Kakaktua jambul merah (kakaktua maluku) adalah burung yang setia terhadap pasangannya. Sempat jadi primadona, kini keadaannya mengkhawatirkan.
Penulis: Moh Habib Asyhad | Tayang di Majalah Intisari edisi Juli 2014 dengan judul "Kakaktua Jambul Merah Agresif tapi Ogah Selingkuh"
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Bule luar negeri lebih suka menyebutnya salmon-crested cockatoo, sementara nama latinnya adalah Cacatua moluccensis. Karena pribumi Maluku, ia juga dipanggil kakaktua maluku, sementara karena jambulnya yang merah muda, beberapa pihak menamainya kakatua jambul merah.
Pulau Seram dikenal sebagai surganya burung. Birdlife International mencatat, Pulau Seram merupakan kawasan yang memiliki burung endemik terbanyak di Indonesia.
Organisasi pemerhati burung itu juga menyebut Seram dan pulau-pulau kecil di sekitarnya sebagai Endemic Bird Area (EBA) dan memasukkannya dalam kategori Important Bird Areas (IBAs). Kawasan penting penangkaran burung.
Kakaktua maluku (Cacatua moluccensis) adalah salah satu penghuninya yang paling terkenal. Tapi sayang, sejak 1989 burung ini mendapat status red list alias rentan dari International Union for Conservation of Nature ( IUCN) dan didaftarkan dalam The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) Appendix I dan II.
Itu artinya, burung ini dalam status “butuh perhatian”.
Paruhnya sangat kuat
Burung asli Pulau Seram ini cukup berbeda dengan jenis paruh bengkok (genus cacatua) lainnya. “Hampir sekujur tubuhnya berwarna putih dan disapu dengan semburat warna merah jambu. Selain di jambulnya, warna merah jambu juga terlihat di bagian bawah tubuh dan bagian bulu-bulu terbang,” ujar Rahmadi, peneliti dari Burung Indonesia.
Warna jingga-kuning bersemu merah-jambu terdapat di bawah ekor. Paruhnya berwarna abu-abu hitam, iris matanya cokelat gelap, sementara kedua kaki yang menopang tubuh sepanjang 46-52 cm-nya, berwarna abu-abu. Burung ini tampak gagah-kokoh, tapi sangat anggun.
Sssttt...! Burung ini juga terkenal sangat setia terhadap pasangannya.
Ngomong-ngomong soal jambul, ada yang menarik dari burung yang tinggal di habitat berketinggian 1000 mdpl ini. Jika jambulnya sudah tegak, itu artinya ada beberapa kemungkinan; bisa jadi si burung sedang mencari perhatian pasangannya atau dalam upaya mempertahankan wilayah atau kelompoknya dari serangan musuh.
Jambul kakaktua jambul merah yang tegak juga menggambarkan ekspresinya: ingin tahu, tenang, kaget, frustrasi, bahkan ketika si burung dalam keadaan ketakutan.
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan ketika jambulnya berdiri tegak, jangan coba-coba mendekati burung ini, jika tidak ingin digigit. Bayangkan, kekuatan paruh kakaktua maluku ini mencapai berat 2.000 kg, hampir setara dengan kekuatan yang dibutuhkan untuk memecahkan batok kelapa yang terkenal keras.
Tidak ada perbedaan mencolok antara pejantan dan betinanya. Jika pun ada, itu terletak pada tubuh si betina yang relatif lebih besar. Perbedaan lain terdapat di matanya.
Sejak lahir, iris mata kakaktua maluku berwarna hitam pekat; tapi ketika beranjak dewasa iris mata si betina akan muncul warna kecokelatan, sementara si pejantan akan tetap hitam pekat.
Satu pasangan cukup
Sebagai herbivora, kakaktua jambul merah suka menyantap biji-bijian dan kacang-kacangan. Aktivitas sehari-hari kakaktua jambul merah yang terkenal sebagai binatang diurnal (beraktivitas di siang hari) adalah terbang jauh dari sangkarnya untuk mencari makan.
Mereka bergerak berpasangan, terkadang sendirian. Jika lelah, mereka yang awal berpencar akan bertengger secara bergerombol. Jumlahnya sekitar satu lusin lebih sedikit.
Kakaktua jambul merah adalah tipe binatang yang tak doyan selingkuh. Ia begitu setia dengan satu pasangan saja.
Ketika musim kawin (antara Juli dan Agustus), kakaktua jantan akan terlihat lebih agresif dan dinamis dalam bergerak ketimbang waktu-waktu biasa. Bisa jadi itu adalah upaya pejantan untuk menarik perhatian lawan jenisnya.
Upaya cari perhatian lain yang sering dilakukan kakaktua jambul merah jantan ketika datang musim kawin adalah mengerutkan bulu-bulunya, melebarkan ekor, membuka sayap lebar-lebar, dan menegakkan jambulnya. Burung ini juga akan terlihat lebih sering bergerak seperti mengangguk-angguk atawa memantul-mantul.
Jangan berharap usaha si pejantan langsung mendapatkan respons. Di awal-awal bertemu, kakaktua jambul merah betina sering bertingkah cuek.
Terlihat jual mahal. Tapi itu hanya awal-awal, karena setelah berhari-hari si betina juga akan luluh juga.
Usai resmi “pacaran”, pasangan ini akan terlihat saling bersolek dengan saling menyisir kepala pasangan, juga ekornya. Bukan karena sok pamer, perilaku ini ditunjukkan sebagai tanda sudah ada ikatan emosional antarkeduanya. Bahasa kerennya, sudah ada chemistry satu dengan yang lain.
Saat masa inkubasi, baik pejantan maupun si betina mempunyai kewajiban yang sama untuk mengerami telur-telur baru. Telur-telur kakaktua jambul merah berwarna putih dengan panjang kira-kira 34 hingga 45 mm.
Bayi kakaktua jambul merah yang baru lahir biasanya berbobot 14-20 g dan mulai meninggalkan sarang kesayangannya setelah 14 minggu berada di bawah perawatan emak dan bapaknya.
Suka teriak-teriak
Kakaktua maluku hidup dalam koloni yang tidak besar, sekitar 20 ekor bahkan kurang. Meski demikian, burung ini terkenal sangat dekat satu dengan yang lain.
Untuk menjaga kelompoknya yang tidak besar itu, si jambul merah dibekali suara yang melengking. Konon lengkingan ini adalah yang paling keras di antara jenis paruh bengkok lainnya.
Meski sering dianggap sebagai hama oleh masyarakat setempat karena kegemarannya nyolong kelapa, si jambul merah sejatinya adalah sosok yang sangat penurut. Pada era 1980-an, burung ini termasuk jenis burung yang disarankan untuk dipelihara di Amerika Serikat.
Di kalangan penghobi burung, si jambul merah terkenal sebagai burung yang cerdas. Bukan soal itu saja, ukuran tubuhnya yang bongsor, suaranya yang melengking tinggi, serta kegemarannya yang suka makan menjadikannya sebagai primadona.
Meski demikian, bukan berarti ia gampang dirawat. Umumnya kakaktua jambul merah membutuhkan kandang besar nan kokoh.
Burung ini terkenal sebagai binatang yang mudah bersosialisasi, yang terkadang sangat suka dimanja, diemong, dan diperlakukan dengan lembut. Tapi jangan sampai kebablasan, perlakuan yang berlebihan sewaktu kecil bisa menyebabkan kakaktua jambul merah tidak bisa makan dan menyenangkan dirinya sendiri.
Perhatian dan pelatihan dari tuannya sangat diperlukan kakaktua jambul merah untuk tetap tenang di kandangnya. Kalau tidak demikian, jangan heran jika tiba-tiba bulu-bulunya rontok.
Atau yang lebih ganas lagi, kakaktua jambul merah akan menjadi lebih agresif dan cenderung merusak jika lingkungannya tidak sesuai dengan keinginannya. Tapi jika mendapat perhatian lebih, ia akan mencintainya dengan sepenuh hati.
Emosinya yang terkenal labil akan menjadikan si jambul merah melabrak siapa pun yang berniat memisahkannya dari pasangan dan tuannya.
Merana di era 1980-an
Seperti yang disebut dalam rilis Asosiasi Pelatihan dan Pendidikan Burung Internasional IAATE, kakaktua jambul merah sudah terdaftar dalam lembaran I dan II CITES sejak 1989, sehingga segala bentuk jual-beli yang melibatkan burung ikonik ini menjadi liar dan ilegal. Kegiatan jual-beli yang terjadi pada dekade 1980-an dianggap menjadi penyebab utama berkurangnya jumlah jambul merah.
Karena kegiatan jual beli juga, masih menurut rilis IAATE, sebanyak 6 ribu spesies hilang tiap tahunnya. Seperti yang sudah disebut di awal, burung ini adalah endemik Pulau Seram dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, termasuk Ambon, Haruku, dan Saparua di Maluku Selatan.
Jika dulu sangat melimpah, sekarang jumlahnya sangat mengkhawatirkan, bahkan kabarnya, spesies ini sudah tidak ditemukan di Saparua dan Haruku.
IAATE mencatat, perdagangan burung kakaktua jambul merah pada kurun 1980-an, terdapat lebih dari 74 ribu orang menjual burung ini ke luar negeri antara 1981-1990 dan terdapat kurang lebih 10 ribu orang per tahun mengimpor burung ini dari Indonesia pada 1983-1988. Meskipun dikabarkan turun drastis pada era 1990-an, ada kabar lain yang menyebut perdagangan dalam negeri masih sangat marak.
Para peneliti memprediksi, jika keadaannya terus dibiarkan seperti ini, termasuk kondisi hutan yang terus berkurang, untuk beberapa tahun ke depan, setengah dari populasi kakaktua jambul merah di Pulau Seram, akan hilang.
Belum lagi, masyarakat lokal yang menganggapnya sebagai hama, karena sering nyolong kelapanya, kerap menyiksa dan membunuh nya.
Mengantisipasi segala kemungkinan, upaya konservasi kakaktua jambul merah sedang galak-galaknya. Konservasi terbesar yang saat ini bisa dijumpai terdapat Taman Nasional Manusela di Seram Timur. Semoga segala upaya baik terkait dengannya, berjalan sesuai keinginan kita. Amin!