Media Israel Ulas Rencana Mossad Rekrut Ahmadinejad, Gagal karena Trump?
Hasiolan Eko P Gultom July 17, 2026 12:23 AM

Media Israel Ulas Rencana Mossad Rekrut Ahmadinejad, Gagal karena Trump?

 

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah analisis yang diterbitkan The Jerusalem Post menyoroti laporan mengenai dugaan rencana badan intelijen Israel (Mossad) untuk merekrut mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad sebagai bagian dari skenario perubahan rezim di Iran.

Analisis yang ditulis koresponden desk militer, Yonah Jeremy Bob tersebut muncul setelah The New York Times memublikasikan laporan mengenai rencana Mossad tersebut.

Menurut penulis, pertanyaan yang kini muncul bukan hanya apakah operasi itu benar-benar ada, tetapi juga apakah kegagalannya disebabkan oleh Mossad atau oleh keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Baca juga: Mantan Presiden Iran Ahmadinejad Bantah Direkrut Israel: Semua Bohong

Operasi Disebut Bergantung pada Peran Kurdi

Mengutip mantan Kepala Intelijen Militer Israel Tamir Hayman, analisis itu menyebut Ahmadinejad hanyalah salah satu bagian dari rangkaian operasi yang lebih besar.

Hayman mengatakan tahap awal rencana tersebut seharusnya dimulai dengan operasi yang melibatkan kelompok Kurdi.

Namun, menurutnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meyakinkan Trump bahwa mendukung pembentukan negara Kurdi bertentangan dengan kepentingan Turki.

Akibatnya, Trump disebut membatalkan operasi tersebut sebelum seluruh rencana dijalankan.

Skenario Perubahan Rezim

Menurut sumber yang dikutip The Jerusalem Post, Amerika Serikat sebelumnya pernah mempertimbangkan penggunaan pasukan Kurdi seperti saat membantu menjatuhkan Saddam Hussein di Irak pada 2003.

Israel disebut berharap kelompok Kurdi di Irak dan Iran dapat menjadi ujung tombak operasi darat untuk menggulingkan pemerintahan Iran, dengan dukungan zona larangan terbang, serangan udara, serta persenjataan dari Amerika Serikat dan Israel.

Laporan itu juga menyebut kelompok Kurdi menerima pelatihan serta senjata, termasuk sebagian yang sebelumnya disita Israel dari Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon.

Peran Trump Diperdebatkan

Analisis tersebut menyebut masih terjadi perdebatan mengenai alasan Trump menghentikan operasi itu.

Sebagian pihak menilai keputusan tersebut dipengaruhi Erdogan, sementara yang lain menyebut ada pejabat di lingkungan Gedung Putih yang menentangnya.

Sumber-sumber Israel bahkan menuding adanya kebocoran informasi dari pejabat Amerika kepada Erdogan sehingga Ankara memiliki waktu untuk melobi Trump agar membatalkan rencana tersebut.

Meski demikian, laporan juga mencatat bahwa Direktur CIA John Ratcliffe disebut tidak pernah secara langsung menyampaikan penolakan kepada Israel.

Bahkan, laporan publik menyebut CIA tetap memberikan bantuan persenjataan kepada kelompok Kurdi.

Serangan Tidak Pernah Mencapai Tahap Penuh

Analisis itu juga mengungkap bahwa Israel sebenarnya telah menyerang sejumlah target di wilayah Kurdi Iran selama perang berlangsung.

Namun, menurut sumber yang dikutip, hanya sekitar 10 persen target yang semula direncanakan benar-benar dihantam.

Selain itu, Trump disebut tidak mengizinkan Israel memperluas serangan ke sektor energi dan pusat kekuatan ekonomi Iran, yang dianggap sebagai bagian penting dalam skenario menekan pemerintahan Teheran.

Masih Sebatas Spekulasi

The Jerusalem Post menilai bahwa apabila seluruh tahapan operasi benar-benar dijalankan, Ahmadinejad mungkin saja menjadi salah satu figur dalam skenario perubahan rezim Iran.

Namun, hingga kini tidak ada konfirmasi resmi dari pemerintah Israel maupun Amerika Serikat mengenai keseluruhan rencana tersebut.

Analisis itu menegaskan bahwa banyak bagian dari cerita ini masih bersifat spekulatif dan didasarkan pada laporan media serta sumber anonim.

Karena itu, penulis menyimpulkan masih terlalu dini untuk menyatakan apakah dugaan operasi Mossad yang melibatkan Ahmadinejad merupakan keberhasilan atau kegagalan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.