kan kita bisa secara efektif bersuara, semakin besar proporsi kursi kita di DPR di parlemen maka semakin efektif suara yang kita sampaikan.
Dan beliau punya strategi itu dan saya tahu dia bisa.
Saya memahami betul karakter ketua Bapak Presiden sebagai seorang petarung, sebagai orang yang telah melewati bukan cuma pertarungan kehidupan tapi pertarungan di dunia nyata baik di bisnis dan di politik.
Dia sudah melewati itu dan saya punya keyakinan saya optimis dengan target beliau.
Menang sih enggak, tapi nambah kursi saya yakin karena itu menjadi target, nambah kursi.
Karena biar bagaimanapun Golkar ini kan partai koalisi dalam koalisi pemerintah.
Suasana kebatinan teman sekamar ini kan harus juga kita jaga.
Bagaimana dengan Sulawesi Utara?
Mika menurut saya punya pengalaman sebagai kader Golkar.
Dia memulai merintis karir kalau kita perhatikan dari AMPI.
Kemudian menjadi ketua DPD Golkar Minahasa Selatan.
Kemudian nyaleg dan terpilih.
Kemudian juga adalah Ketua Remaja GMIM, mobilitasnya tinggi, secara usia baru sekitar 40an awal, dan menurut saya itu adalah keuntungan yang sangat besar yang dia miliki.
Dia punya potensi untuk membesarkan partai golkar di Sulawesi Utara.
Tapi memang yang menjadi pesan ketua umum sederhana saja.
Ketua umum mengeluarkan instruksi ketua umum untuk mengoptimalkan fungsi sekretariat DPD Partai Golkar di semua tingkatan sebagai rumah rakyat.
Bakan hanya sebagai pusat aktifitas atau kegiatan politik, tetapi bisa juga difungsikan sebagai pusat kegiatan masyarakat.
Tujuannya adalah untuk mendekatkan Partai Golkar dengan masyarakat.
Ketua umum selalu bilang, jangan tunggu pemilu baru mau konsolidasi.
Ketika kamu dilantik menjadi ketua, maka tugasmu adalah melakukan konsolidasi, rapikan semua struktur dan kekuatan Partai Golkar mulai dari provinsi sampai ada di desa.
Saya punya keyakinan Mika bisa membesarkan Partai Golkar di Sulawesi Utara.
Tapi catatanya, konsolidasi harus masif dari tingkat profinsi sampai ke desa.
Indikatornya sederhana, minimal di tiap desa ada pengurusnya.
Pastikan semuanya bergerak untuk panaskan mesin partai, maka 2029 Golkar di Sulawesi Utara akan besar kembali.
Saya yakin Mika bisa melakukan itu.
Karena di Sulawesi Utara politisi perempuan selalu mendapat tempat di masyarakat.
(TribunManado.co.id/Ico)