TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam penanganan demam tifoid atau tifus.
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi ini hingga kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di tanah air.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2024, terdapat sekitar 9 juta kasus demam tifoid di dunia setiap tahunnya dengan angka kematian mencapai 110 ribu jiwa.
Sementara di Indonesia, prevalensi tifoid diperkirakan mencapai 1,6 persen dari total populasi dengan angka kejadian sekitar 148,7 per 100 ribu penduduk.
Di tengah tingginya angka kasus tersebut, Indonesia memperkuat upaya kemandirian sektor kesehatan melalui pengembangan vaksin tifoid konjugat produksi dalam negeri, Bio-TCV (Typhoid Conjugate Vaccine).
Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus mengatakan penguatan kedaulatan kesehatan menjadi salah satu strategi penting Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan pada masa mendatang.
Menurutnya, kedaulatan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan layanan kesehatan, tetapi juga kemampuan bangsa dalam melakukan penelitian, pengembangan, hingga memproduksi produk kesehatan strategis secara mandiri, termasuk vaksin.
Bio-TCV menjadi salah satu tonggak penting dalam memperkuat kedaulatan vaksin nasional.
Pengembangan vaksin tersebut juga melibatkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari industri, akademisi, peneliti, tenaga kesehatan, regulator, pemerintah, hingga mitra strategis global.
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, mengungkapkan demam tifoid masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia sebagai negara endemis.
Ia menegaskan upaya pencegahan tifoid tidak cukup hanya melalui vaksinasi, tetapi juga perlu didukung oleh perbaikan sanitasi, keamanan pangan, akses terhadap air bersih, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
Baca juga: Indonesia Bakal Punya Vaksin DBD mRNA Pertama di Dunia, Kolaborasi Perguruan Tinggi-Industri Farmasi
"Vaksin ini merupakan hasil kolaborasi jangka panjang bersama International Vaccine Institute (IVI) yang dimulai sejak 2010, dilanjutkan dengan transfer teknologi pada 2013, serta melalui proses riset, pengembangan, uji klinis bersama FKUI hingga memperoleh persetujuan regulator," kata Shadiq Akasya di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026).
"Kehadiran Bio-TCV mencerminkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem pengembangan vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset hingga produksi," lanjutnya.
Bio-TCV merupakan vaksin tifoid konjugat yang dikembangkan untuk membantu mencegah demam tifoid akibat infeksi bakteri Salmonella typhi.
Vaksin ini telah mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dan dapat diberikan kepada bayi mulai usia enam bulan hingga orang dewasa sesuai indikasi penggunaannya.
Pengembangan vaksin ini merupakan hasil kerja sama jangka panjang antara Bio Farma dan International Vaccine Institute (IVI) yang telah dimulai sejak 2010 dan diperkuat melalui transfer teknologi pada 2013.
Dalam proses pengembangannya, Bio Farma juga menggandeng Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) untuk melaksanakan uji klinis fase I, II, dan III sesuai standar ilmiah, etik, serta regulasi yang berlaku.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menilai kemandirian dalam pengembangan vaksin dan obat menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan nasional.
Ia menyebut pengalaman selama pandemi COVID-19 menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk memiliki kemampuan memproduksi vaksin sendiri sehingga tidak bergantung pada pasokan global ketika terjadi krisis kesehatan.
"BPOM mendampingi seluruh proses pengembangan Bio-TCV, mulai dari uji klinis, standardisasi, proses produksi, hingga evaluasi untuk memastikan mutu, keamanan, dan khasiat vaksin," ujar Taruna Ikrar.
Menurutnya, proses evaluasi regulatori terhadap Bio-TCV juga dilakukan secara dipercepat tanpa mengurangi standar ilmiah yang berlaku.
"Kehadiran Bio-TCV menjadi bukti bahwa Indonesia semakin mampu menghasilkan vaksin hasil riset dan pengembangan anak bangsa sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan kesehatan nasional," ungkap Taruna.
Baca juga: Belajar dari COVID-19, Menkes Targetkan Indonesia Tak Lagi Bergantung pada Vaksin Impor
Ke depan, Bio-TCV diharapkan tidak hanya berkontribusi dalam menekan angka kasus tifoid di Indonesia, tetapi juga dapat mendukung upaya pencegahan demam tifoid di negara-negara dengan beban penyakit yang tinggi, terutama di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin.