TRIBUNJATIM.COM – Momen kebersamaan yang dipenuhi canda tawa menjadi kenangan terakhir bagi satu keluarga asal Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya, sebelum kecelakaan maut merenggut lima nyawa di ruas Tol Malang–Pandaan KM 72/B, wilayah Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Rabu (15/7/2026) sekitar pukul 19.30 WIB.
Rombongan keluarga yang berjumlah sekitar 15 orang berangkat berwisata ke kawasan Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menggunakan tiga kendaraan.
Dalam perjalanan pulang menuju Surabaya, mobil Honda CR-V yang berada di posisi paling depan mengalami kecelakaan setelah menabrak bagian belakang truk Mitsubishi Fuso yang sedang berhenti di bahu jalan karena mogok.
Akibat peristiwa tersebut, lima orang meninggal dunia, yakni pengemudi MI (37), istrinya MH, dua anggota keluarga berinisial HH dan HN, serta balita WPP.
Baca juga: Jerit Tangis Iringi Pemakaman 3 Korban Laka CR-V Tol Malang-Pandaan, Warga Berebut Bawa Peti Jenazah
Sementara empat penumpang lainnya mengalami luka-luka dan menjalani perawatan di RS Mitra Sehat Medika Pandaan serta RSUD Bangil.
Humas Polres Pasuruan Iptu Joko Suseno mengatakan, berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), Honda CR-V bernomor polisi L-1720-CAY melaju dari arah Malang menuju Surabaya sebelum bergerak ke sisi kiri jalan.
"Diduga pengemudi kurang berhati-hati dan kurang konsentrasi," katanya.
Menurut Joko, kendaraan sempat menyerempet guardrail di sisi kiri sebelum akhirnya menghantam bagian belakang kanan truk yang berhenti di bahu jalan.
"Sesaat sebelum kecelakaan, kendaraan bergerak ke kiri hingga menyerempet guardrail, lalu menghantam bagian belakang kanan truk," ujarnya.
Ia menambahkan, faktor manusia diduga menjadi penyebab utama kecelakaan, sementara kondisi kendaraan, cuaca, jalan maupun faktor alam tidak ditemukan sebagai pemicu insiden tersebut.
Di tengah suasana duka, sepupu korban, Mulyadi, mengungkap dugaan kronologi kecelakaan berdasarkan cerita RI, salah seorang tetangga yang ikut dalam rombongan menggunakan kendaraan lain.
Menurut informasi yang diterimanya, mobil yang dikemudikan MI sempat melaju sekitar 100 kilometer per jam.
Namun, ketika memasuki KM 72 Tol Malang–Pandaan, kecepatan kendaraan terus menurun dan bergerak ke arah kiri.
Pengemudi kendaraan di belakang disebut berulang kali membunyikan klakson karena melihat laju mobil tidak normal.
Namun, peringatan tersebut tidak mendapat respons hingga akhirnya mobil menghantam bagian belakang truk.
"Dari mobil yang di belakang, awalnya kecepatan 100 Km/jam, turun, turun, turun, terus dia itu jalan ke kiri. Sama yang di belakang itu diklakson. Yang belakang itu rombongan. Akhirnya nyantap (truk)," ujar Mulyadi.
Ia menduga pengemudi mengantuk.
Namun, ia menyerahkan sepenuhnya penyelidikan penyebab pasti kecelakaan kepada pihak kepolisian.
"Kurang lebihnya mengantuk. Dari ngurangi kecepatan itu sampai dia bentur. Ke kirinya itu sama yang di belakang sudah diingetin. Ini kok gas tambah turun terus dia jalannya kok tambah miring. Tadi diklakson dari belakang," katanya.
Sementara itu, istri Mulyadi, Kautsar Ramadhani (35), mengaku keluarga sama sekali tidak memiliki firasat sebelum keberangkatan rombongan wisata tersebut.
Menurutnya, seluruh anggota keluarga masih sempat berkumpul, mengobrol, dan bercanda sebelum berangkat sekitar pukul 08.00 WIB.
"Enggak ada firasat sama sekali. Yang mau berangkat masih ketemu. Saya masih ngobrol, masih guyon, masih bercanda," ujarnya.
Kautsar mengatakan rombongan keluarga besar berangkat berwisata menggunakan tiga mobil dengan jumlah sekitar 15 orang.
"Ini rombongan tiga mobil, keluarga besar mau rekreasi, kurang lebih 15 orang. Mumpung ini masih ada waktu liburan," katanya.
Ia menjelaskan, kabar kecelakaan pertama kali diterima dari anggota keluarga yang berada di mobil lain.
"Kami yang dari sini dapat info dari mobil satunya bahwa mobilnya Isak kecelakaan. Otomatis kita langsung ke sana, yang enggak ikut rekreasi itu," tuturnya.
Menurut Kautsar, lima korban meninggal merupakan satu keluarga. Sementara empat korban lain yang selamat masih menjalani perawatan di dua rumah sakit.
"Sekarang kabarnya meninggal dunia lima orang, empat orang dewasa, satu anak-anak. Masih satu keluarga. Yang luka empat orang, masih satu keluarga. Ada yang dirawat di Rumah Sakit Sehat Medika sama Rumah Sakit Bangil," katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa balita yang meninggal dunia merupakan anak kembar.
"Yang satu meninggal balita ini sebenarnya anak kembar. Kembarannya lagi luka berat," ujarnya.
Kautsar mengatakan dirinya dan sang suami memilih tidak ikut dalam perjalanan wisata karena masih memiliki pekerjaan. Keputusan tersebut membuat keduanya selamat dari tragedi yang merenggut lima anggota keluarga sekaligus.
Ia mengenang para korban sebagai sosok yang baik dan mudah bergaul di lingkungan tempat tinggalnya.
"Baik semua. Enggak banyak omong. Baik sama teman-teman, baik sama tetangga," ucapnya.
Menurutnya, pengemudi mobil juga dikenal sebagai sosok yang terbiasa mengemudi saat keluarga bepergian.
"Memang punya kemampuan nyetir. Kalau ada perjalanan apa pun memang dia yang disuruh nyetir," katanya.
Seluruh jenazah dievakuasi ke Kompartemen Dokpol RS Bhayangkara Porong sebelum dibawa ke rumah duka di Jalan Nyamplung Kuburan Nomor 45, Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya.
Isak tangis keluarga pecah saat lima peti jenazah tiba di rumah duka pada Kamis (16/7/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. Rencananya, seluruh korban dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pegirian, Surabaya.
Kautsar berharap seluruh amal ibadah para korban diterima di sisi Tuhan.
"Harapannya semoga para jenazah itu diterima amal baiknya, diterima segala amalnya, diampuni segala dosa-dosanya. Soalnya saya saksi orang mereka itu orang baik," pungkasnya.