TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menargetkan penemuan 6.261 kasus Tuberkulosis (TBC) sepanjang 2026.
Pelacakan kasus TBC di Cilacap mendapat kendala, satu di antaranya ketakutan warga dikucilkan jika mengalami TBC.
Kepala Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Cilacap, Hassanudin mengatakan, penanggulangan TBC menjadi salah satu fokus pemerintah mewujudkan masyarakat yang sehat menuju Indonesia Emas 2045.
Itu sebabnya, seluruh daerah diminta memperkuat penemuan dan penanganan kasus secara optimal.
"Program ini merupakan prioritas nasional sehingga kami harus bekerja maksimal karena kesehatan masyarakat menjadi kunci menuju Indonesia Emas 2045, sementara target penemuan kasus TBC di Cilacap juga cukup besar," ujar Hassanudin.
Baca juga: Sekolah Rakyat Cilacap Beroperasi, 270 Siswa Mulai Belajar Akhir Juli
Hingga pekan ke-27 tahun 2026, Dinkes PPKB Cilacap telah menemukan 3.069 kasus TBC positif atau sekitar 49,02 persen dari target yang ditetapkan pemerintah.
"Upaya menemukan kasus ini membutuhkan kerja keras sehingga kami melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari rumah sakit, puskesmas hingga klinik agar setiap kasus dapat ditemukan, dilaporkan dalam sistem, ditangani, dan diobati sampai sembuh," katanya.
Selain memperkuat pelaporan kasus, Dinkes PPKB Cilacap juga melakukan skrining secara masif melalui program Active Case Finding (ACF) dengan memanfaatkan mobil rontgen keliling yang beroperasi hampir setiap hari sesuai jadwal.
"Mobil rontgen kami hampir setiap hari berkeliling bersama petugas radiologi dan didukung puskesmas untuk melakukan skrining sehingga masyarakat yang diduga menderita TBC dapat segera ditemukan," jelas Hassanudin.
Menurutnya, pasien yang telah dinyatakan positif harus menjalani pengobatan secara rutin selama enam bulan agar sembuh sekaligus mencegah penularan kepada orang lain.
"Kami terus memberikan edukasi dan motivasi kepada pasien agar tidak putus berobat karena TBC bisa sembuh jika menjalani pengobatan dengan disiplin dan menerapkan pola hidup sehat," ungkapnya.
Dinkes PPKB Cilacap juga melakukan pelacakan terhadap keluarga maupun rekan kerja yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC untuk memastikan penyebaran penyakit dapat dikendalikan sejak dini.
"Kami melakukan tracing kepada kontak erat dan memberikan terapi pencegahan agar infeksi yang mungkin sudah masuk ke dalam tubuh tidak berkembang menjadi penyakit TBC," tutur Hassanudin.
Baca juga: 134 Stan Meriahkan Cilacap Expo 2026, Masyarakat Bisa Nikmati Produk UMKM Hingga Layanan Publik
Dari ribuan kasus yang telah ditemukan, sebanyak 2.887 pasien telah menjalani pengobatan sebagai bagian dari upaya menekan angka penularan dan meningkatkan keberhasilan terapi.
"Program ini juga didukung TNI, Polri, pemerintah desa, kader kesehatan, hingga seluruh tenaga kesehatan yang turun langsung ke lapangan untuk menemukan kasus baru sekaligus mendampingi pasien agar tetap menjalani pengobatan," katanya.
Hassanudin mengungkapkan, TBC merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian apabila tidak segera diobati sehingga masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala maupun pengobatan yang telah diberikan.
"Kalau tidak diobati, TBC bisa mematikan dan penularannya sangat cepat sehingga harus dituntaskan bersama," tegasnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam penanggulangan TBC di lapangan masih berasal dari stigma masyarakat yang membuat sebagian penderita takut memeriksakan diri maupun mengakui penyakitnya.
"Masih ada masyarakat yang takut dikucilkan karena stigma sehingga enggan memeriksakan diri atau berobat, padahal semakin cepat ditemukan dan diobati maka peluang sembuh akan semakin besar," pungkas Hassanudin. (*)