Alasan Polda Belum Tindak Kecurangan Kelangkaan BBM, Dampak Kelangkaan di Sumut Parah, Ojol Mengeluh
Salomo Tarigan July 17, 2026 11:55 AM

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Dugaan kecurangan di balik kelangkaan Bahan Bakar Umum (BBM) mencuat.

Kelangkaan BBM terjadi di hampir seluruh SPBU di Sumut terjadi sudah sepekan.

Hingga hari ini, Jumat (17/7/2025) pasokan BBM ke SPBU belum normal.

Masih banyak antrean pengendara di sejumlah SPBU.

Karo Ops Polda Sumut, Kombes Dwi Tunggal Jaladri mengatakan, sudah menerima informasi adanya kecurangan.

KOMBES DWI - Karo Ops Polda Sumut Kombes Dwi Tunggal Jaladri (Kiri), bersama Kabid Humas Polda Sumut Kombes Ferry Walintukan (Kanan)
KOMBES DWI - Karo Ops Polda Sumut Kombes Dwi Tunggal Jaladri (Kiri), bersama Kabid Humas Polda Sumut Kombes Ferry Walintukan (Kanan) (TRIBUN MEDAN/Fredy Santoso)

Namun, Polda Sumut menyatakan belum mengambil tindakan.

Alasannya, Polda Sumut belum menerima laporan dari Pertamina, maupun pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SBPU).

Haruskah menunggu delik aduan?

Sejauh ini, polisi juga belum menerima penjelasan, kenapa tidak melapor ke Polisi jika menemukan adanya indikasi kecurangan, pengiriman BBM dari Depot Pertamina ke SPBU.

"Belum ada laporan. Tapi kalau pemiliknya tidak lapor, kita tidak bisa. Karena yang tahu dia kurang berapa, ini berapa kan harus ada pengukuran T1, T2-nya,"kata Karo Ops Polda Sumut, Kombes Dwi Tunggal Jaladri, Kamis (16/7/2026).

Ditanya mengenai adanya dugaan tindak pidana, dan tidak membuat laporan model A, yang mana pelapornya adalah polisi.

Polda kembali menyebut harus menunggu laporan dari Pertamina.

Pernah Ungkap Penyelewengan

Terkait kecurangan, Polrestabes Medan belum lama ini mengungkap kasus penyelewengan pendistribusian BBM bersubsidi akhir Juni lalu.

Diketahui, penyelewengan ini terjadi di salah satu SPBU di Jalan Gajah Mada, Kota Medan. 

Empat orang dijadikan tersangka dalam kasus ini.

Modus para pelaku ini  memasukkan BBM bersubsidi jenis Bio Solar ke dalam tangki yang seharusnya diisi Dexlite di SPBU tersebut.

Harga solar saat ini dibanderol mulai dari Rp6.800 per liter (subsidi).

Harga Dexlite Rp23.000 per liter (non-subsidi).

Sebelumnya, polisi juga pernah bertindak menyegel SPBU di Jalan Flamboyan Raya karena pengoplosan BBM. 

Penyegelan dilakukan oleh Polrestabes Medan karena pihak SPBU terbukti mencampur BBM subsidi jenis Pertalite dengan bensin ilegal.

 

Mengenai kelangkaan BBM yang masih terjadi hingga hari ini,  Kombes Dwi mengatkan, kalaupun  nanti diselidiki, nantinya ditangani Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumut.

"Itu tugas Krimsus. Jadi laporan dulu dari pemiliknya. Kalau pemiliknya tidak.. hanya dia tidak lapor, kita tidak bisa."

Sebelumnya, Kepolisian Daerah Sumatera mengatakan telah melakukan rapat koordinasi dengan Pertamina Sumbangut, Disperindag, mengenai kelangkaan bahan bakar minyak (BBM),   Rabu 15 Juli.

Berdasarkan hasil penjelasan yang diterima Polisi dari PT Pertamina, ada beberapa permasalahan penyebab BBM sulit didapat, hingga akhirnya menimbulkan kemacetan dimana-mana, akibat antrean.

Baca juga: Terkuak Fakta Lain 2 Wanita PSK, Sebelum Peristiwa ASN Lompat dari Apartemen Setia Budi

PHK Sopir

Kombes Dwi Tunggal Jaladri mengatakan, beberapa di antaranya ialah pemberhentian sopir pengangkut, dan dugaan kecurangan jumlah bahan bakar minyak (BBM), yang dikirim dari Depo Pertamina Medan atau sering disebut sebagai Fuel Terminal Medan, ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

"Hasil daripada rapat koordinasi yang pertama itu ada pemutusan hubungan kerja dari Pertamina terutama untuk awak muatan transportir,"kata Dwi Tunggal Jaladri, Kamis (16/7/2026).

Baca juga: PSMS Menang 10-0, Optimis Hadapi Kompetisi Liga 2 dan Piala Presiden 2026

Mantan Dirsamapta Polda Sumut ini mengungkapkan, pemutusan hubungan kerja (PHK) sopir ini berdasarkan laporan dari pihak SPBU.

Penyusutan Isi Bahan Bakar

Pihak SPBU mengadukan ke Pertamina adanya penyusutan isi bahan bakar minyak (BBM), yang mereka terima, serta keterlambatan tiba.

Keterlambatan tiba diestimasikan selama 2 jam perjalanan, namun bisa molor menjadi 2,5 jam.

"Di mana di dalam pengukuran kemarin dari Ibu Eryana itu, cara mengukur, menyampaikan bahwasanya antara T1 dan T2 yang dikirim oleh Pertamina sampai di SPBU itu terjadi penyusutan.

Dan juga keterlambatan, di mana estimasi pengiriman yang selayaknya dua jam, ini terjadi kelambatan menjadi dua setengah jam,"ungkapnya.

Sopir Ungkap Permainan 

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite dan Solar di sejumlah SPBU di Kota Medan diduga kuat bukan disebabkan oleh kurangnya pasokan, melainkan adanya permainan dari internal Pertamina sendiri. 

SOPIR TRUK BBM - Suasana Awak Mobil Tangki (AMT) atau supir tangki PT Pertamina sedang menunggu surat jalan untuk melakukan pendistribusian bahan bakar minyak (BBM) ke sejumlah SPBU di Kota Medan, Rabu (15/7/2026)
SOPIR TRUK BBM - Suasana Awak Mobil Tangki (AMT) atau supir tangki PT Pertamina sedang menunggu surat jalan untuk melakukan pendistribusian bahan bakar minyak (BBM) ke sejumlah SPBU di Kota Medan, Rabu (15/7/2026) (TRIBUN MEDAN)

Hal ini diungkapkan oleh seorang awak mobil tangki (AMT) atau sopir tangki PT Pertamina yang enggan disebutkan namanya, Rabu (15/7/2026).

Baca juga: KPK Didesak Ambil Alih Kasus Korupsi Febrie dari Kejagung, Buktikan Tidak Tebang Pilih

Sopir tangki tersebut mengaku bingung dengan langkah Gubernur Sumatera Utara yang mengerahkan perbantuan TNI-Polri serta mendatangkan AMT dari Aceh, padahal menurutnya tidak ada masalah serius di lapangan.

"AMT ready semua ya. Nggak ada itu yang katanya mogok kerja. Bahkan sampai perbantuan dari Aceh sana, AMT dipanggil. Sampai sana dipanggil kemari. Pergi kemari pun bukan kerja. Nggak ada. Duduk-duduk di kantin aja kadang," ujarnya saat ditemui Tribun Medan.

Ia mengungkapkan bahwa kelangkaan BBM saat ini justru disebabkan oleh kebijakan internal Pertamina yang sengaja membatasi pasokan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite dan Solar ke sejumlah SPBU di Medan dan luar daerah untuk mendorong masyarakat membeli BBM Pertamax yang harganya lebih mahal.

"SPBU minta BBM Pertalite 24 ribu liter, tapi dikirim 8 ribu liter. Dijatah sama Pertamina. Ibaratnya kalau kelen mau minyak, kelen beli BBM Pertamax. Jadi Pertamax dibeli masyarakat mau nggak mau, walaupun mahal.

Ini permainan jahat. Semenjak kepemimpinan seorang pria berinisial T. Kalau sebelumnya nggak pernah gitu. Tahun lalu nggak gitu," ungkap salah seorang sopir tangki PT Pertamina.

Baca juga: Tanggapan Istana, Prajurit TNI Jadi Sopir Truk Pertamina karena Banyak Diberhentikan hingga Mogok

Menurutnya, pasokan BBM sebenarnya melimpah dan tidak ada kelangkaan.

Ratusan mobil tangki siap mengantar dan stok di depot pun tersedia banyak. 

Namun, pengiriman ke SPBU sengaja dikurangi.

Sopir tangki juga menyoroti peran para pelangsir atau mobil-mobil yang mengantre di SPBU untuk membeli solar bersubsidi. 

Menurutnya, solar yang dibeli tersebut kemudian dijual ke industri dengan harga mencapai Rp 15 ribu per liter, jauh lebih tinggi dari harga eceran.

"Mafia-mafia minyak ini, AMT tak berani lagi untuk siong. Enggak berani. Jadi dari mana mafia ini dapat minyak? Ya dari pelangsir. Mobil-mobil orang ini dibuat untuk mengisi solar full. Setiap mobil dikasih satu barcode, diisi full solar ready. Bahkan ini ngantri-ngantri minyak kadang. Pajero Sport, Pertamina. Itu mobil-mobil pelangsir," ujarnya.

Permainan di Tingkat SPBU

Ia juga mengungkapkan praktik permainan di tingkat SPBU.

Menurutnya, oknum tukang bongkar seringkali bermain dengan mengurangi volume BBM saat pembongkaran, kemudian menyalahkan supir tangki atas kekurangan tersebut.

"Padahal masalahnya bukan karena memberikan uang bongkar. Masalahnya tadi karena tukang bongkar mereka sendiri yang bermain. Kita yang dibuat jadi jelek. Pas pembongkaran orang itu membongkar, kalau memang kurang ya, pasti orang itu enggak mau bongkar. Kenapa bisa pas sudah penjualan selesai baru dibilang kurang? Berarti kan ada permainan di dalam itu," tegasnya. 

Sopir Keluhkan Gaji

Sopir tangki juga mengeluhkan perlakuan tidak adil dari manajemen.

Ia menyebut adanya perbedaan gaji antar awak tangki dengan jam kerja dan tanggung jawab yang sama, serta ancaman pemotongan gaji jika mereka memprotes.

"Kalau kita protes, kita diblokir. Enggak bisa bekerja lagi. Gaji nanti bisa dipotong. Kadang bisa selisih gaji antara satu kawan dengan kawan lain, padahal kerjanya sama, liburnya sama, jalannya pun sama. Jahat sekali bosnya," keluhnya.

Ia juga membandingkan kondisi sebelum dan sesudah kepemimpinan saat ini.

Menurutnya, kelangkaan BBM tidak separah sekarang dan pasokan berjalan lancar.

Sang sopir tangki berharap agar pihak berwenang dapat mengusut tuntas praktik-praktik yang merugikan masyarakat ini, mulai dari tingkat SPBU hingga kebijakan di internal Pertamina.

Driver Ojol dan Penarik Betor Mengeluh 

Kelangkaan BBM berdampak pada penarik becak motor (betor) dan ojol

Satu di antaranya, penarik betor Roy.

"4 jam aku ngantri itu sudah motong-motong. Sudah seminggu seperti ini kesulitan dapat BBM," keluh Roy. 

Rudi Hartono abang becak lainnya berharap agar masalah ini tidak lagi berkepanjangan. Karena mata pencahariannya hanya sebagai tukang becak membuat semuanya menjadi terganggu.

"Aku sudah 2 jam belum dapat giliran juga masih ngantri. Tolong sama pemerintah di normalkan lagi karena posisinya kami ini mau cari makan. Mau ngantar dan jemput anak sekolah (sewa) pun susah," kata Rudi. 

Ramadhan, berprofesi sebagai driver ojol yang mengantri di lokasi ini menyebut lebih dari 3 jam untuk mengantri pertalite. 

Dia sudah ikut antrian sejak pukul 07.00 WIB. Sekitar pukul 10.00 antrian  dirinya pun sudah dekat dengan mesin Pom. 

"Jantungan juga kalau sudah dekat gini karena takut kehabisan. Sudah 3 jam mengantri aku bang. Kita ojol sekarang ini matikan aplikasi karena takut customer kelamaan menunggu. Harapan kita cepat di normalkan lagi situasinya mau sampai kapan begini terus. Kita mau cari makan," katanya. 

Baca juga: Terkuak Fakta Lain 2 Wanita PSK, Sebelum Peristiwa ASN Lompat dari Apartemen Setia Budi

Baca juga: Respons Istana, TNI Jadi Sopir BBM Pertamina, Sopir Tangki Keluhkan Gaji Beber Permainan di SPBU

(Cr25/cr9/Tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.