TRIBUNNEWSMAKER.COM – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melontarkan ancaman keras terkait situasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia.
Teheran menegaskan tidak akan mentoleransi campur tangan Amerika Serikat di kawasan tersebut dan menyebut Selat Hormuz sebagai "garis merah" yang tidak boleh dilanggar.
Iran bahkan memperingatkan akan menyerang infrastruktur negara-negara Arab di kawasan Teluk apabila Presiden Amerika Serikat Donald Trump melanjutkan operasi militer terhadap fasilitas Iran.
Ancaman itu disampaikan menyusul gelombang terbaru serangan udara Amerika Serikat yang diklaim menghantam puluhan target militer Iran di sekitar Selat Hormuz dan wilayah pesisir.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang dituding mengancam kapal-kapal dagang di jalur pelayaran internasional.
Serangan yang berlangsung selama sekitar tujuh jam itu disebut menyasar rudal, drone, aset angkatan laut, hingga sistem pertahanan pantai Iran.
Operasi tersebut juga menjadi gelombang serangan malam keempat secara berturut-turut di tengah blokade angkatan laut AS terhadap kapal-kapal yang menuju pelabuhan Iran.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik ke negara-negara Teluk dan mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Situasi di Selat Hormuz kini kembali menjadi sorotan dunia karena berpotensi memicu eskalasi militer yang lebih luas.
Baca juga: Duel Rudal Iran vs Patriot di Yordania, Video Viral Diklaim Tunjukkan Pertahanan Udara AS Ditembus
Seperti diketahui, juru bicara Komando Gabungan Angkatan Bersenjata Iran menegaskan, Teheran tidak akan mengizinkan campur tangan Amerika Serikat di Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut disebut sebagai "garis merah" bagi Iran.
Dalam pernyataannya, juru bicara tersebut memperingatkan, Iran akan menargetkan infrastruktur di kawasan Teluk apabila Presiden AS Donald Trump merealisasikan ancamannya untuk menyerang infrastruktur Iran.
Pernyataan itu muncul setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah melancarkan gelombang baru serangan udara terhadap Iran pada Rabu.
Melalui akun resminya di platform X, CENTCOM menyatakan serangan tersebut ditujukan untuk semakin melemahkan kemampuan militer Iran yang disebut digunakan dalam serangan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.
Menurut CENTCOM, pasukan AS melaksanakan operasi udara selama sekitar tujuh jam dari Selasa malam hingga Rabu pagi.
Serangan menyasar puluhan target militer di sekitar Selat Hormuz dan wilayah pesisir Iran, termasuk rudal, pesawat nirawak (drone), aset angkatan laut, serta sistem pertahanan pantai.
Operasi tersebut merupakan gelombang serangan malam keempat berturut-turut yang diklaim bertujuan mengurangi kemampuan Iran mengancam kapal-kapal komersial dan awak sipil yang melintasi Selat Hormuz.
Serangan udara itu berlangsung bersamaan dengan berlanjutnya blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap kapal-kapal yang melintas menuju pelabuhan dan kawasan pesisir Iran, sehingga semakin meningkatkan ketegangan antara kedua negara.
(TribunNewsmaker.com/TribunNews)