Trenggalek Jadi Percontohan Pertanian Modern PM-AAS, Target Hasil Padi Tembus 10 Ton per Hektare
Samsul Arifin July 17, 2026 12:14 AM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Madchan Jazuli

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Pemerintah mulai menerapkan Program Modernisasi Pertanian berbasis Advanced Agriculture System (PM-AAS) sebagai salah satu strategi meningkatkan produksi padi dan mempercepat terwujudnya swasembada pangan nasional.

Kabupaten Trenggalek, Jawa timmenjadi salah satu lokasi percontohan (demplot) penerapan teknologi budidaya tersebut di Jawa Timur.

Meski Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman batal meninjau lokasi, pelaksanaan program tetap dipantau langsung oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno, di Desa Ngadisuko, Kecamatan Durenan, Kamis (16/7/2026).

Program yang diinisiasi Kementerian Pertanian melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) itu dinilai mampu meningkatkan produktivitas lahan dengan pendekatan budidaya yang lebih modern dan efisien.

"Hari ini saya melihat demplot. PM-AAS ini guna mendukung swasembada pangan," kata Heru Suseno saat meninjau lokasi.

Populasi Tanaman Ditingkatkan untuk Dongkrak Produksi

Heru menjelaskan, sistem PM-AAS yang diterapkan pada musim kemarau berfokus pada peningkatan jumlah populasi tanaman padi dalam setiap hektare lahan.

Melalui pola tanam baru tersebut, populasi padi ditargetkan mencapai sekitar 800 ribu hingga 1,2 juta rumpun per hektare, jauh lebih tinggi dibandingkan metode budidaya konvensional.

Secara keseluruhan, Jawa Timur memperoleh target penerapan PM-AAS seluas 182 ribu hektare yang tersebar di berbagai kabupaten dengan masa tanam mulai Juli hingga September 2026.

Khusus di Kabupaten Trenggalek, program dialokasikan pada lahan seluas 100 hektare, sementara 20 hektare di antaranya dijadikan lokasi demplot tahap awal.

Baca juga: Honda Win Terbakar di Jalur Munjungan Trenggalek, Pemilik Hanya Bisa Pasrah Tak Ada Sumber Air

Produktivitas Diproyeksikan Capai 10 Ton per Hektare

Dengan meningkatnya populasi tanaman, pemerintah memperkirakan hasil panen padi juga akan mengalami peningkatan signifikan.

Menurut Heru, secara teoritis produktivitas lahan berpotensi mencapai 10 ton gabah per hektare, lebih tinggi dibandingkan rata-rata produksi saat ini yang berkisar 6 hingga 6,5 ton per hektare.

"Nanti kita lihat dari hasil ini seperti apa. Tapi teorinya provitasnya bisa mencapai 10 ton per hektare. Kalau normalnya kan sekitar 6 sampai 6,5 ton per hektare, ini bisa meningkat karena populasinya bertambah," lanjutnya.

Butuh Tambahan Pupuk dan Pengendalian Hama

Di balik potensi peningkatan hasil panen, PM-AAS juga membutuhkan pengelolaan yang lebih intensif.

Heru mengatakan populasi tanaman yang lebih rapat otomatis meningkatkan kebutuhan pupuk sehingga Kementerian Pertanian telah menginstruksikan penambahan alokasi pupuk subsidi bagi daerah yang menjadi lokasi program.

Selain itu, kepadatan tanaman juga meningkatkan potensi serangan hama dan penyakit tanaman (HPT), sehingga petani diminta lebih aktif melakukan pemantauan kondisi lahan.

Modernisasi pertanian ini juga didukung penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) secara menyeluruh, mulai dari pengolahan lahan hingga penyemprotan.

Dalam pengendalian hama, Distan KP Jawa Timur bekerja sama dengan Maxxi Tani untuk melakukan penyemprotan menggunakan drone secara serentak agar hasil pengendalian lebih efektif.

"Makanya di sini kerja sama dengan Maxxi Tani. Supaya begitu di penanganan hama, ini harus kompak. Karena kalau di sini disemprot di sebelah sana enggak ya percuma. Pokoknya hama parah itu harus hilang," ulasnya.

Gunakan Sistem Tanam Benih Langsung

Pada demplot di Trenggalek, PM-AAS menerapkan sistem tanam benih langsung (tabela) menggunakan alat khusus sehingga tidak lagi melalui proses persemaian seperti metode konvensional.

Cara tersebut dinilai mampu memangkas waktu tanam sekitar 15 hingga 20 hari, sehingga proses budidaya menjadi lebih efisien.

Pada tahap awal penanaman, kondisi sawah diatur tetap lembap atau macak-macak, yakni basah merata tetapi tidak tergenang air secara berlebihan.

Untuk mengantisipasi musim kemarau, lokasi program dipilih pada kawasan yang memiliki jaringan irigasi teknis dengan pasokan air sepanjang tahun.

Selain itu, petani juga diarahkan menggunakan varietas unggul yang direkomendasikan pemerintah.

"Sekaligus menggunakan varietas benih yang disarankan seperti Inpari 49," tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.