Bikin Penasaran! Sensasi Ngopi di Sugeng Mulyo Berlatar Karya Djoko Pekik
Hari Susmayanti July 17, 2026 12:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM – Yogyakarta kini perlahan berubah menjadi kota yang bergerak cepat, penuh dengan jalanan padat dan rutinitas yang tak ada habisnya.

Di selatan Jogja segala hiruk-pikuk dan kecepatan laju kota itu seolah sengaja diperlambat.

Di tanah seluas kurang lebih 4 hektar, Warkop Sugeng Mulyo berdiri di tengah waktu yang semakin pendek.

Warkop Sugeng Mulyo berada di kawasan Plataran Djoko Pekik, tepatnya di Jl. Plataran No.8-49, Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kehadiran warkop ini jelas bukan sekadar tempat singgah untuk transaksi membeli kopi.

Lebih dari itu, tempat ini telah menjelma menjadi ekosistem ruang yang beririsan langsung dengan warisan mendiang sang maestro.

Namun sebelum menempati lahan pelataran yang luas ini, perjalanan warkop ini dimulai dari titik yang sangat sederhana.

Dari Pos Ronda Menuju Lahan Luas

(16/7/2026) Gerbang depan plataran bawah
Gerbang masuk rumah pribadi dan galeri seni

Awal mulanya, Warkop Sugeng Mulyo berada di depan plataran, tepatnya di pos ronda samping jembatan. 

Bersamaan dengan cabang di plataran, Warkop Sugeng Mulyo memiliki dua cabang yang berada di Niten dan dekat Gereja Pugeran.

Hingga akhirnya dua cabang di Niten dan Gereja Pugeran tutup dan manajemen fokus membesarkan cabang utama.

Lantaran dirasa kurang luas karena berdekatan dengan jalan kampung, warkop terpaksa pindah ke area bawah Plataran Djoko Pekik yang sebelumnya digunakan untuk pameran vinyl

Di area bawah plataran ini, segala komunitas berkumpul.

Mulai dari komunitas sepeda, seni, hingga musik semua menjadikan Warkop Sugeng Mulyo sebagai titik temu.

Seiring berjalannya waktu, Warkop Sugeng Mulyo pindah ke area utama plataran.

Tempat yang sekarang dinaungi oleh joglo bergaya khas Jawa.

Lahan yang lebih luas membuat pengunjung tak perlu bingung ingin ngopi atau berkarya di mana.

Warkop Sugeng Mulyo memfasilitasi area di dalam dan di luar joglo.

Saat ini tim Sugeng Mulyo berjumlah enam orang, yang awalnya hanya dua orang.

Nama Sugeng Mulyo sendiri awalnya ingin menggunakan nama sang maestro, yakni Warkop Pekik.

“Pertama itu namanya mau Warkop Pekik. Tapi kok tak pikir-pikir, Warkop kok nggawa-nggawa jenenge Simbah gitu lho. Sugeng Mulyo. Waton aja, tapi isinya doa baik to, Sugeng, Mulyo. Selamat, mulia.” ujar Bronjong, pemilik Warkop Sugeng Mulyo.

Pemilihan nama ini terinspirasi dari gaya nama warkop jadul seperti Restu Bunda, Djayantie dan Cap Kobra.

Bronjong juga menambahkan bahwa nama Sugeng Mulyo adalah besutan dari ayahnya saat Bronjong bertanya nama apa yang cocok untuk warkop yang akan dibangun.

Baca juga: Fenomena Cowok Bingung yang Ramai di Media Sosial, Apa Kata Psikologi?

Seni di Halaman

(16/7/2026) Patung
Patung sosok menggendong babi hasil buruan

Djoko Pekik sendiri adalah tipe yang open-minded dan menantang anak-anak muda untuk berkarya di ruangnya.

Beliau membebaskan ruang tersebut untuk digunakan anak muda untuk berekspresi atau sekadar membuat acara.

Terdapat beberapa patung karya Djoko Pekik di sekitar halaman plataran.

Yang paling unik adalah patung sosok sedang menggendong babi hasil buruan, terdapat pada gerbang sebelum masuk ke rumah pribadi.

Di samping rumah pribadi, terdapat galeri yang menyimpan karya Djoko Pekik.

Galeri ini terbuka untuk siapa saja yang kangen dengan karya seni Djoko Pekik.

Bahkan tak hanya sebagai tempat berkarya, plataran ini sering menjadi jujugan untuk study tour.

Tak jarang ada pihak tour guide yang merupakan teman dari Bronjong secara khusus membawa rombongan ke sana.

Motivasi utama dari kegiatan study tour dan kunjungan orang awam adalah rasa penasaran terhadap karya sang maestro.

Mereka datang secara spesifik untuk melihat dan mengapresiasi karya-karya seni peninggalan sang maestro.

Menariknya, tak ada birokrasi yang kaku di sini.

Siapa pun bisa datang dengan menitipkan pesan lewat anak-anak warkop untuk dibukakan jalan ke manajemen keluarga.

Panggung Komunitas

(16/7/2026) Tempat berkumpul komunitas
Tempat bertemu dan berkumpul berbagai komunitas di Bantul

Warkop Sugeng Mulyo sangat mendukung dan mewadahi komunitas, mulai dari film, sepeda, seni rupa, hingga anak-anak band.

Terdapat panggung terbuka lengkap dengan sound system di area bawah plataran yang bisa digunakan oleh siapa saja.

Fasilitas ini sering digunakan untuk nge-band, stand up comedy, teater, kumpul culture, hingga workshop pemutaran film.

“Dan itu open space untuk berkarya, yang penting apa namanya ada untung ya syukur, nggak ada untung  ya wis jenenge juga berkarya kan dikenal sama khalayak dan lain-lain gitu." ujar Bronjong.

Warkop Sugeng Mulyo mengusung konsep open space, sehingga siapa pun boleh menggunakannya asalkan tetap memperhatikan biaya operasional seperti listrik.

Ke depannya, manajemen plataran berencana membangun workshop sablon digital printing, sejalan dengan latar belakang Djoko Pekik yang juga bergerak di bidang tersebut.

Ruang Singgah

(16/7/2026)
Menepi sejenak di Warkop Sugeng Mulyo

Di luar riuhnya seniman dan musisi, Warkop Sugeng Mulyo rupanya punya wajah lain.

Bagi sebagian pengunjung, plataran ini beralih fungsi sebagai ruang singgah yang hangat semacam tempat pelarian dari fase transisi kehidupan.

Banyak wajah di warkop ini yang merupakan mahasiswa, fresh graduate atau mereka yang sekadar singgah untuk mengambil jeda dari rutinitas.

“Kalau gabut ya ke sini... nyambi nyari kerjaan di konstruksi. Kalau nge-bar kan nggak sesuai jurusanku juga, tapi aku kemarin sempat nge-bar di Buaian sambil kerja to... terus nggak iso bagi waktu.” ujar Nodi, pengunjung warkop.

Menariknya, nongkrong di Sugeng Mulyo jelas berbeda rasanya dengan ngopi di coffee shop komersial yang kaku.

Di sini, sekat antara pengunjung dan barista itu sangat tipis, bahkan nyaris tidak ada.

Interaksi-interaksi organik semacam inilah yang mempertegas identitas Sugeng Mulyo sebagai ruang komunal, bukan sekadar kedai kopi komersial.

Warkop Sugeng Mulyo mulai beroperasi dari jam 16.00 sampai 23.00 WIB.

Dengan harga menu yang bervariatif mulai dari Rp6.000 tidak akan menguras isi dompet pengunjung.

Pada akhirnya, siapa pun yang duduk di warkop ini mendapatkan lebih dari sekadar kopi yang mereka pesan.

Sugeng Mulyo menawarkan pengalaman utuh lewat perpaduan ruang berekspresi yang bebas dan akses langsung ke karya maestro Djoko Pekik.

Ditambah lagi dengan obrolan harian yang mengalir tanpa sekat, tak heran jika warkop ini selalu sukses punya alasan untuk kembali.

(MG Fauzan Ardana)

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.