TRIBUNNEWS.COM - Penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD) bukan sekadar keluhan asam lambung yang naik hingga menyebabkan rasa panas di dada atau tenggorokan.
Dalam kondisi tertentu, GERD yang berlangsung lama dan tidak ditangani dengan baik dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker esofagus.
Hal tersebut disampaikan dokter spesialis gastroenterologi, hepatologi, dan endoskopi di Rumah Sakit Mt Elizabeth, Singapura, dr. Juanda Leo Hartono, dalam tayangan YouTube Tribun Health.
Menurut penjelasannya, GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan (esofagus) secara berulang.
Berbeda dengan lambung yang memiliki lapisan pelindung terhadap asam, jaringan esofagus tidak dirancang untuk terus-menerus terpapar cairan asam.
Akibat paparan yang berulang, dinding esofagus dapat mengalami iritasi, peradangan, bahkan luka dan perdarahan.
Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, sel-sel di esofagus akan berusaha beradaptasi terhadap lingkungan yang asam.
dr. Juanda menjelaskan bahwa proses adaptasi tersebut melibatkan perubahan atau mutasi sel.
Pada awalnya, perubahan ini merupakan upaya tubuh agar jaringan esofagus lebih tahan terhadap paparan asam lambung.
"Tapi dari proses mutasi itu, kalau kelamaan kebanyakan, dia kadang-kadang mutasinya salah. Jadinya mutasinya menjadi kanker. Jadi, bisa menyebabkan menjadi kanker," ujar dr. Juanda, dalam podcast Tribun Health di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah, yang dikutip Jumat (17/7/2026).
Ia menambahkan, risiko tersebut terutama terjadi pada penderita GERD yang sudah mengalami peradangan berat atau luka pada esofagus dan tidak mendapatkan pengendalian yang optimal.
Baca juga: Apakah Benar Makanan Asam dan Pedas Jadi Penyebab GERD? Ini Penjelasan Dokter
"Kalau misalnya GERD yang separah sampai menjadi peradangan atau ada luka dalam esofagusnya, itu bisa kalau tidak terkontrol dengan baik, kalau peradangannya terus-menerus tidak terkontrol, di kemudian hari dia bisa menyebabkan kanker dalam esofagus," jelasnya.
Meski demikian, dr. Juanda menyebut kasus kanker esofagus akibat GERD lebih banyak ditemukan di negara-negara Barat.
Salah satu penyebabnya adalah angka kejadian GERD berat di negara-negara tersebut lebih tinggi dibandingkan di populasi Asia.
"Ini memang lebih banyak dijumpai di negara Barat, karena mereka GERD-nya lebih parah daripada kita orang Asia," paparnya.
Karena itu, penderita GERD disarankan tidak mengabaikan gejala yang muncul, terutama bila keluhan berlangsung kronis, sering kambuh, atau disertai gejala seperti sulit menelan, nyeri saat menelan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau muntah darah.
Penanganan yang tepat dan pengendalian peradangan sejak dini dapat membantu menurunkan risiko terjadinya komplikasi serius, termasuk kanker esofagus.
(Tribunnews.com/Latifah)