SERAMBINEWS.COM, TEHERAN – Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) mengumumkan telah meluncurkan gelombang serangan balasan ke-12 yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait pada Jumat (17/7/2026). Menurut klaim IRGC, serangan tersebut memicu kebakaran hebat di dalam fasilitas militer AS.
IRGC mengklaim sejumlah aset strategis milik AS berhasil menjadi sasaran, di antaranya radar deteksi dan identifikasi pertahanan rudal, depot penyimpanan senjata, serta dua unit sistem peluncur roket artileri mobilitas tinggi (High Mobility Artillery Rocket System/HIMARS) beserta rudal-rudalnya.
Serangan terhadap pangkalan AS di Kuwait disebut sebagai bagian dari strategi Teheran untuk meningkatkan tekanan terhadap negara-negara Teluk yang menjadi lokasi penempatan pasukan dan fasilitas militer Amerika Serikat.
Menurut IRGC, operasi tersebut merupakan balasan langsung atas serangkaian serangan yang dilakukan militer AS terhadap wilayah Iran.
Baca juga: AS Bombardir Lima Jembatan Strategis di Iran, Transportasi Nyaris Lumpuh
Iran menuduh serangan Amerika telah menyasar berbagai fasilitas sipil dan infrastruktur penting, termasuk jaringan telekomunikasi, jalur perkeretaapian, pekerja kereta api, serta kendaraan sipil.
Teheran menyatakan serangan-serangan tersebut telah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) pada Kamis (16/7/2026) mengumumkan telah menyelesaikan gelombang operasi militer terbaru terhadap target-target yang diklaim sebagai aset strategis Iran. Pengumuman tersebut menyusul enam malam berturut-turut operasi ofensif yang dilancarkan militer AS.
Ketegangan antara kedua negara terus meningkat sejak Februari 2026, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan berskala besar terhadap sejumlah target di Iran.
Sejak itu, Iran secara bertahap meningkatkan serangan balasan menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang menargetkan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk di negara-negara Teluk.
Konflik yang terus memanas tersebut memicu kekhawatiran masyarakat internasional terhadap potensi meluasnya perang di kawasan, terutama karena jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling rentan terhadap eskalasi.
Sejumlah negara dan organisasi internasional terus menyerukan penahanan diri serta penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik guna mencegah krisis keamanan dan ekonomi yang lebih luas.