Thomas Tuchel menegaskan komitmennya sepenuhnya terhadap pekerjaan sebagai pelatih tim nasional Inggris meskipun baru saja mengalami kekecewaan besar akibat tersingkir di babak semifinal Piala Dunia. Pelatih asal Jerman itu menegaskan dirinya adalah sosok yang tepat untuk memimpin The Three Lions menuju Euro 2028 di tanah sendiri, sekaligus menyoroti adanya "masalah besar" yang harus diatasi agar Inggris dapat mengakhiri puasa gelar mereka.
Tujuan Tuchel: kejayaan di Euro 2028
Setelah kekalahan menyakitkan Inggris 2-1 dari Argentina pada Rabu malam, muncul banyak pertanyaan mengenai masa depan posisi pelatih kepala. Namun Tuchel, yang menandatangani kontrak baru pada Februari lalu untuk dua tahun ke depan guna memperkuat posisinya, menegaskan tanpa keraguan bahwa ia ingin melanjutkan proyek ini hingga Kejuaraan Eropa berikutnya. Inggris akan berusaha meraih gelar untuk pertama kalinya setelah dua kali finis sebagai runner-up pada edisi sebelumnya.
Saat ditanya apakah ia masih memiliki semangat untuk memimpin tim menuju Euro 2028, Tuchel menjawab dengan tegas. “100 persen,” kata mantan pelatih Chelsea tersebut kepada para wartawan. “Masih banyak hal yang bisa diperbaiki, dan saya sangat senang melakukannya.” Meskipun Inggris sempat unggul 1-0 atas Argentina sebelum kebobolan dua gol di lima menit terakhir, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) tetap memberikan dukungan penuh kepadanya menjelang pertandingan perebutan tempat ketiga melawan Prancis. Kepala eksekutif FA, Mark Bullingham, menegaskan di LinkedIn bahwa “Thomas dan para pelatih akan memotivasi semua orang untuk pertandingan itu, lalu memimpin kami menuju kualifikasi Euro 2028 di kandang sendiri.”
Mengidentifikasi masalah taktik
Meski Tuchel mengaku bangga terhadap skuadnya, ia secara jujur menyoroti masalah yang terus berulang dan menghambat performa Inggris di panggung besar. Ia menyebut adanya perbedaan mencolok antara kualitas permainan yang ditunjukkan saat latihan dan yang tampak di pertandingan penting dengan tekanan tinggi. Hal ini terlihat jelas setelah kemenangan 2-1 Inggris atas Norwegia di Piala Dunia, ketika Tuchel mengkritik performa timnya sebagai “ceroboh” dan “beruntung”.
“Saya sudah mengatakan setelah laga melawan Norwegia bahwa saya melihat adanya ketidaksesuaian antara apa yang saya lihat di latihan dengan yang terlihat di pertandingan,” jelas Tuchel. “Saya rasa kami bisa lebih mendominasi permainan dengan bola. Saya masih yakin kami bisa menunjukkan betapa bagusnya para pemain kami. Saya melihatnya di latihan dan setiap kali kami berkumpul, termasuk di Piala Dunia ini. Saya merasa kami masih harus naik ke satu level lagi untuk bisa meraih trofi besar.”
Mengatasi masalah DNA sepak bola
Salah satu area yang menjadi perhatian utama Tuchel adalah kemampuan Inggris dalam mempertahankan penguasaan bola dan mengendalikan tempo permainan ketika lawan mulai menekan balik. Setelah Anthony Gordon mencetak gol pembuka pada menit ke-55 melawan Argentina, The Three Lions kehilangan kendali permainan, sebuah pola yang menurut pelatih tersebut berakar pada identitas sepak bola negara itu sendiri.
“Saya pikir penguasaan bola memainkan peran yang sangat penting,” ujar Tuchel. “Mungkin hal itu tidak tertanam dalam DNA kami seperti halnya DNA sepak bola Spanyol, Argentina, atau Brasil. Menguasai bola dan kendali permainan adalah hal yang juga menjadi masalah besar.” Ketika ditanya apakah kecenderungan untuk bertahan setelah unggul di pertandingan penting merupakan hambatan psikologis bagi para pemain Inggris, ia menjawab tanpa ragu: “Jika memang begitu, maka itu harus diubah.”
‘Saya menikmati setiap harinya’
Inggris akan menghadapi Prancis dalam pertandingan perebutan tempat ketiga pada hari Minggu, berusaha mengakhiri nasib buruk mereka dalam laga tersebut setelah dua kali kalah di posisi yang sama pada tahun 1990 dan 2018. Meskipun gagal mencapai final, Tuchel menegaskan bahwa ia “menikmati setiap hari” selama turnamen dan tetap optimistis terhadap mentalitas timnya, yang kini telah beberapa kali merasakan pahitnya kekalahan di semifinal.
“Saya sangat senang dengan para pemain dan saya menikmati setiap harinya,” tutup Tuchel. “Saya juga menikmati setiap menit dari 55 menit pertama. Karena saya rasa kami tampil siap, tidak pasif, benar-benar mencoba untuk menang. Kami hanya tidak mampu mengatasi perubahan momentum.”