TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Di usia yang baru menginjak 18 tahun, Pande Kirana Tunggadewi Widura sudah berani melangkahkan kaki di persimpangan dua dunia yang tampak bertolak belakang namun menyatu dalam satu kata yang ia banggakan yakni seni.
Di satu sisi, ia adalah seorang mahasiswi kedokteran gigi yang bergelut dengan disiplin sains di Universitas Mahasaraswati.
Di sisi lain, ia adalah Ning Ayu Gianyar 2026, sosok yang mengemban tanggung jawab melestarikan tradisi di tengah gempuran modernitas.
Perjalanan perempuan berpostur 162 centimeter ini menuju mahkota Ning Ayu bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak lama.
Ketertarikan awalnya justru muncul dari pengamatan di media sosial.
Berangkat dari keinginan untuk keluar dari zona nyaman dan ingin menguapkan jati dirinya, gadis kelahiran Denpasar ini memantapkan langkah mengikuti ajang bergengsi tersebut.
"Saya ingin belajar proses untuk bertumbuh, berkembang, dan juga melestarikan budaya dan identitas Indonesia agar tetap hidup dan relevan di masa depan," ujar Kirana saat dijumpai Tribun Bali di Denpasar, pada Jumat 17 Juli 2026.
Proses panjang yang ia tempuh tidaklah mudah, selama masa karantina yang intens, Kirana harus berhadapan dengan musuh terbesarnya rasa takut dan keraguan pada diri sendiri.
Baginya, tantangan tersulit bukanlah bersaing dengan finalis lain, melainkan menaklukkan suara sumbang di kepalanya yang kerap meragukan kemampuannya.
"Tantangan terberat adalah bagi saya untuk melawan rasa takut saya, nervous saya, yaitu self-doubt," ungkapnya.
Namun, di balik kegigihannya, ada dukungan tak tergoyahkan dari sosok ibu.
Kirana menuturkan bahwa sang ibu adalah mentor utama yang membimbingnya dari hal kecil di awal perjalanan hingga ia berhasil meraih gelar tertinggi.
Dukungan ini pula yang menumbuhkan rasa tanggung jawab besar dalam dirinya.
Baca juga: Detik-detik Nyawa Nyoman Cita Dihabisi di Aliran Sungai Bubuh, Sangkur Sepanjang 30 Cm Tertancap
Kini, sebagai pemenang, Kirana tidak ingin sekadar menjadi simbol kecantikan. Ia telah menyiapkan program yang dinamakan 'Young Culture Ambassador'.
Melalui program ini, ia ingin mengajak anak-anak muda Indonesia, khususnya di Bali, untuk kembali mendekatkan diri dengan tradisi.
Tidak hanya melulu tentang tari, ia ingin mengintegrasikan hal-hal sederhana seperti membuat canang, hingga teknik kerajinan tangan dan lukisan, ke dalam kurikulum kreatif bagi anak muda.
"Saya ingin mempunyai program yang bernama Young Culture Ambassador, yang mendefinisikan tentang empowering youth, inspiring leadership, dan juga preserving heritage," jelas Kirana.
Menanggapi pandangan miring mengenai generasi Z yang dianggap mulai melupakan budaya, Kirana memiliki jawaban bijak.
Remaja kelahiran Denpasar 24 Mei 2008 ini berpendapat bahwa modernitas dan tradisi bukanlah dua hal yang harus dipandang berlawanan.
Keduanya bisa berjalan beriringan, selama generasi muda masih memiliki kesadaran dan rasa bangga akan warisan leluhurnya.
"Modernitas dan juga tradisi budaya, menurut saya tidak perlu dipertentangkan," tegas alumni SMP Taman Rama tersebut.
Ke depannya, Kirana berharap perjalanannya bisa menginspirasi remaja lainnya. Ia ingin membuktikan bahwa menjadi sosok yang berprestasi tidak perlu melepaskan diri dari akar budaya.
Di usianya yang baru menginjak 18 tahun, Kirana Dwidura memberikan contoh nyata bahwa dengan mental yang kuat dan tekad yang bulat, seorang remaja mampu menjadi jembatan antara tradisi masa lalu dengan masa depan yang dinamis.
"Kuliah di kedokteran gigi dan Jadi Ning Ayu ini ada kaitannya juga di dentistry, karena di dentistry itu juga ada bagian art-nya, seni, seni dan juga estetika gigi dan mulut," pungkasnya.
(*)