Lewat PUSPITA 2026, Pemkot Magelang Tanamkan Nilai Antikorupsi kepada Anak Sejak Dini
Yoseph Hary W July 17, 2026 01:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Pemerintah Kota Magelang terus memperkuat pendidikan karakter melalui pendekatan yang kreatif dan menyenangkan. Salah satunya diwujudkan melalui penyelenggaraan Pekan Unggul Seni, Pidato, dan Talenta (PUSPITA) 2026 yang mengajak ratusan anak mengekspresikan kreativitas sekaligus menanamkan nilai-nilai antikorupsi, integritas, dan kejujuran sejak usia dini.

Kegiatan yang digelar di Gedung Wanita Kota Magelang, Kamis (16/7/2026), merupakan kolaborasi antara Inspektorat Daerah Kota Magelang, Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMP4KB), serta Forum Anak Obor Masyarakat (OBAMA). PUSPITA 2026 diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional sekaligus mendukung Program Pariwara Antikorupsi Kota Magelang.

Sebanyak 211 peserta ambil bagian dalam berbagai cabang lomba, terdiri atas Lomba Mewarnai tingkat TK sebanyak 37 peserta, Lomba Menggambar tingkat SD/sederajat 69 peserta, Lomba Menggambar tingkat SMP/sederajat 63 peserta, Lomba Melukis Mini Canvas tingkat SMP/sederajat 25 peserta, serta Lomba Sesorah tingkat SMA/sederajat yang diikuti 17 peserta.

Perkenalkan nilai-nilai integritas

Pelaksana Harian (Plh) Inspektur Daerah Kota Magelang, Indah Sri Palupi, mengatakan PUSPITA bukan sekadar ajang kompetisi seni, tetapi menjadi media edukasi untuk membangun karakter anak melalui nilai-nilai integritas.

"Melalui kegiatan ini kami ingin mengenalkan nilai-nilai integritas kepada anak-anak sejak dini. Kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan sikap antikorupsi perlu ditanamkan sejak usia anak agar menjadi karakter yang melekat ketika mereka tumbuh dewasa," ujar Indah.

Ia menjelaskan, pendekatan melalui seni dipilih karena lebih mudah diterima oleh anak-anak sekaligus mampu menumbuhkan kreativitas tanpa meninggalkan pesan moral yang ingin disampaikan.

"Kami berharap nilai-nilai tersebut tidak berhenti di arena lomba, tetapi menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang berintegritas dan mampu memberikan kontribusi positif bagi bangsa," katanya.

Kejujuran modal dasar

Sementara itu, Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menegaskan bahwa pendidikan antikorupsi harus dimulai dari pembentukan karakter, dengan kejujuran sebagai fondasi utama.

"Akar kejujuran adalah fondasi utama. Jujur memerlukan edukasi dan literasi. Kejujuran adalah modal dasar manusia agar menjadi pribadi yang paripurna. Jangan takut akan masa depan, takutlah jika kita tidak memiliki kejujuran," tegas Damar.

Menurutnya, membangun budaya antikorupsi tidak cukup dilakukan melalui penegakan hukum semata, tetapi juga harus dimulai dari pendidikan karakter sejak anak-anak agar nilai integritas menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Damar juga berharap kegiatan seperti PUSPITA dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan menghadirkan lebih banyak ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi dan kreativitasnya.

"Kegiatan seperti ini perlu terus dikembangkan dengan variasi yang lebih beragam. Kompetisi menjadi salah satu sarana yang efektif untuk menumbuhkan semangat berprestasi sekaligus membentuk karakter anak sejak dini," ujarnya.

Ia pun mendorong Dinas Pendidikan bersama perangkat daerah terkait untuk terus memfasilitasi berbagai kegiatan kreatif yang mampu melahirkan generasi muda yang berprestasi sekaligus berintegritas.

Melalui PUSPITA 2026, Pemerintah Kota Magelang berharap pendidikan antikorupsi tidak lagi dipandang sebagai materi yang kaku, melainkan dapat dikenalkan secara menarik melalui seni, budaya, dan kreativitas. Dengan demikian, nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, serta integritas dapat tertanam kuat dalam diri anak-anak sebagai bekal membangun masa depan yang lebih baik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.