Antrean BBM di Bangka Belitung Mengular, Warga Keluhkan Tunggu 45 Menit Meski Stok Pertalite Aman
M Zulkodri July 17, 2026 12:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Fenomena antrean panjang BBM juga terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Salah satu titik yang menjadi perhatian berada di SPBU 24.331.71 Desa Gadung, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, di mana antrean kendaraan mengular sejak pagi hari.

Ratusan sepeda motor tampak memenuhi area SPBU untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite.

Jalur pengisian yang biasanya hanya dilalui satu baris kendaraan berubah menjadi beberapa lajur antrean.

Para pengendara harus menggeser kendaraan sedikit demi sedikit mengikuti pergerakan antrean yang berlangsung lambat.

Di tengah teriknya matahari, masyarakat rela menunggu puluhan menit demi memperoleh BBM bersubsidi.

Sebaliknya, kondisi di jalur pengisian Pertamax terlihat jauh lebih lengang tanpa antrean berarti.

Situasi tersebut mulai berdampak terhadap aktivitas masyarakat, terutama para pekerja yang harus berangkat sejak pagi.

Waktu produktif yang seharusnya digunakan untuk bekerja justru habis di SPBU karena harus menunggu giliran mengisi bahan bakar.

Salah seorang warga, Budi Hartono, mengaku menghabiskan waktu hampir 45 menit hanya untuk mendapatkan Pertalite.

"Tadi antre mungkin hampir 45 menit. Jadi 45 menit itu sudah terbuang untuk bekerja. Sangat disayangkan," kata Budi.

Budi merupakan warga Desa Nyelanding, Kecamatan Airgegas, yang kini tinggal di rumah kontrakan agar lebih dekat dengan lokasi kerjanya di Toboali.

Meski demikian, antrean panjang tetap membuat aktivitasnya terganggu hampir setiap pagi.

Ia mengatakan setiap kali mengisi BBM biasanya membeli Pertalite senilai Rp100 ribu atau sekitar 10 liter untuk memenuhi kebutuhan kendaraan yang digunakan bekerja sehari-hari.

Menurut Budi, pilihan menggunakan Pertalite bukan tanpa alasan. Selisih harga yang cukup jauh dengan Pertamax membuat BBM bersubsidi masih menjadi pilihan paling realistis bagi kondisi keuangannya.

"Mending kita kadang ngantre untuk dapat yang harganya lebih murah, lebih enak di kantong," ujarnya.

Sesekali, ketika tidak sempat mengantre di SPBU, Budi mengaku terpaksa membeli BBM eceran. Namun harga yang ditawarkan jauh lebih tinggi dibandingkan harga resmi di SPBU.

"Pernah beli eceran. Harganya bervariasi, ada Rp13 ribu, Rp14 ribu, sampai Rp15 ribu per liter," tuturnya.

Menurutnya, kondisi tersebut justru semakin membebani masyarakat.

Karena itu, ia berharap distribusi BBM dapat kembali normal sehingga warga tidak perlu membuang banyak waktu hanya untuk mendapatkan bahan bakar.

"Harapan ke depannya semoga pemerintah bisa meminimalisir antrean ini, jadi kita enak dan bisa langsung beraktivitas," katanya.

Baca juga: Antrean BBM Mengular di SPBU, DPR Ungkap Penyebab hingga Pertamina Diminta Segera Bertindak

Polisi Lakukan Pengawasan di SPBU

TINJAU PENDISTRIBUSIAN BBM -- Sejumlah anggota kepolisian dari Polres Bangka Selatan ketika melakukan pemantauan pendistribusian BBM di SPBU 24.331.71 Desa Gadung, Kamis (16/7/2026). Pengawasan menindaklanjuti panjangnya antrean pengisian BBM.
TINJAU PENDISTRIBUSIAN BBM -- Sejumlah anggota kepolisian dari Polres Bangka Selatan ketika melakukan pemantauan pendistribusian BBM di SPBU 24.331.71 Desa Gadung, Kamis (16/7/2026). Pengawasan menindaklanjuti panjangnya antrean pengisian BBM. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Meningkatnya antrean kendaraan turut mendapat perhatian aparat kepolisian.

Polresta Pangkalpinang menurunkan personel untuk melakukan pemantauan di sejumlah SPBU guna memastikan distribusi BBM bersubsidi berjalan sesuai aturan.

Kapolresta Pangkalpinang, Kombes Pol Indra Wijatmiko, mengatakan pengecekan dilakukan secara langsung di SPBU wilayah Kecamatan Gabek dan Pangkalbalam.

Selain mengawasi antrean kendaraan, petugas juga melakukan pemeriksaan barcode kendaraan roda empat guna mencegah praktik pengisian BBM subsidi secara berulang yang berpotensi merugikan masyarakat.

"Hari ini kami melakukan pengecekan langsung di SPBU untuk memastikan distribusi BBM berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Kami juga melakukan pemeriksaan barcode kendaraan agar tidak ada penyalahgunaan melalui pengisian berulang," ujar Indra.

Ia menegaskan kepolisian tidak akan memberikan toleransi terhadap pihak-pihak yang memanfaatkan situasi antrean untuk memperoleh keuntungan pribadi.

"Apabila ditemukan adanya penyalahgunaan BBM bersubsidi, tentu akan kami tindak sesuai aturan hukum yang berlaku," tegasnya.

Pengelola SPBU Pastikan Stok Masih Aman

Di tengah meningkatnya antrean, pengelola SPBU memastikan kondisi stok BBM sebenarnya tidak mengalami kekurangan.

Manager SPBU Pangkalbalam, Ades, mengatakan distribusi BBM dari Pertamina tetap berjalan normal bahkan kuota Pertalite yang diterima SPBU justru mengalami penambahan.

Menurutnya, kuota harian yang sebelumnya sekitar 32 kiloliter kini meningkat menjadi 40 kiloliter atau bertambah sekitar delapan kiloliter.

"Untuk pendistribusian lancar, tapi memang antrean ini sejak Senin kami juga tidak tahu penyebab pastinya. Kalau kuota BBM aman, bahkan sekarang justru ada penambahan menjadi 40 kiloliter," jelas Ades.

Keterangan tersebut memperkuat bahwa antrean panjang yang terjadi di lapangan bukan semata-mata dipicu oleh keterbatasan pasokan. Karena itu, berbagai pihak mulai mengarahkan perhatian pada pola konsumsi masyarakat dan kemungkinan adanya praktik penyalahgunaan BBM subsidi yang menyebabkan tingginya permintaan di sejumlah SPBU.(*)

(Bangkapos/Cepi Marlianto/Arya Bima Mahendra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.