POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Hari Jumat Pekan Biasa XV/A/II, 17 Juli 2026 dari Pater Fransiskus Funan Banusu SVD berjudul Hidup Dalam Roh Cinta kasih: Menjunjung kemanusiaan.
Renungan Harian Katolik ini merujuk pada Bacaan (Yes. 38:1-6.21-22.7-8; Mzm. 38:10.11.12abcd.16; Mat. 12:1-8).
"Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat." (Mat. 12:2).
Orang yang bijaksana menjunjung tinggi kemanusiaan dalam semua lini hidupnya karena membawa kebaikan. Apa yang menjadi kebutuhan vital manusia dan bersifat mendesak harus diutamakan.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 16 Juli 2026, Yang Datang kepada Yesus, Jiwanya akan Tenang
Orang lapar dan haus membutuhkan makanan dan minuman. Tidak ada budaya, hukum maupun aturan yang melarang orang makan dan minum ketika lapar dan haus.
Pelayanan, kepedulian, keberpihakan atau berbelas kasih kepada kaum kecil, papa yang lapar dan haus pada dasarnya melayani kemanusiaan menghargai martabat.
Kebaikan ini serentak menjadi imperatif atau perintah utama dari Tuhan yang mesti dijalani oleh anak-anak Allah, karena membawa kebaikan, berkat dan ganjaran besar untuk hidup.
Para Farisi di hadapan Yesus menampilkan satu cara hidup yang berbeda dan kontras dengan semangat dasar hukum/aturan yang pada prinsipnya melayani kemanusiaan. Mereka fokus pada penghayatan hukum Sabat yang semu dan tak berperi kemanusiaan.
Hanya karena hari Sabat orang dilarang untuk berbuat sesuatu memenuhi kebutuhan dasarnya makan dan minum karena lapar.
Kehilangan spirit Roh cinta kasih dalam hidup membawa sesuatu yang fatal dalam penerapan hukum. Hukum yang seharusnya menyelamatkan bisa berubah menjadi alat kejam dan membawa kekacuan besar dalam hidup. Hukum tanpa penghayatan iman yang benar membelenggu kemanusiaan. Dalam versi Yesus, hukum harus melayani dan menyelamatkan manusia.
Sebab itu pertimbangan kemanusiaan dalam hukum itu penting agar agar kesempurnaan menjalan hukum tidak menjebak manusia dalam kerapuhan hidup karena adanya tendensi mengorbankan orang lain.
Konsekuensi dalam menjalankan hukum secara benar membawa pahala tidak hanya untuk hidup kini tapi juga untuk hidup yang akan datang.
Hizkia, raja Yehuda mengalami tantangan hebat dalam hidupnya.
Bangsa-bangsa yang berdampingan dengannya terus menekan dengan kekerasan. Ia pun jatuh sakit parah hampir mati.
Dalam ketakberdayaannya ia mengandalkan Tuhan dengan berdoa. Doa dengan iman kokoh didengarkan oleh Tuhan. Hizkia mendapatkannya. Yesaya, Tuhan utus untuk meneguhkannya.
Air matanya Tuhan hapus dan ia diberi bonus hidup beberapa tahun lagi. Malalui Yesaya Tuhan berpesan kepadanya, "Telah Kudengar doamu dan telah Kuhapus air matamu. Sungguh, Aku akan memperpanjang hidupmu 15 tahun lagi." (Yes. 38:5). Ini pahala karena ia hidup baik dan menjalankan hukum Tuhan dengan benar.
Pemazmur menanggapi dalam madahnya, "Ya Tuhan, karena inilah hatiku mengharapkan Dikau: Tenangkanlah batinku, buatlah aku sehat, buatlah aku sembuh." (Mzm. 38:16).
Hidup kini dan nanti terhubung. Jembatan menuju ketersambungan hidup itu adalah doa.
Melalui doa kita mendapatkan kasih dan kerahiman Tuhan sendiri di mana kita diangkat dari keputusasaan karena kerapuhan manusiawi kita.
Hidup dalam spirit kasih agar kemanusiaan, martabat sesama terus dijunjung tinggi. Hukum kasih bertujuan untuk menyelamatkan sesama dan bukan untuk membelenggu kemanusiaannya. Melalui kuasa Roh Kudus kita dituntun untuk menjadi pelaksana hukum kasih yang benar demi kebaikan yang kita damabakan dalam hidup.
Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (*)