TRIBUNNEWS.COM - Perebutan hak asuh anak antara presenter Ruben Onsu dengan mantan istrinya, Sarwendah, masih memanas.
Konflik keduanya kini harus melebar ke jalur hukum usai Ruben mengajukan gugatan hak asuh anak di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.
Pada sidang perdana Rabu (15/7/2026) kemarin, Sarwendah sebagai tergugat datang didampingi kuasa hukumnya.
Sementara Ruben justru tak hadir dan diwakilkan tim kuasa hukumnya.
Di samping Ruben yang ingin merebut hak asuh, Sarwendah nampaknya juga ingin mempertahankan hak asuh agar tetap di tangannya.
Menanggapi sikap dari Sarwendah tersebut, mantan manajer sang artis, Nanda Persada memberikan komentarnya.
Nanda mengaku dirinya bingung dengan keinginan Sarwendah di tengah memanasnya konflik dengan Ruben.
Belakangan Nanda Persada ikut bersuara mengenai konflik keduanya hingga sempat mengundang Ruben sebagai bintang tamu di podcast YouTube miliknya.
"Aku melihat statement Sarwendah untuk terus mempertahankan hak asuh anak, aku bingung arahnya ke mana ya," ungkap Nanda Persada, dikutip dari YouTube Intens Investigasi, Kamis (16/7/2026).
Menurut Pendiri dan Ketua Umum pertama Ikatan Manajer Artis Indonesia (IMARINDO) ini, permasalahan keduanya tak seharusnya menjadi melebar seperti saat ini.
Di mana pihak Ruben maupun Sarwendah ingin sama-sama mendapatkan hak asuh anak.
Baca juga: Respons Pihak Ruben Onsu soal Giorgio Antonio Kekasih Sarwendah Buka Suara usai Merasa Dipojokkan
Ia menekanakn kedua belah pihak untuk bisa menurunkan ego agar permasalahan segera selesai dengan cara damai, dan Ruben juga mendapatkan haknya untuk bisa bertemu kedua putrinya.
"Apa salahnya sih untuk memperbaiki situasi hubungan komunikasi dengan bapaknya anak-anak."
"Itu yang aku bilang semua pihak harus menurunkan ego ya, baik Wenda maupun Ruben. Kita cari solusi bareng-bareng," ujar Nanda.
Nanda sendiri memahami apa yang dirasakan Ruben saat ini hingga akhirnya mengajukan gugatan hak asuh anak.
Pun dalam podcast, kata Nanda, bahwa Ruben sebenarnya memiliki keinginan untuk membesarkan anak secara bersama-sama.
"Ruben kan punya alasan kita tahu alasannya apa, tadinya berharap ada titik temu, titik temu di tengah-tengah gitu."
"Karena Ruben sendiri kan udah ngomong di podcast sama aku bahwa idealnya adalah dia ingin membesarkan anak secara bersama-sama," beber Nanda.
Konflik keduanya mencuat diketahui berawal dari Ruben yang merasa tak mendapatkan haknya untuk bisa bertemu kedua putrinya sejak cerai 2024 lalu.
Padahal sesuai kesepakatan cerai, pemilik nama lengkap Ruben Samuel Onsu itu diperbolehkan bertemu anak tiga hari dalam seminggu.
Ruben akhirnya memutuskan berhenti memberikan nafkah bulanan Rp225 juta sejak enam bulan terakhir.
Masalah justru semakin melebar usai pihak Sarwendah mengungkit persoalan nafkah dan menuding Ruben lepas dari tanggung jawabnya.
Sementara Ruben juga merasa kini anak-anaknya berada di lingkungan tak aman hingga mengajukan gugatan hak asuh ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Dalam sidang perdana, telah ditunjuk hakim mediator untuk nantinya dilakukan mediasi di persidangan selanjutnya.
Pihak Sarwendah mengungkap kesiapannya untuk menjalani mediasi bersama Ruben Onsu.
"Jadi nanti persidangan selanjutnya adalah mediasi, mohon doanya dari rekan-rekan semua," ujar kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu.
Chris menyampaikan, pihaknya berharap mediasi nantinya bisa menghasilkan kesepakatan terbaik dari kedua belah pihak.
Pihak Sarwendah mengharapkan adanya perdamaian demi anak.
"Semoga ada perdamaian, karena gimanapun yang kami jaga adalah kepentingan anak-anak," ungkap Chris.
Menurut Chris, kedua belah pihak harus bisa menurunkan ego untuk kebaikan mental anak-anak.
Sebab bagaimana pun, lanjut Chris, setiap manusia memiliki kekurangan masing-masing.
Melalui pengadilan, ia berharap masalah yang sebelumnya memanas antara Sarwendah dan Ruben bisa terselesaikan.
"Semua tidak ada yang sempurna, dan ranah pengadilan adalah ranah yang paling tepat untuk kita masing-masing menyampaikan semua hal yang menurut kami baik ya."
"Sehingga tidak perlu lagi kami berbalas pantun di media untuk menyampaikan siapa yang paling benar."
"Kita hormati, kita menahan diri untuk melakukan penghakiman di media sosial. Kita hindari penggiringan opini publik ya," tutur Chris.
(Tribunnews.com/Ifan)