Menteri HAM Natalius Pigai Curhat Jadi Objek Rasisme, Soroti Lemahnya Penanganan Perundungan
Torik Aqua July 17, 2026 12:14 AM

 

TRIBUNJATIM.COM - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai curhat mengaku dirinya juga menjadi objek perundungan atau rasisme di media sosial.

Natalius Pigai juga menyoroti soal lemahnya penindakan membuat kekerasan verbal terus terjadi.

Pernyataan tersebut disampaikan Pigai saat menanggapi kasus seorang siswa MAN 3 Kota Padang, R (17) yang meledakkan bom rakitan di sekolah setelah mengaku menjadi korban perundungan. 

Ia menilai kasus tersebut menjadi pengingat pentingnya penanganan serius terhadap bullying, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

Baca juga: Daftar Gaji dan Tunjangan Menteri HAM Kabinet Prabowo-Gibran yang Kini Dijabat Natalius Pigai

"Pertanyaan saya sederhana saja, saya kan pejabat negara, kenapa polisi tidak mau hentikan? Kan itu sederhana. Saya saja korban rasis, apalagi rakyat? Rakyat maupun saya ini korban rasis," ujar Pigai di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Pigai menegaskan bahwa melacak pelaku perundungan di ranah digital bukanlah hal yang sulit.

Namun, ia menyayangkan ketidakmampuan instansi-instansi terkait dalam memonitor dan menghentikan kekerasan verbal tersebut.

"Media sosial itu gampang dicek dan bisa diusut. Nah, salah satu kelemahan yang terbesar adalah lembaga-lembaga pemerintah yang diberi kewenangan untuk bisa melihat pergerakan media sosial tidak mampu menghentikan," tegasnya.

Menurutnya, saat ini terdapat lebih dari lima lembaga negara di Indonesia yang memiliki kewenangan untuk memantau lalu lintas sistem informasi.

Ia menilai ketidakmauan aparat dalam bertindak secara tegas merupakan sebuah bentuk kejahatan pembiaran yang serius.

"Oleh karena itu, salah satu kejahatan terbesar, ini by omission sekarang itu, kejahatan karena by omission, pembiaran oleh aparat-aparat yang digaji oleh negara tapi tidak mau menghentikan kekerasan verbal melalui bullying. Ini maaf ya, saya menteri tapi saya ngomong keras. Kita evaluasi diri juga kami pemerintah ini," ungkap Pigai.

Selain aparat, Pigai juga meminta pihak swasta yang memegang peran dalam sistem informasi teknologi untuk ikut berpartisipasi.

Ia berharap platform digital bisa menghadirkan ruang media sosial yang lebih beradab dan beretika di Indonesia.

Siswa Ledakkan Bom Rakitan

Berdasarkan pemeriksaan, R mengaku merakit dan meledakkan bom karena menyimpan dendam akibat menjadi korban perundungan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga kelas XII.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Susmelawati Rosya, mengonfirmasi bahwa ledakan tersebut dipicu oleh masalah psikologis mendalam yang dialami pelaku.

"Benar terjadi ledakan tersebut. Pelakunya seorang siswa kelas XII MAN. Ini dipicu oleh masalah psikologis yang mendalam karena sering menjadi korban perundungan atau bullying oleh teman-teman sekelasnya," kata Susmelawati kepada wartawan, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, pelaku merasa selama ini kerap menjadi sasaran perundungan sehingga memilih melakukan aksi balasan dengan merakit bom secara mandiri.

"Anak ini merasa sering menjadi objek bullying. Jadi dia mengambil jalan pintas dengan merakit bom skala kecil atau low explosive. Cara merakitnya dipelajari secara mandiri melalui internet," ujarnya.

Susmelawati menjelaskan, bom rakitan tersebut diletakkan pelaku di bawah meja di dalam ruang kelas saat jam istirahat.

Pelaku diduga berharap ledakan mampu merobohkan dinding kelas sehingga dapat mencelakai teman-teman yang selama ini diduga merundungnya.

"Bom itu diletakkan di bawah meja dengan harapan ledakan bisa meruntuhkan dinding kelas untuk mencelakai teman-teman yang sering membully dirinya. Namun, bangunan sekolah cukup kuat sehingga ledakan tidak menimbulkan kerusakan yang mengakibatkan korban jiwa," jelasnya.

Ia memastikan tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut.

Saat ledakan terjadi, ruang kelas juga dalam kondisi kosong.

"Tidak ada orang di dalam kelas saat ledakan terjadi. Yang terdengar hanya dentuman dan muncul kepulan asap dari dalam ruangan," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.