Pagi setelah malam yang menyakitkan. Adrenalin yang membuat para pendukung Inggris bertahan selama 90 menit penuh penderitaan kini telah digantikan oleh rasa mual di perut dan pikiran yang kabur — perasaan bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi semalam, seperti rasa malu yang menyelinap bersama mabuk yang belum reda.
Kita semua pernah berada di titik ini sebelumnya. Kita mengenali dinding sumur kekecewaan ini. Inggris tersingkir dari Piala Dunia dengan cara yang menyakitkan dan menghancurkan hati — sudah menjadi semacam ritual empat tahunan, sebuah tradisi budaya seperti makan daging panggang hari Minggu atau topi besar yang dipakai penjaga Menara London. Mau tidak mau, penderitaan itu harus diterima, kesedihan harus dipeluk, dan biarkan semuanya mengalir begitu saja.
Kekalahan Inggris di babak gugur Piala Dunia hampir selalu terjadi karena hal-hal kecil: keputusan kontroversial, momen aneh, atau kesalahan bodoh. Inggris jarang benar-benar hanya... kalah. Tangan Tuhan, lob Ronaldinho; kartu merah Beckham, kartu merah Rooney, Lampard memegangi kepalanya. Apakah ada negara lain yang memiliki luka sedalam dan sepedih ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa begitu banyak hingga bisa dibuat seperti syair?
Anthony Gordon menatap kosong setelah Inggris tersingkir dari Piala Dunia (Getty)
Dan karena kekalahan tak pernah sederhana, tak pernah hitam putih, yang tersisa hanyalah rasa kehilangan terhadap turnamen yang sudah akrab di hati. Bagaimana mereka bisa melanjutkan tanpa kita? Apakah mereka akan masih memikirkan kita saat jeda pendinginan?
Namun mungkin kali ini terasa berbeda. Argentina 2-1 Inggris. Tak ada kontroversi, tak ada keputusan yang bisa diperdebatkan di pub setelah pertandingan, meskipun laga ini dimainkan dengan semangat yang salah sejak peluit pertama hingga terakhir. Tak sekalipun wasit Ismail Elfath terdengar berkata dengan nada mengancam di mikrofon headset-nya: “setelah tinjauan...”
Sudah banyak pagi seperti ini ketika para penggemar Inggris merasa seperti dicurangi, seolah sesuatu yang menjadi milik mereka dirampas — oleh wasit, lawan yang licik, para dewa sepak bola, atau bahkan pemain Inggris sendiri yang melakukan sesuatu yang tak masuk akal.
Tapi tidak kali ini. Perjalanan Inggris di Piala Dunia 2026 adalah kisah sederhana. Analisis pasca pertandingan bisa saja ditulis sebelum Argentina mencetak gol, saat Inggris mundur ke tepi kotak penalti sendiri, berubah menjadi formasi pengecut 5-4-1, menyerah terhadap ide mencetak gol, dan mengundang pemain terbaik sepanjang masa untuk bersenang-senang.
Lionel Messi memang membangun kebangkitan Argentina, tapi Thomas Tuchel adalah arsiteknya. Ia direkrut khusus untuk situasi seperti ini — untuk menyelesaikan akhir permainan, membawa tim melewati garis kemenangan. Ia sendiri pernah berkata saat baru mengambil pekerjaan ini dan menganalisis kecenderungan Inggris di bawah Gareth Southgate yang sering gagal di akhir. “Mereka lebih takut tersingkir dari turnamen ketimbang merasakan semangat dan lapar untuk memenangkannya,” ujar Tuchel pada bulan Maret lalu.
Dan di Atlanta pada Rabu malam itu, Inggris asuhan Tuchel memainkan setengah jam terakhir seperti sedang ketakutan. Argentina mencium aroma ketakutan itu dan memanfaatkan peluang yang seharusnya tidak pernah mereka dapatkan. Mungkin justru kejelasan itu — perasaan pasti bahwa Inggris seharusnya menang namun pantas kalah — terasa lebih pahit dibanding laga-laga sebelumnya yang meninggalkan ruang untuk perdebatan.
Lionel Messi diangkat di pundak rekan-rekannya (Getty)
Inggris kini harus melangkah ke pertandingan perebutan tempat ketiga yang penuh cibiran. Liga Primer akan segera bergulir kembali. Kejuaraan Eropa di kandang sendiri juga sudah menanti. Kita akan kembali. Namun seseorang tidak pernah benar-benar bisa terbebas dari beban Piala Dunia; setiap kekalahan menjadi satu kotak kecil trauma baru untuk ditumpuk di atas yang lama. Mereka tidak saling menggantikan, hanya menumpuk, membuat masa lalu terasa semakin berat untuk dipikul.
Kita akan selalu memiliki kenangan itu. Gol dahsyat Kane melawan Republik Demokratik Kongo. Tarian balet Bellingham menembus pertahanan Norwegia. Lagu Wonderwall. Jordan Henderson. Gerakan bahu pesta John Stones. Namun enam puluh tahun penderitaan itu terus berlanjut. Dan kali ini, rasanya benar-benar menusuk.