'Ada Level di Setiap Pertandingan' - Zlatan Ibrahimovic Minta Inggris 'Bercermin' Setelah Kalah dari Argentina di Piala Dunia
Hendra Wijaya July 17, 2026 08:18 AM

Zlatan Ibrahimovic memberikan kritik tajam terhadap kegagalan terbaru tim nasional Inggris di Piala Dunia, dengan menyarankan para pemain untuk 'bercermin' setelah tersingkir di babak semifinal. Legenda sepak bola asal Swedia itu mempertanyakan kualitas sebenarnya dari skuad Tiga Singa usai kekalahan mereka dari Argentina, yang menambah daftar panjang kekecewaan Inggris di turnamen besar.

Ibrahimovic mempertanyakan kemampuan Inggris tampil di laga penting

Penantian Inggris untuk meraih trofi internasional utama kini telah melewati enam dekade setelah mereka dikalahkan oleh Argentina di semifinal Piala Dunia 2026. Meski datang dengan ekspektasi tinggi, Tiga Singa kembali gagal menembus batas antara kandidat juara dan juara sejati, terhenti di babak semifinal seperti yang terjadi pada tahun 1990 dan 2018.

Berbicara dalam sebuah panel di New York, Ibrahimovic tidak menahan diri dalam menilai tim asuhan Thomas Tuchel. Mantan penyerang Manchester United dan Barcelona itu menilai bahwa keberhasilan Inggris mencapai semifinal menipu, karena mereka tidak memiliki kualitas untuk bersaing dengan tim-tim elit dunia di panggung terbesar — meskipun Inggris sempat unggul 1-0 hingga menit ke-85 sebelum Enzo Fernandez menyamakan kedudukan, dan Lautaro Martinez mencetak gol kemenangan Argentina di menit ke-92.

Realita melawan 'tim yang sesungguhnya'

Ibrahimovic menyoroti perbedaan kualitas antara lawan-lawan sebelumnya yang dihadapi Inggris dan tantangan yang diberikan oleh Argentina. Ia berpendapat bahwa Inggris mampu melewati tim-tim dengan level lebih rendah — setelah menyingkirkan Republik Demokratik Kongo 2-1 di babak 32 besar, Meksiko 3-2 di babak 16 besar, dan Norwegia 2-1 lewat perpanjangan waktu di perempat final — namun selalu kesulitan ketika menghadapi lawan papan atas di fase gugur.

"Kalau kita lihat ke belakang, Inggris memang pernah memenangkan Piala Dunia," ujar Ibrahimovic dalam panel mypartner.com. "Tapi berapa kali Inggris mengalahkan tim yang benar-benar kuat? Boleh saya tanya ke penonton di sini? Tim yang benar-benar kuat? Kemarin mereka menghadapi tim yang sesungguhnya [Argentina] di turnamen besar. Menang melawan Norwegia, dengan segala hormat untuk Norwegia, itu bukan tim yang sesungguhnya. Dan saya orang Swedia, itu sungguh menyakitkan," ujarnya sambil bercanda.

Perbedaan level di sepak bola internasional

Pemain asal Swedia itu juga menepis gambaran media Inggris tentang tim nasional mereka, dengan menyatakan bahwa budaya sensasionalisme sering menutupi kekurangan teknis dan mental skuad tersebut. Menurut Ibrahimovic, kekalahan dari sang juara bertahan menjadi tamparan keras yang diperlukan bagi negara yang menurutnya terlalu melebih-lebihkan posisi mereka dalam peta sepak bola dunia, meskipun Inggris berhasil mencapai final Kejuaraan Eropa pada edisi 2020 dan 2024.

"Tapi Argentina adalah tim yang sesungguhnya. Jadi ya, Inggris menunjukkan semangat juang, mereka menunjukkan mentalitas mereka. Tapi jujur saja, mereka belum mengalahkan tim yang sesungguhnya," tambahnya. "Dan ketika kamu berhasil mengalahkan tim yang sesungguhnya, barulah kamu bisa bicara. Tapi saya tahu media Inggris, mereka suka gosip, suka propaganda untuk mengangkat mereka, membuat mereka terlihat besar. Kemarin itu adalah kenyataan yang harus diterima. Ada level dalam setiap pertandingan. Level. Itulah perbedaannya. Lihatlah ke cermin dan tanyakan, seberapa bagus kamu sebenarnya?"

Kesalahpahaman tentang Premier League

Menanggapi anggapan bahwa dominasi Premier League seharusnya berbanding lurus dengan kesuksesan di level internasional, Ibrahimovic — yang bermain di kompetisi tersebut bersama Manchester United antara 2016 hingga 2018 dan memenangkan Piala Liga, FA Community Shield, serta Liga Europa — menegaskan bahwa kualitas liga tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh pemain asing daripada pelatih atau pemain lokal Inggris. Ia memperingatkan agar tidak menjadikan kekayaan dan daya tarik klub sebagai tolok ukur kemampuan tim nasional.

"Orang-orang, menurut mereka sendiri, merasa bahwa mereka hebat, lebih baik dari yang lain," tutup Ibrahimovic. "Namun kenyataannya, Premier League tidak hanya diisi oleh pemain Inggris. Ada campuran pemain asing yang membuat Premier League menjadi kompetisi hebat seperti sekarang."

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.