TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Warga Kampung Jampang, Desa Cadasngampar, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor terpaksa menggunakan air keruh Sungai Cikeas untuk mandi dan mencuci.
Tidak hanya itu, pasokan air ke masjid pun juga mengandalkan air sungai.
Ini terjadi setelah banyak sumur warga di wilayah kampung ini mengalami kekeringan sejak sekitar sebulan terakhir.
Halimi, salah satu warga sekitar mengatakan bahwa kekeringan di kampungnya ini sudah langganan tiap tahun.
"Karena di sini memang sudah sudah padat, resapannya sudah nggak ada kan sekarang mah," kata Halimi kepada TribunnewsBogor.com, Jumat (17/7/2026).
Halimi berharap, kekeringan ini tidak sampai memakan waktu lama hingga berbulan-bulan.
Sebab sengetahuan dia, warga susah air bersih yang dialami pernah mencapai lima bulan.
"Tergantung kemaraunya, di sini pernah sampai lima bulan," katanya.
Untuk kebutuhan air bersih, warga biasanya mengandalkan sumur yang masih ada airnya atau membeli air mineral.
Namun untuk mandi, air sumur yang ada saat ini tak cukup karena terus berkurang karena kemarau.
"Sumur ada yang masih ada airnya, kalau buat masak masih ada. Kalau buat mandi ya itu repotnya, ke kali," kata Halimi.
"Masjid juga nggak ada (air), saya ngambil dari kali ini, pakai paralon. Tapi enggak langsung ke toren, bikin resapan dulu pakai ijuk, pakai batu merah merah. Jadi air datangnya sudah bersih," imbuhnya.
Meski keruh, dia bersyukur air Sungai Cikeas masih bisa dimanfaatkan karena dinilai masih belum tercemar limbah-limbah pabrik.
"Jadi mandi pada kali aja, masih untung mending, kali ini masih bersih lah. Nggak ada (pabrik di hulu sungai), cuma perumahan," ungkapnya.
Pantauan TribunnewsBogor.com, tidak hanya mandi dan mencuci di sungai, warga juga ada yang mengangkut air sungai menggunakan galon.
Galon-galon berisi air keruh terlihat di area pinggir Sungai Cikeas di kawasan ini.
Kampung ini sebelumnya juga telah mendapat bantuan pasokan air bersih dari BPBD Kabupaten Bogor.
BPBD mencatat ada 807 KK atay 2.802 jiwa yang terdampak kekeringan.