KAI Angkut 10.050 Ton Pupuk pada Semester I 2026
Dwi Rizki July 17, 2026 04:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Penyaluran pupuk memerlukan dukungan transportasi yang mampu menghubungkan tempat produksi, lokasi penyimpanan, dan daerah tujuan secara teratur.

Dalam proses tersebut, kereta api memiliki peluang untuk melengkapi moda transportasi lain, terutama bagi pengiriman dalam jumlah besar dan menempuh jarak antardaerah.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) melayani pengiriman pupuk sebanyak 10.050 ton. 

Catatan kinerja KAI menunjukkan kereta api telah melayani 24.180 ton pupuk pada 2024 dan 21.060 ton pada 2025. Data tersebut memperlihatkan bahwa layanan berbasis rel telah digunakan dalam penyaluran pupuk selama beberapa tahun terakhir.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, kereta api dapat menjadi bagian dari pengaturan distribusi pupuk yang melibatkan berbagai moda transportasi dan pihak terkait.

“Kereta api memiliki kapasitas untuk melayani pengiriman dalam jumlah besar dengan jadwal perjalanan yang teratur. Layanan ini dapat melengkapi penyaluran yang sudah berjalan, sesuai kebutuhan pelanggan dan kesiapan penerimaan barang di setiap daerah,” ujar Anne.

Baca juga: Gestur Menteri PU Dody Hanggodo Jadi Sorotan, Dibandingkan dengan Basuki Hadimuljono

Peran transportasi yang terencana semakin penting seiring perubahan kondisi pupuk dunia.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO mencatat volume perdagangan pupuk dunia pada Januari-April 2026 berkurang sekitar 20 hingga 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Sementara itu, Bank Dunia memperkirakan rata-rata harga pupuk dunia pada 2026 meningkat sekitar 31 persen.

Perubahan perdagangan dan harga dunia tersebut menunjukkan pentingnya kerja bersama dalam menjaga kelancaran pasokan serta pengiriman pupuk di dalam negeri.

Transportasi berbasis rel dapat digunakan bersama layanan jalan dan moda lainnya agar perjalanan barang dari tempat produksi menuju daerah penerima dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Di tingkat nasional, Kementerian Pertanian mencatat penyaluran pupuk bersubsidi hingga 25 Juni 2026 telah mencapai 54,28 persen dari alokasi nasional sebesar 9,55 juta ton.

Besarnya jumlah pupuk yang disalurkan memperlihatkan skala kerja yang membutuhkan dukungan produsen, pemerintah, penyedia transportasi, pengelola gudang, distributor, dan pihak penerima di daerah.

“Setiap moda transportasi memiliki peran yang saling mendukung. Kereta api dapat melayani perjalanan utama antardaerah, kemudian pengiriman dari dan menuju terminal barang dapat dilanjutkan dengan moda lain. Pola seperti ini memberi pilihan tambahan dalam mengatur distribusi pupuk,” kata Anne.

Pengiriman pupuk menjadi bagian dari layanan barang nonbatu bara KAI. Sepanjang Semester I 2026, KAI melayani 5.963.948 ton barang nonbatu bara, yang mencakup peti kemas, bahan bakar minyak, semen dan klinker, hasil perkebunan, barang ritel, pupuk, serta komoditas lainnya.

Kapasitas layanan barang tersebut membuka ruang kerja sama yang lebih luas bersama Kementerian Pertanian, produsen pupuk, pemerintah daerah, perusahaan logistik, dan pihak terkait lainnya.

Pemanfaatannya dapat disesuaikan dengan lokasi produksi, jaringan rel, terminal barang, tempat penyimpanan, serta kebutuhan masing-masing wilayah.

Menurut Anne, pembahasan bersama para pihak dibutuhkan untuk menentukan pola pengiriman yang paling sesuai. Pengaturan meliputi jumlah barang, jadwal perjalanan, lokasi pemuatan, kesiapan terminal, hingga penerimaan pupuk di daerah tujuan.

“Kelancaran penyaluran pupuk merupakan hasil kerja bersama. KAI siap menjadi bagian dari kerja tersebut melalui layanan barang yang aman, terjadwal, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengiriman,” tutup Anne.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.