TRIBUNNEWS.COM - Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki hawa nafsu.
Hawa nafsu yaitu dorongan atau keinginan dalam diri manusia yang berkaitan dengan hasrat, perasaan, dan kecenderungan untuk melakukan sesuatu.
Tidak semua hawa nafsu selalu bermakna buruk, karena dorongan ini dapat mengarah pada kebutuhan manusia seperti makan, bekerja, menikah, dan hal baik lainnya.
Namun, hawa nafsu yang buruk dapat membahayakan manusia, terutama bagi mereka yang sulit mengendalikannya.
Dalam ajaran Islam, Muslim dianjurkan untuk mengendalikan hawa nafsu agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
"Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya." (QS. An-Nazi'at: 40–41)
Jika seseorang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, maka ia akan terus mengejar keinginan untuk memuaskan hawa nafsu dan tidak pernah merasa cukup.
Dalam hadis riwayat Sahih Muslim dan Sunan Abi Dawud, Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau berlindung kepada Allah dari beberapa perkara, salah satunya adalah “nafsin laa tasyba’u”, yaitu jiwa yang tidak pernah merasa puas.
Doa tersebut menjadi pengingat bahwa ketenangan hidup bukan hanya berasal dari banyaknya harta atau terpenuhinya segala keinginan, melainkan dari hati yang mampu menerima karunia Allah dengan rasa syukur dan merasa cukup.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Ibrahim ayat 7 yang artinya: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)
Memperbanyak rasa syukur dan meningkatkan doa dapat membentengi manusia dari hawa nafsu yang buruk.
Baca juga: Doa agar Dijauhkan dari Bisikan Setan dan Kejahatan Segala Makhluk
Allahumma innii a'uudzu bika min 'ilmin laa yanfa'u, wa qolbin laa yakhsya'u, wa nafsin laa tasyba'u, wa da'watin laa yustajaabu lahaa.
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah merasa puas (selalu serakah), dan doa yang tidak dikabulkan." (HR. Muslim dan Abu Dawud)
Hawa nafsu merupakan bagian dari fitrah manusia yang melekat sejak lahir.
Keinginan untuk mendapatkan kesenangan, memiliki sesuatu, marah, atau mengejar ambisi merupakan bagian dari dorongan dalam diri manusia.
Namun, apabila tidak dikendalikan, hawa nafsu dapat membawa seseorang kepada perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Dalam Islam, hawa nafsu bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan harus diarahkan agar berjalan sesuai dengan ajaran Allah SWT.
Sebab, manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsunya akan lebih mudah menjaga hati, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Allah SWT berfirman yang artinya: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya." (QS. An-Nazi'at [79]: 40–41)
Lalu, bagaimana cara seorang Muslim mengendalikan hawa nafsu? Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
Cara utama untuk mengendalikan hawa nafsu adalah dengan memperkuat hubungan kepada Allah SWT.
Iman yang kuat akan menjadi pengendali ketika seseorang menghadapi dorongan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama.
Seseorang yang selalu mengingat Allah akan lebih mampu membedakan mana keinginan yang membawa kebaikan dan mana yang dapat menjerumuskan kepada dosa.
Allah SWT berfirman yang artinya: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams [91]: 9–10)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan manusia bergantung pada bagaimana ia membersihkan dan mengendalikan jiwanya.
Ibadah seperti salat, membaca Al-Qur'an, berdoa, berzikir, dan memperbanyak amal saleh dapat membantu seseorang mengendalikan hawa nafsu.
Ibadah melatih manusia untuk disiplin, bersabar, dan tidak selalu mengikuti keinginan pribadi.
Salat, misalnya, bukan hanya kewajiban, tetapi juga menjadi pengingat agar manusia menjauhi perbuatan buruk.
Allah SWT berfirman yang artinya: "Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar." (QS. Al-Ankabut [29]: 45)
Dengan memperbanyak ibadah, hati akan lebih dekat kepada Allah sehingga dorongan hawa nafsu yang buruk dapat lebih mudah dikendalikan.
Dalam Islam, hati memiliki peran penting dalam mengarahkan perilaku manusia.
Hati yang bersih akan melahirkan perbuatan baik, sedangkan hati yang rusak dapat membuat seseorang mudah mengikuti hawa nafsu.
Rasulullah SAW bersabda: "Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga hati dari sifat buruk seperti iri, sombong, tamak, dendam, dan keinginan berlebihan terhadap dunia.
Ilmu menjadi salah satu benteng dalam menghadapi hawa nafsu.
Dengan memahami ajaran agama, seseorang akan mengetahui batasan antara keinginan yang diperbolehkan dan sesuatu yang dilarang Allah SWT.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa manusia harus melawan hawa nafsu dengan bantuan iman dan ilmu.
Sebab, akal dan pengetahuan akan membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih bijak ketika menghadapi godaan.
Semakin seseorang memahami tujuan hidupnya sebagai hamba Allah, semakin mudah baginya mengendalikan keinginan yang berlebihan.
Mengendalikan hawa nafsu tidak selalu bisa dilakukan secara instan.
Diperlukan latihan dan kebiasaan yang terus-menerus agar hati terbiasa mencintai kebaikan.
Misalnya, seseorang yang awalnya berat melakukan salat tepat waktu, membaca Al-Qur'an, atau bersedekah, jika terus dilatih maka perlahan kebiasaan tersebut akan menjadi bagian dari kehidupannya.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa jiwa manusia dapat berubah melalui kebiasaan.
Ketika seseorang terus melatih diri dalam kebaikan, maka kebaikan tersebut akan menjadi karakter dalam dirinya.
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang berpikir dan bertindak.
Berada di lingkungan yang mengingatkan kepada kebaikan akan membantu seseorang menjaga diri dari mengikuti hawa nafsu yang buruk.
Rasulullah SAW bersabda: "Seseorang itu mengikuti agama (kebiasaan) teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Oleh karena itu, memilih teman yang baik dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga hati dan perilaku agar tetap berada di jalan yang benar.
Manusia memiliki keterbatasan dalam mengendalikan dirinya.
Karena itu, seorang Muslim dianjurkan untuk selalu memohon pertolongan Allah agar dijauhkan dari hawa nafsu yang menyesatkan.
Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW adalah:
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah merasa puas, dan doa yang tidak dikabulkan." (HR. Muslim dan Abu Dawud)
Doa ini mengajarkan bahwa salah satu hal yang harus dihindari adalah jiwa yang selalu merasa kurang dan tidak pernah puas terhadap apa yang telah Allah berikan.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)