Kubur Jasad di Pekarangan Rumah, Gadis Nganjuk dan Pacarnya Habisi Ayah Angkat karena Tak Direstui
Sarah Elnyora Rumaropen July 17, 2026 11:45 AM

SURYAMALANG.COM, NGANJUK - Kasus penemuan jasad pria, Gatot Tri Wahyu Widodo (53) yang terkubur di pekarangan samping rumah di Dusun Nanggungan, Desa Kaloran, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur akhirnya resmi terungkap sebagai aksi pembunuhan berencana yang sadis. 

Pihak Satreskrim Polres Nganjuk bergerak cepat dengan meringkus dua orang tersangka, yakni seorang gadis berinisial DM (19) bersama kekasihnya, NJS (28), kurang dari 10 jam setelah jasad korban ditemukan pada Rabu (15/7/2026).

Penangkapan ini sekaligus menyingkap tabir motif asmara terlarang dan dendam lama yang menjadi pemantik utama di balik aksi nekat sepasang kekasih tersebut.

Penemuan Gundukan Tanah Misterius

Kasus pembunuhan terungkap berkat kecurigaan warga Dusun Nanggungan, Desa Kaloran, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk.

Sebelum jasad Gatot ditemukan terkubur secara tidak wajar pada Rabu (15/7/2026) pukul 15:00 WIB, pihak keluarga sempat menyebarkan informasi bahwa korban menghilang secara misterius sejak Senin (13/7/2026). 

Kepala Seksi Pemerintahan Desa Kaloran, Joko Hari Karyono, membenarkan isu awal hilangnya korban.

"Istrinya billing kalau sang suami (Gatot) hilang," katanya, Rabu (15/7/2026). 

Baca juga: Tragedi CR-V Tol Malang-Pandaan Pisahkan Balita Kembar: Satu Tewas Bersama Ibu, Satu Berjuang di RS

Kecurigaan warga mulai muncul karena sempat terdengar keributan di rumah korban sebelum ia dinyatakan hilang.

"Di rumah ini sempat terjadi pertengkaran. Meski begitu karena menganggap urusan keluarga, warga tak mau ikut campur atau melerai," terang Joko. 

Rencana keluarga untuk melapor ke polisi sempat batal karena muncul klaim simpang siur bahwa Gatot berpindah dari Jombang ke Malang. Namun, warga tidak percaya begitu saja karena mengetahui kondisi kesehatan fisik korban.

"Kami curiga. Menurut keyakinan saya, pak Gatot tidak mungkin hilang. Dia normal tidak pikun. Daya ingatnya normal. Hanya saja memang pak Gatot sedang terserang sakit paru-paru," papar Joko. 

Didorong rasa khawatir atas kondisi penyakit paru-paru korban, lima orang warga berinisiatif mendatangi rumah Gatot yang dikenal tertutup.

Kedatangan mereka disambut oleh adik ipar korban yang sedang menumpang menginap di sana.

"Keluarga ini dikenal tertutup. Jarang berinteraksi dengan warga," urainya. 

Setelah mendapatkan izin untuk memeriksa situasi di dalam rumah, warga mulai melakukan pencarian.

"Warga masuk rumah itu. Kami menyisir di berbagai titik," paparnya. 

Pencarian kemudian diperluas hingga ke area luar bangunan.

Di pekarangan samping rumah, warga menemukan kejanggalan berupa gundukan tanah baru yang ditutupi genting rapi dan batang pohon pisang, disertai bau busuk menyengat dan temuan mencurigakan di area sanitasi. 

"Warga tak membongkar gundukan itu. Di samping itu, warga juga melihat ada bercak darah di dekat kamar mandi. Kami langsung bergegas menghubungi Polsek Ngronggot, yang saya pikirkan terjadi sesuatu," terang Joko. 

Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian.

Petugas yang tiba di lokasi segera melakukan olah TKP dan mengevakuasi jasad Gatot yang terkubur di dalam gundukan tanah tersebut untuk proses penyelidikan lebih lanjut.

Pembunuhan Berencana

Dari hasil penyelidikan, Satreskrim Polres Nganjuk berhasil mengamankan dua tersangka yakni anak angkat korban, DM (19) dan sang kekasih, NJS (28) dalam waktu 10 jam sejak penemuan jasad korban atau Kamis (16/7/2026) sekira pukul 01.00 WIB.

Kasat Reskrim Polres Nganjuk, AKP Sukaca mengatakan kedua tersangka mengeksekusi korban dengan direncanakan terlebih dahulu. 

"Ini adalah pembunuhan berencana. Jadi sebelum mengeksekusi, sudah direncanakan," katanya, Kamis (16/7/2026). 

Rencana pembunuhan tersebut muncul pada Sabtu (11/7/2026). Kala itu, kedua tersangka bertemu di sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk lalu DM membagi peran dengan NJS untuk menghabisi nyawa korban. 

"Yang punya ide inisiatif, merencanakan, dan membagi peran, tersangka DM. Sehingga otak pembunuhan ini adalah DM," jelasnya. 

Dendam dan Sakit Hati Cinta Tak Direstui

Wakapolres Nganjuk, Kompol Didid Wahyu Agustyawan mengatakan, dalam pemeriksaan DM mengaku sudah memendam amarah sedari kecil lantaran mendapat pola asuh keras, baik secara fisik maupun verbal dari sang ayah.

Emosi DM kian memuncak tatkala dirinya mengetahui statusnya yang ternyata merupakan anak angkat. 

"Kondisi itu diduga menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi perbuatan tersangka DM," katanya, Kamis (16/7/2026). 

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Nganjuk, AKP Sukaca melanjutkan, tersangka NJS (28) warga Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk yang merupakan kekasih DM, turut terlibat dalam kasus ini. 

Hal yang mendasari NJS ikut serta melakukan pembunuhan karena hubungan asmaranya dengan DM tidak direstui akibat perbedaan kasta finansial, di mana keluarga DM menilai ekonomi NJS kurang mampu.

Selain itu, NJS juga dijanjikan sejumlah uang oleh DM setelah mereka melancarkan tindak kejahatan tersebut.

"Iming-iming itu diterima NJS, sebab NJS sedang menghadapi tekanan ekonomi akibat keluarganya terlilit utang," sebutnya.

Kronologi Eksekusi dan Penguburan Korban

Kasat Reskrim Polres Nganjuk, AKP Sukaca mengatakan, tersangka memiliki peran masing-masing saat melancarkan aksi keji tersebut.

DM berperan membekap mulut korban dari belakang dalam posisi berdiri. Kemudian, NJS berdiri di hadapan korban sembari menjegalnya. Tubuh korban pun terhempas ke lantai. 

"Tatkala terjatuh, korban sempat memberikan perlawanan ke NJS," katanya. 

Mengingat korban menderita penyakit paru-paru, Gatot kalah kekuatan, sehingga tubuhny lemas dengan posisi telentang. 

"Saat kondisi telentang kaki korban dipegang NJS. DM menyiapkan alat bantu palu," jelasnya. 

Setelahnya, DM menghujamkan palu tersebut ke arah kepala Gatot sebanyak tiga kali. Tak berhenti di situ, DM kembali mengambil sebilah pisau. 

"DM menikam bagian perut korban sebanyak sekali. DM meneruskan serangan. Dia langsung menggorok leher korban," ucapnya. 

Peristiwa pembunuhan ini berlangsung Senin (13/7/2026) sekira pukul 15.00 WIB.

Menurut keterangan warga yang mengecek rumah korban, mereka melihat bercak darah di ruang belakang dekat kamar mandi. Penghabisan nyawa Gatot ditengarai dilakukan di lokasi itu. 

Berselang waktu, pukul 19.00 WIB, tersangka mengubur korban di pekarangan samping rumah.

Tersangka NJS mengeduk tanah menggunakan sebuah cangkul. Tersangka menggali tanah tak terlalu dalam, perkiraannya kurang dari 1,5 meter-2 meter, sehingga bau menyengat terhirup tetangga sekitar.

Di atas gundukan kuburan, tertata rapi genting dan batang pohon pisang. 

"Kematian disebabkan urat nadi yang terputus di leher. Luka fatalnya di leher," ujar AKP Sukaca.

Alat bantu berupa palu untuk menghantam kepala dan sebilah pisau yang digunakan menikam perut serta menggorok leher korban telah dipersiapkan di rumah.

Palu dan sebilah pisau diduga dibuang tersangka untuk menghilangkan jejak. Lokasi pembuangan barang bukti belum diketahui pasti. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.