Mengenal Fenomena Rashdul Kiblat, Cek Arah Kiblat Cukup Memanfaatkan Bayangan Matahari
Kemal Setia Permana July 17, 2026 12:11 AM

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Ciamis mengajak masyarakat memanfaatkan fenomena Rashdul Kiblat yang berlangsung pada 15-16 Juli 2026 untuk memastikan arah kiblat masjid, musala, hingga rumah tinggal lebih akurat.

Fenomena astronomi yang hanya terjadi dua kali dalam setahun itu memungkinkan masyarakat mengetahui arah kiblat hanya dengan memanfaatkan bayangan benda yang terkena sinar matahari.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Kabupaten Ciamis, H. Mohamad Aip Maftuh menjelaskan Rashdul Kiblat terjadi ketika posisi Matahari tepat berada di atas Ka'bah.

"Pada saat itu bayangan benda yang berdiri tegak lurus akan menunjukkan arah kiblat secara akurat. Ini merupakan cara paling sederhana sekaligus presisi untuk memastikan arah kiblat," ujar Aip, Kamis (16/7/2026).

Ia menjelaskan, untuk wilayah Indonesia bagian barat, fenomena tersebut terjadi pada 15 dan 16 Juli 2026 pukul 16.27 WIB.

Baca juga: Dinas Pendidikan Jawa Barat Kaji Wacana Reaktivasi SPP untuk Atasi Keterbatasan Dana

Masyarakat cukup menegakkan tongkat atau benda lurus di tempat yang terkena sinar matahari. Garis bayangan yang terbentuk menjadi penunjuk arah kiblat.

"Tidak perlu alat khusus. Selama cuaca cerah dan matahari terlihat, masyarakat bisa langsung memanfaatkan fenomena ini untuk mengecek arah kiblat," katanya.

Dalam pelaksanaannya, Kemenag Ciamis melibatkan ASN, penghulu, penyuluh agama Islam, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), organisasi kemasyarakatan Islam, hingga masyarakat umum.

Menurut Aip, cuaca yang cerah saat pelaksanaan Rashdul Kiblat tahun ini membuat proses pengukuran berjalan optimal.

"Alhamdulillah banyak masjid, musala, dan rumah warga yang memanfaatkan momentum ini untuk memastikan kembali arah kiblatnya," ujarnya.

Kemenag Kabupaten Ciamis juga menargetkan lebih dari 12 ribu titik mengikuti Gerakan Rashdul Kiblat Nasional, meliputi masjid, musala, madrasah, pondok pesantren, hingga rumah masyarakat.

"Alhamdulillah target tersebut tercapai. Bahkan partisipasi yang masuk ke sistem sudah mencapai belasan ribu. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya akurasi arah kiblat terus meningkat," katanya.

Peserta yang mendaftarkan diri dalam Gerakan Rashdul Kiblat Nasional juga memperoleh sertifikat digital sebagai bukti telah mengikuti kegiatan tersebut.

Baca juga: Puluhan Hektare Lahan Persawahan di Kabupaten Pangandaran Mulai Alami Kekeringan

Meski demikian, Aip menegaskan Rashdul Kiblat bukan merupakan kewajiban, melainkan ikhtiar untuk memastikan arah kiblat lebih akurat.

"Kelihatannya pergeseran arah kiblat hanya kecil, misalnya 0,1 derajat. Namun jika ditarik hingga ke Ka'bah, selisih itu bisa menjadi cukup signifikan. Karena itu kami mengajak masyarakat memanfaatkan fenomena ini setiap tahun," katanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.