Jakal hingga Monjali, Sudah Tahu Arti Singkatan Khas Jogja Ini?
Joko Widiyarso July 17, 2026 02:14 PM


TRIBUNJOGJA.COM-  Selain terkenal dengan budaya dan keramahan warganya, Jogja juga memiliki kebiasaan unik.

 Yaitu menyebut nama jalan maupun kawasan dengan singkatan yang lebih ringkas.

Alih-alih mengucapkan nama lengkap, warga lokal lebih terbiasa menggunakan akronim yang lebih singkat sehingga percakapan menjadi lebih praktis.

Lama-kelamaan, penyebutan tersebut justru lebih dikenal dibanding nama aslinya.

Tak heran jika banyak mahasiswa, wisatawan, atau pendatang baru yang sempat kebingungan ketika pertama kali mendengarnya.

Lalu, apa saja singkatan yang paling sering digunakan masyarakat Jogja?

1. Jakal (Jalan Kaliurang)

20261707- Jalan Kaliurang
Jalan Kaliurang (TRIBUNJOGJA.COM / Rizki Halim)

Bisa dibilang, Jakal merupakan salah satu singkatan yang paling populer di Yogyakarta. Sebutan ini merujuk pada Jalan Kaliurang, ruas jalan yang membentang dari pusat kota menuju kawasan Kaliurang di lereng Gunung Merapi.

Karena menjadi jalur menuju berbagai kampus, kawasan kuliner, hingga tempat nongkrong, istilah "Jakal" sudah sangat melekat di kalangan warga maupun mahasiswa.

2. Jamal (Jalan Magelang)

Selain Jakal, ada pula Jamal, yaitu singkatan dari Jalan Magelang.

Jalan ini menjadi salah satu akses utama yang menghubungkan Yogyakarta dengan Magelang. Sepanjang jalurnya terdapat pusat perbelanjaan, perkantoran, hingga kawasan permukiman. Karena lebih praktis diucapkan, masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai "Jamal".

3. Tamsis (Taman Siswa)

20261707- Taman Siswa
Taman Siswa (TRIBUN JOGJA/AZKA RAMADHAN)

 

Singkatan berikutnya adalah Tamsis, yang berasal dari Taman Siswa.

Kawasan ini memiliki nilai sejarah karena berkaitan dengan Ki Hadjar Dewantara dan Perguruan Tamansiswa. Hingga kini, istilah "Tamsis" masih sering digunakan saat menyebut lokasi maupun memberikan petunjuk arah.

4. Jawon (Jalan Wonosari)

20261707- Jalan Wonosari
Jalan Wonosari (Tribun Jogja/ Pradito Rida Pertana)

Jika hendak menuju Gunungkidul, kemungkinan besar akan melewati Jalan Wonosari atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jawon.

Nama ini sudah lama digunakan masyarakat karena lebih singkat dan mudah diingat dibanding mengucapkan nama jalan secara lengkap.

5. Jaim (Jalan Imogiri)

Singkatan Jaim berasal dari Jalan Imogiri atau Jalan Imogiri Timur. Jalur ini menjadi akses menuju kawasan Imogiri di Kabupaten Bantul, termasuk berbagai destinasi wisata alam dan budaya di sekitarnya.

Meski terdengar seperti nama seseorang, bagi warga Jogja, istilah "Jaim" sudah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

6. Monjali (Monumen Jogja Kembali)

20261707- Monumen Jogja Kembali
Monumen Jogja Kembali (Dinas Kebudayaan DIY)


Tidak semua singkatan di Jogja berasal dari nama jalan. Ada pula yang merujuk pada tempat atau kawasan tertentu, salah satunya Monjali, kependekan dari Monumen Jogja Kembali.

Monjali merupakan salah satu landmark bersejarah di Yogyakarta yang dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Kini, sebutan "Monjali" lebih sering digunakan untuk menyebut kawasan di sekitar monumen tersebut dibanding nama lengkapnya.

7. Concat (Condongcatur)

Kalau sering beraktivitas di kawasan utara Jogja, istilah Concat mungkin sudah tidak asing lagi.

Sebutan ini merupakan singkatan dari Condongcatur, salah satu wilayah di Kabupaten Sleman yang dikenal sebagai kawasan padat mahasiswa, kos, kafe, hingga pusat kuliner.

Karena nama Condongcatur cukup panjang, warga lokal maupun mahasiswa lebih sering menyebutnya "Concat" dalam percakapan sehari-hari.

8. Alkid (Alun-Alun Kidul)

Alkid Jogja
Alkid Jogja (Jogja Tour)

Singkatan Alkid berasal dari Alun-Alun Kidul, salah satu ruang publik yang menjadi ikon wisata malam di Yogyakarta.

Selain dikenal sebagai tempat bersantai, kawasan ini juga identik dengan tradisi masangin, yaitu berjalan melewati dua pohon beringin dengan mata tertutup. Tak heran jika istilah "Alkid" jauh lebih sering terdengar dibanding nama lengkapnya.

9. Altar (Alun-Alun Utara)

Alun Alun Utara Yogyakarta
Alun Alun Utara Yogyakarta (Tribun Jogja/ Wahyu Setiawan Nugroho)

Berpasangan dengan Alkid, ada pula Altar, singkatan dari Alun-Alun Utara.

Lokasinya berada tepat di depan Keraton Yogyakarta dan kerap digunakan sebagai tempat berlangsungnya berbagai acara budaya maupun kegiatan masyarakat. Dalam percakapan sehari-hari, warga Jogja lebih sering menyebutnya "Altar" karena lebih ringkas dan mudah diucapkan.

10. Jokteng (Pojok Beteng)

Seng yang menutupi Jokteng Lor Wetan telah dilepas, tapak proyek penanda keistimewaan tersebut telah selesai dibangun.
 Jokteng Lor Wetan. (TRIBUNJOGJA.COM / Kurniatul Hidayah)

Istilah Jokteng merupakan kependekan dari Pojok Beteng, yaitu sudut benteng Keraton Yogyakarta yang menjadi salah satu penanda kawasan bersejarah di kota ini.

Kini, Jokteng tidak hanya dikenal sebagai bangunan cagar budaya, tetapi juga menjadi salah satu lokasi favorit untuk menikmati suasana sore hingga malam hari.

11. Sarkem (Pasar Kembang)

Jalan Pasar Kembang Yogyakarta
Jalan Pasar Kembang Yogyakarta (Dok Tribunjogja.com)

Bagi warga Jogja, Sarkem adalah singkatan dari Pasar Kembang, kawasan yang berada di dekat Stasiun Tugu Yogyakarta.

Nama ini sudah digunakan sejak lama dan hingga kini masih sering dipakai sebagai penunjuk lokasi. Meski memiliki sejarah tersendiri, dalam percakapan sehari-hari masyarakat lebih akrab menyebutnya "Sarkem" daripada nama lengkapnya.

Bukan Hanya Singkatan, tetapi Sudah Menjadi Identitas Jogja

Fenomena banyaknya singkatan di Jogja menunjukkan bahwa bahasa terus berkembang mengikuti kebiasaan masyarakat.

Nama yang panjang kemudian disederhanakan agar lebih praktis saat diucapkan, lalu digunakan secara turun-temurun hingga menjadi bagian dari keseharian warga.

Menariknya, beberapa singkatan justru lebih populer daripada nama aslinya.

Tidak sedikit pendatang yang awalnya kebingungan saat mendengar istilah seperti Jakal, Concat, atau Alkid.

Namun, setelah tinggal beberapa waktu di Jogja, mereka biasanya mulai terbiasa dan ikut menggunakan sebutan tersebut.

Hal inilah yang membuat Jogja seperti memiliki "bahasa" sendiri.

Bagi sebagian orang, mengenal singkatan-singkatan ini bahkan menjadi pengalaman tersendiri saat mulai beradaptasi dengan kehidupan di Kota Gudeg.

(MG Mayumi Cinta Mahesi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.