Hasil CKG, Ini Penyakit Terbanyak yang Dialami Warga RI Tiap Kelompok Usia
GH News July 17, 2026 11:08 AM
Jakarta -

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus dorong program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Per tahun 2026 ini, program CKG resmi melangkah ke tahap pengobatan, khususnya bagi masyarakat yang terdiagnosis penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes melitus.

Hingga 5 Juli 2026, antusiasme warga terbilang luar biasa. Tercatat sudah ada 59,6 juta masyarakat yang memanfaatkan layanan periksa gratis ini.

Angka tersebut bahkan sukses melampaui target mingguan. Memasuki tahun ajaran baru sekolah, Kemenkes pun makin optimistis bisa mengejar target 130 juta peserta di akhir tahun 2026.

Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa CKG bukan sekadar program skrining massal biasa. Ini adalah fondasi penting untuk mengubah kebiasaan masyarakat, dari yang tadinya baru berobat saat sudah sakit, menjadi fokus pada pencegahan sejak dini.

"Semakin banyak masyarakat yang melakukan cek kesehatan, semakin dini penyakit dapat ditemukan dan diobati. Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif," ujar Menkes yang dikutip dari laman resmi Kemenkes.

Beda Usia, Beda 'Penyakitnya'

Menariknya, data hasil CKG selama satu semester terakhir berhasil memetakan masalah kesehatan spesifik yang mengintai masyarakat berdasarkan kelompok usianya. Berikut rinciannya:

1. Bayi Baru Lahir

Dari hasil skrining bayi baru lahir (Newborn Screening), penyakit jantung bawaan kritis menjadi ancaman terbesar. Dari 490 ribu bayi yang diperiksa lewat alat deteksi kadar oksigen (pulse oximetry), sekitar 4,3 persen atau 20.946 bayi terindikasi memiliki kelainan jantung bawaan dan butuh pemeriksaan lanjutan.

2. Anak SD

Masalah kesehatan yang paling mendominasi adalah karies gigi alias gigi berlubang. Selain itu, mulai ditemukan masalah peningkatan tekanan darah, gangguan gizi, serta masalah pendengaran dan penglihatan.

3. Anak SMP dan SMA

Masalah gigi berlubang masih nangkring di posisi teratas. Tetapi di usia remaja ini, mulai muncul alarm bahaya kesehatan jiwa seperti kecemasan dan depresi.

Risiko tuberkulosis (TBC) dan masalah gizi juga mulai mengintai kelompok usia ini.

Secara umum, pada kelompok anak sekolah dan remaja, gigi berlubang dialami oleh lebih dari 40 persen peserta yang diperiksa. Disusul oleh anemia (27 persen), peningkatan tekanan darah (21 persen), penumpukan kotoran telinga (7 persen), serta obesitas (7 persen).

Kemenkes juga menyoroti fenomena double burden atau beban ganda masalah gizi di Indonesia. Saat ini, jumlah anak yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan hampir sama banyaknya dengan anak yang kekurangan gizi.

"Sekarang kita memiliki data kesehatan masyarakat yang jauh lebih lengkap. Kita tahu masalah kesehatan anak SD berbeda dengan anak SMP maupun SMA. Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran," tambah Menkes.

Mulai Fokus Obati Hipertensi dan Diabetes

Bagi peserta CKG yang telanjur terdiagnosis penyakit kronis, Kemenkes kini memastikan mereka mendapatkan pengobatan yang semestinya. Sejauh ini, trennya cukup positif.

Sebanyak 35,4 persen pasien hipertensi yang terjaring di CKG tahun lalu sudah kembali memeriksakan diri di tahun 2026, di mana 46,9 persen di antaranya sukses mengendalikan tekanan darah mereka.

Sementara untuk pasien diabetes, ada 33,1 persen pasien yang kembali kontrol. Sekitar 69,4 persen di antaranya berhasil menjaga kadar gula darahnya tetap stabil.

Pemerintah menargetkan setidaknya setengah dari orang dengan penyakit kronis ini bisa rutin berobat dan mencapai kondisi yang terkendali. Langkah ini diyakini ampuh menurunkan angka kematian akibat serangan jantung dan stroke di Indonesia.

Menkes kemudian mencontohkan kisah sukses negara lain, seperti Korea Selatan, yang berhasil menekan angka kematian akibat penyakit jantung lewat strategi 'Triple 80'.

"Yaitu 80 persen masyarakat diskrining, 80 persen penderita diobati, dan 80 persen di antaranya berhasil terkendali. Itulah arah yang sedang kita bangun di Indonesia," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.