2.369 Lulusan SMK Industri Kemenperin Disiapkan Jadi Motor Manufaktur Nasional
Sanusi July 16, 2026 09:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Perindustrian terus memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM) industri yang unggul, kompeten, siap kerja, dan berdaya saing global sebagai fondasi dalam mewujudkan visi Indonesia menjadi negara industri maju. 

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan pendidikan vokasi industri pada jenjang SMK-SMAK dan SMK-SMTI yang dirancang sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pendidikan vokasi industri merupakan investasi strategis untuk menyiapkan tenaga kerja terampil yang akan menjadi penggerak utama transformasi industri nasional.

Baca juga: Cara Cek Hasil Seleksi Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3 Kemnaker 2026, Diumumkan Hari Ini

Menperin mengatakan, industri pengolahan adalah tulang punggung ekonomi kita dan terus menunjukkan kinerja yang positif. Berdasarkan data BPS, pada Triwulan I Tahun 2026 industri pengolahan tumbuh 5,04 persen, menyumbang 19,07 persen terhadap PDB nasional, menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, serta memberikan kontribusi sekitar 82 persen terhadap ekspor nasional.

"Artinya, sektor industri bukan bidang yang sedang melemah, tetapi terus tumbuh dan membutuhkan tenaga-tenaga baru yang kompeten. Tangan-tangan para lulusan inilah yang akan menjadi bagian penting dari masa depan industri Indonesia," ujar Menperin pada kegiatan Pelepasan Lulusan SMK-SMAK dan SMK-SMTI serta Studium Generale Serentak Tahun 2026 di SMK-SMAK Bogor, Kamis (16/7). 

Mengusung tema "Bersama Mencetak SDM Industri Unggul, Berdaya Saing Global dan Berkelanjutan", kegiatan tersebut menandai kelulusan sebanyak 2.369 siswa dari sembilan SMK di bawah pembinaan Kementerian Perindustrian pada tahun 2026.

Kesembilan sekolah tersebut tersebar di berbagai daerah di Indonesia dengan spesialisasi yang beragam, mulai dari kimia industri, permesinan, otomasi industri hingga mekatronika yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan sektor manufaktur di masing-masing wilayah.

Baca juga: Jalur Mandiri Vokasi Undip 2026 Dibuka hingga 2 Juli, Seleksi Ujian Tulis secara Daring

Menperin menambahkan, arah pembangunan industri nasional sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat industrialisasi dan hilirisasi dalam negeri. Karena itu, keberadaan SDM industri yang kompeten menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi tersebut.

"Tidak ada hilirisasi tanpa laboratorium, dan tidak ada laboratorium tanpa analis. Tidak ada pabrik yang berjalan tanpa teknisi yang terampil. Cita-cita besar menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur dunia tidak diwujudkan di ruang rapat, tetapi di meja laboratorium dan di lantai produksi. Di sanalah para lulusan SMK-SMAK dan SMTI akan mengambil peran penting," tegasnya.

Lebih lanjut, Menperin mengingatkan para lulusan agar selalu menjunjung tinggi integritas dan profesionalisme ketika memasuki dunia kerja.

"Keunggulan kompetensi harus dibarengi dengan kejujuran dan integritas. Hasil kerja seorang analis maupun teknisi akan dipercaya karena dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Menjaga integritas berarti menjaga mutu produk Indonesia, melindungi konsumen, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di pasar global," ungkap Agus.

Penyelenggaraan pendidikan di SMK Kementerian Perindustrian selama ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri yang kompeten dan siap kerja. Hal tersebut diwujudkan melalui penyelarasan kurikulum dengan standar kompetensi industri, pelaksanaan praktik kerja industri berbasis sistem ganda, penguatan teaching factory dan kelas industri, serta sertifikasi kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Doddy Rahadi menyampaikan bahwa kualitas lulusan sekolah vokasi Kemenperin telah diakui oleh dunia industri.

"Hingga Juli 2026, sebanyak 1.483 orang atau 63,70 persen dari total 2.369 lulusan telah terserap bekerja di berbagai perusahaan industri. Capaian ini menunjukkan bahwa kompetensi lulusan SMK Kementerian Perindustrian sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri," kata Doddy.

Baca juga: MoU Swiss-RI Dorong Investasi dan Pendidikan Vokasi di Indonesia, Peluang untuk Daerah

Menurutnya, BPSDMI akan terus mendampingi lulusan yang masih berada dalam proses pencarian kerja.
"Bagi para lulusan yang masih dalam proses rekrutmen, BPSDMI bersama SMK akan memberikan asistensi selama tiga bulan ke depan untuk pencarian kerja. Selanjutnya, apabila dalam enam bulan masih belum terserap, akan diberikan program penguatan kompetensi spesifik maupun fasilitasi pemagangan guna mempercepat penempatan kerja," jelas Doddy.

Lulusan SMK Kementerian Perindustrian telah terserap di berbagai perusahaan manufaktur nasional, di antaranya PT Mayora Indah Tbk, PT Panasonic Gobel Energy Indonesia, PT Astra Daihatsu Motor, PT Toyota Boshoku Indonesia, PT Adhi Chandra Jaya, PT Sucofindo, PT LAPI Laboratories, PT Alamanda Global Health, serta sejumlah perusahaan manufaktur lainnya.

Selain memiliki tingkat penyerapan kerja yang tinggi, sekolah vokasi Kementerian Perindustrian juga semakin diminati masyarakat. Pada tahun ajaran 2026, rasio pendaftar terhadap daya tampung mencapai 1:12,2, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1:10,7. Dengan kata lain, setiap satu kursi di SMK Kementerian Perindustrian diperebutkan oleh sekitar 12 calon peserta didik.

Doddy menegaskan, tingginya animo masyarakat tersebut menjadi motivasi bagi BPSDMI untuk terus menjaga kualitas pendidikan vokasi industri.

"Untuk menjaga kualitas penyelenggaraan pendidikan vokasi, BPSDMI akan terus memperkuat pembinaan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan pendidikan di SMK-SMAK dan SMK-SMTI. Langkah ini diarahkan untuk menjaga konsistensi mutu, meningkatkan tata kelola satuan pendidikan, serta memastikan setiap program pendidikan menghasilkan lulusan yang semakin kompeten, adaptif, dan siap menjawab kebutuhan industri," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.