3 BERITA POPULER SUMBAR: Warga Agam Disekap di Myanmar, Remaja Diseret Ombak, dan Jembatan Anduriang
Rahmadi July 17, 2026 08:27 AM

Pertama, Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Barat menduga warga Agam disekap di Myanmar bekerja di jaringan penipuan daring atau scamming. 

Informasi tersebut diungkap BP3MI Sumatera Barat setelah menelusuri kasus dua perempuan Indonesia yang videonya viral diduga disekap di Myanmar.

Kedua, harapan keluarga dan warga agar Berkat Saputra Lavau (14), remaja yang hilang usai terseret ombak di Pantai Muaro Putuih, Nagari Tiku Limo Jorong, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, ditemukan dalam keadaan selamat akhirnya pupus.

Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Kamis (16/7/2026) sekitar pukul 08.05 WIB atau kurang dari dua jam setelah tim SAR gabungan kembali melanjutkan pencarian di hari kedua operasi.

Ketiga, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman kembali memfungsikan jembatan darurat Anduriang di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam.

Pemerintah daerah membuka akses ini setelah menyelesaikan normalisasi Sungai Batang Anai. Langkah cepat tersebut memulihkan mobilitas masyarakat penyeberang sungai secara instan.

Baca selengkapnya berikut ini:

1. Warga Agam Disekap di Myanmar Diduga Diperkerjakan untuk Praktik Penipuan Daring

Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Barat menduga warga Agam disekap di Myanmar bekerja di jaringan penipuan daring atau scamming. 

Informasi tersebut diungkap BP3MI Sumatera Barat setelah menelusuri kasus dua perempuan Indonesia yang videonya viral diduga disekap di Myanmar.

Salah seorang korban diketahui bernama Ayu, warga Garagahan, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. 

Sementara seorang lainnya bernama Susi, berasal dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Kepala BP3MI Sumatera Barat, Jupriyadi, mengatakan pihaknya baru mengetahui kasus tersebut setelah video korban beredar luas di media sosial.

Baca juga: Wamenag Romo Syafii Soroti Psikologis Pelaku Bom MAN 3 Padang, Minta Publik Tunggu Investigasi

WARGA AGAM DISEKAP - Viral video yang memperlihatkan dua perempuan Indonesia diduga disekap di Myanmar. Salah seorang korban diketahui bernama Ayu, warga Garagahan, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.  (TribunPadang.com/ist)

"Setelah video viral itu, kami langsung berkoordinasi dengan pihak terkait, mulai dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Agam hingga Polda Sumbar. Dari hasil koordinasi, benar bahwa Ayu merupakan warga Agam," kata Jupriyadi saat diwawancarai TribunPadang.com di ruang kerjanya, Kamis (16/7/2026).

Ia menjelaskan, Ayu diduga berangkat ke luar negeri secara nonprosedural atau tidak melalui jalur resmi. Karena itu, BP3MI tidak memiliki data keberangkatannya.

"Kalau PMI berangkat secara tidak resmi, kami memang tidak mempunyai datanya. Biasanya kami baru mengetahui ketika sudah muncul permasalahan," ujarnya.

Menurut Jupriyadi, berdasarkan informasi yang diterima, pekerjaan yang dijalani korban di Myanmar diduga berkaitan dengan praktik penipuan daring atau scamming.

Baca juga: Viral Warga Agam Diduga Disekap di Myanmar, BP3MI Sumbar Koordinasi Kementerian Upaya Pemulangan

"Kalau wilayah-wilayah Myanmar seperti itu, biasanya pekerjaan yang ada berkaitan dengan scam atau scamming," katanya.

Hingga kini, kondisi kedua korban masih terus dipantau melalui koordinasi dengan berbagai pihak.

"Untuk kondisi korban saat ini kami masih terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait," ucapnya.

Jupriyadi mengatakan BP3MI Sumbar kini telah melaporkan kasus tersebut kepada Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) sebagai langkah awal proses penanganan.

"Kami sudah berkoordinasi dengan kementerian. Tim kami juga sedang menyusun surat dan Insyaallah hari ini dikirim ke pusat. Selanjutnya kementerian akan berkoordinasi dengan KBRI di negara tempat PMI tersebut berada untuk menindaklanjuti upaya pemulangan," jelasnya.

Baca juga: Jembatan Darurat Anduriang Padang Pariaman Kembali Beroperasi, Jembatan Permanen Baja Disiapkan

Dari hasil koordinasi dengan Dinas Agam, diketahui hanya ada satu warga Sumatera Barat yang menjadi korban, yakni Ayu.

Sementara korban lainnya, Susi, merupakan warga Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Keduanya diketahui berangkat bersama setelah bertemu saat merantau di Sulawesi.

"Ayu sebelumnya merantau ke Sulawesi dan bertemu dengan Susi di sana. Setelah itu mereka berangkat bersama ke Batam, lalu ke Malaysia, kemudian masuk ke Myanmar," katanya.

Ia menegaskan pola perjalanan tersebut menjadi indikasi bahwa keduanya berangkat secara ilegal.

"Kalau PMI nonprosedural biasanya berangkatnya berpindah-pindah, ke Batam dulu, Malaysia dulu, baru ke Myanmar. Berbeda dengan PMI yang resmi, mereka berangkat sesuai prosedur dan dokumennya lengkap," ujarnya.

Baca juga: Manajemen Krisis Pagi di Kuranji Padang: Saat Jatah Air Mandi Anak Sekolah Harus Dihemat Ekstrem

Jupriyadi mengungkapkan BP3MI Sumbar selama ini terus mengintensifkan sosialisasi untuk mencegah masyarakat menjadi pekerja migran nonprosedural.

Salah satunya melalui program Gerakan Migran Aman yang melibatkan berbagai instansi dan pemangku kepentingan di Sumatera Barat.

"Kami sudah mengadakan deklarasi Gerakan Migran Aman bersama berbagai stakeholder. Selain itu kami juga memasang videotron di Kota Padang dan beberapa daerah di Sumbar untuk mengedukasi masyarakat agar bekerja ke luar negeri melalui jalur resmi," katanya.

Menurutnya, upaya tersebut bertujuan memitigasi risiko sebelum masyarakat memutuskan bekerja ke luar negeri.

"Kami ingin calon pekerja migran bekerja dengan aman, sesuai prosedur, dokumennya lengkap, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti ini tidak terjadi," tutup Jupriyadi. 

2. Remaja 14 Tahun Hilang Diseret Ombak di Agam Ditemukan Meninggal, Jasad Mengapung 5,9 Mil Laut

Harapan keluarga dan warga agar Berkat Saputra Lavau (14), remaja yang hilang usai terseret ombak di Pantai Muaro Putuih, Nagari Tiku Limo Jorong, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, ditemukan dalam keadaan selamat akhirnya pupus.

Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Kamis (16/7/2026) sekitar pukul 08.05 WIB atau kurang dari dua jam setelah tim SAR gabungan kembali melanjutkan pencarian di hari kedua operasi.

Jenazah korban ditemukan sekitar 5,90 mil laut dari lokasi awal korban dilaporkan tenggelam.

Kepala Kantor SAR Kelas A Padang, Abdul Malik, mengatakan pencarian kembali dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan mengerahkan seluruh personel SAR gabungan yang telah bersiaga sejak sehari sebelumnya.

"Pada hari kedua operasi SAR, tim melaksanakan penyisiran sejauh kurang lebih tiga mil laut. Korban berhasil ditemukan pada pukul 08.05 WIB dalam keadaan meninggal dunia menggunakan pola penyisiran dengan perahu LCR," kata Abdul Malik.

Baca juga: Daihatsu Xenia Naik ke Taman Depan UNP, Warga Dengar Dentuman Kecelakaan Tunggal di Padang

Ia menjelaskan, setelah korban ditemukan, tim langsung melakukan proses evakuasi dan membawa jenazah ke daratan sebelum diserahkan kepada pihak keluarga di rumah duka.

"Korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke rumah duka. Dengan ditemukannya korban, operasi SAR resmi ditutup," ujarnya.

Penyisiran Dilakukan di Sejumlah Titik Laut

Pada hari kedua pencarian, tim SAR gabungan membagi operasi menjadi tiga Search and Rescue Unit (SRU).

Masing-masing SRU menyisir sejumlah titik yang telah ditentukan berdasarkan analisis arah arus laut serta lokasi terakhir korban terlihat.

Penyisiran dilakukan menggunakan berbagai peralatan SAR, termasuk perahu karet ringan (LCR), kendaraan operasional, hingga peralatan keselamatan air.

Abdul Malik mengatakan koordinasi seluruh unsur berjalan dengan baik sehingga proses pencarian dapat berlangsung efektif.

"Kami mengerahkan seluruh potensi SAR yang ada dan melakukan pencarian secara terpadu hingga korban berhasil ditemukan," katanya.

Baca juga: Prakiraan Cuaca 7 Kota Sumbar Hari Ini: Kota Bukittinggi dan Pariaman Hujan Ringan

Operasi SAR Resmi Berakhir

Usai proses evakuasi selesai, seluruh personel SAR gabungan melaksanakan briefing penutupan operasi sekitar pukul 08.30 WIB.

Basarnas menyampaikan apresiasi kepada seluruh instansi serta masyarakat yang ikut membantu proses pencarian sejak hari pertama.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh unsur SAR gabungan, pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat yang telah bekerja sama selama operasi berlangsung," ujar Abdul Malik.

Dengan ditemukannya korban, seluruh personel yang terlibat kemudian kembali ke satuan masing-masing.

Terseret Ombak Saat Mandi Bersama Teman

Peristiwa nahas itu terjadi pada Rabu (15/7/2026) sekitar pukul 11.43 WIB.

Saat itu, Berkat Saputra Lavau mandi di Pantai Muaro Putuih bersama sejumlah temannya. Ketika sedang bermain air, korban diduga terseret ombak hingga tenggelam.

Teman-teman korban yang mengetahui kejadian tersebut segera meminta pertolongan kepada warga sekitar.

Masyarakat kemudian melakukan pencarian secara mandiri, namun korban belum berhasil ditemukan hingga akhirnya peristiwa itu dilaporkan kepada BPBD Kabupaten Agam dan diteruskan ke Kantor SAR Padang.

Operasi pencarian kemudian melibatkan sedikitnya 52 personel dari berbagai unsur, di antaranya Unit Siaga SAR Agam, Basarnas Padang, BPBD Kabupaten Agam, PMI Agam, Polri, perangkat nagari, serta masyarakat setempat.

Selama operasi berlangsung, kondisi cuaca di lokasi dilaporkan berawan dengan kecepatan angin sekitar 9 knot, sehingga proses penyisiran masih dapat dilakukan menggunakan armada laut milik Basarnas. 

3. Jembatan Darurat Anduriang Padang Pariaman Kembali Beroperasi, Jembatan Permanen Baja Disiapkan

Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman kembali memfungsikan jembatan darurat Anduriang di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam.

Pemerintah daerah membuka akses ini setelah menyelesaikan normalisasi Sungai Batang Anai. Langkah cepat tersebut memulihkan mobilitas masyarakat penyeberang sungai secara instan.

Dinas PUPR setempat membuka jembatan darurat Anduriang lebih cepat dari jadwal semula. Koordinasi intensif bersama Dinas SDABK Provinsi Sumatera Barat memangkas waktu pengerjaan dari tiga hari menjadi hanya dua hari saja.

"Percepatan ini dilakukan agar aktivitas masyarakat, khususnya pelajar, pekerja, dan pengguna kendaraan roda dua, dapat kembali berjalan normal tanpa harus menunggu lebih lama," ujar Kepala Dinas PUPR Kabupaten Padang Pariaman, El Abdes Marsyam dilansir Kamis (16/7/2026).

Saat ini, jembatan darurat masih berstatus fungsional dan akan terus disempurnakan secara bertahap. Pemerintah berencana menambah pengaman pada sisi kiri dan kanan jembatan guna meningkatkan keselamatan pengguna.

Baca juga: Manajemen Krisis Pagi di Kuranji Padang: Saat Jatah Air Mandi Anak Sekolah Harus Dihemat Ekstrem

Untuk sementara, jembatan hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki, kendaraan roda dua, serta kendaraan roda tiga seperti becak. Kendaraan roda empat belum diizinkan melintas mengingat kondisi konstruksi yang masih bersifat sementara.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tetap berhati-hati saat melintasi jembatan. Jalur tersebut menjadi akses vital yang setiap harinya digunakan oleh lebih dari dua ribu kendaraan, sehingga aspek keselamatan menjadi prioritas utama selama masa transisi.

Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) telah menyiapkan pembangunan jembatan permanen yang akan menggantikan akses sementara tersebut.

 Jembatan baru dirancang memiliki panjang 140 meter, terdiri atas dua bentang masing-masing sepanjang 70 meter dengan lebar enam meter dan menggunakan konstruksi rangka baja.

Proyek yang diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp45,2 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) itu ditargetkan mulai dikerjakan pada tahun 2026.

Baca juga: Pemkab Dharmasraya Gandeng 6 Perusahaan Bangun Jalan, Dana CSR Rp6,6 Miliar Siap Dikerahkan

Kehadiran jembatan permanen diharapkan mampu memulihkan konektivitas kawasan secara menyeluruh sekaligus memperkuat akses transportasi bagi lebih dari 40 ribu masyarakat yang selama ini bergantung pada jalur penyeberangan tersebut.

Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman menegaskan bahwa percepatan pemulihan infrastruktur pascabencana merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan pelayanan publik yang lebih baik.

Sinergi antara pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan pemerintah pusat diharapkan mampu mempercepat terwujudnya infrastruktur yang aman, tangguh, dan berkelanjutan bagi masyarakat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.