Mengenal Spesifikasi Bekalista, Becak Listrik Daring Pertama di Indonesia yang Kini Hadir di Jogja
Muhammad Fatoni July 17, 2026 10:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Becak Kayuh Listrik Pariwisata (Bekalista) resmi diluncurkan di Yogyakarta.

​Peresmian inovasi becak listrik berbasis pemesanan daring pertama di Indonesia ini dipimpin langsung oleh Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa, didampingi Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, Kamis (16/7/2026).

Kehadiran Bekalista inipun disebut-sebut sebagai bagian dari upaya mendukung wajah baru transportasi wisata di Yogyakarta.

​Hadirnya Bekalista merupakan wujud nyata sinergi lintas sektoral yang dijembatani oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Proyek ini melibatkan PT Langit Biru Istimewa (PT LBI) selaku pengembang utama, mitra strategis PT YPTI, lima SMK BLUD se-DIY, serta platform aplikasi JogjaKita.

​Presiden Direktur PT LBI sekaligus Prinsipal Bekalista, Ary Tjahyono, menegaskan, inovasi ini bukan menggantikan profesi pengayuh becak tradisional, tetapi pendamping untuk meringankan beban kerja mereka di lapangan.

​"Selama ini pengayuh becak bekerja sangat keras, bahkan seringkali harus bersaing dengan becak motor bensin yang lebih cepat. Bekalista hadir sebagai kaki tangan yang meringankan beban tenaga sekaligus meningkatkan pendapatan," ujarnya, Jumat (17/7/2026).

Spesifikasi Bekalista

​Selain memodifikasi becak lama, Bekalista pun dibuat ulang melalui proses reverse engineering guna menjamin standar keamanan dan kenyamanan setara kendaraan modern. 

Secara legalitas, desain Bekalista telah mengacu pada Surat Edaran Dirjen Hubdar/Kemenhub Nomor AJ. 005/3/5/DJPD/2019, sehingga layak beroperasi di jalur pariwisata.

​Dapur pacu Bekalista didukung motor listrik 750 Watt dengan torsi 100 NM yang sanggup membawa beban hingga 300 kilogram, bahkan melibas tanjakan berkemiringan 15 persen.

​Untuk sistem kelistrikannya, kendaraan ini menggunakan tegangan rendah 48 Volt, tahan debu dan air (kelas IP67), serta ditopang baterai LiFePo4 yang mampu melaju hingga 50 kilometer dengan kecepatan maksimal 20 km/jam dalam sekali pengisian daya.

​Salah satu nilai tambah Bekalista ialah rantai produksinya yang murni melibatkan tenaga lokal, di mana perakitan utama dikerjakan langsung oleh para siswa binaan di lima SMK BLUD se-DIY di bawah pengawasan tim ahli.

​Dari sisi lingkungan, Bekalista diklaim mampu beroperasi rata-rata 50 kilometer per hari, dan mengurangi emisi karbon hingga 1.230 kg CO₂ per tahun. 

Oleh sebab itu, ketika target 500 unit mengaspal di Yogyakarta dapat tercapai, emisi yang dipangkas pun diproyeksikan mencapai 615 ton karbon per tahun.

Baca juga: Pemkot Yogya Masih Butuh 700 Becak Listrik di Kawasan Malioboro, Begini Strategi Hasto

Layanan Pemesanan Daring

​Sebagai pembeda dengan becak konvensional pada umumnya, Bekalista kini telah terintegrasi dengan layanan pemesanan daring lewat aplikasi JogjaKita.

​Co-Founder sekaligus Komisaris JogjaKita, Gembong Prakoso, menyampaikan, pengelolaan operasional becak modern ini berlandaskan pada kesejahteraan pengayuh.

​"Pengelolaan operasional berada di bawah Koperasi MNI, dan seluruh keuntungan akan dikembalikan untuk kesejahteraan pengayuh serta pengembangan ekosistem. Ini adalah ekonomi gotong royong yang sesungguhnya," jelasnya.

​Pada tahap awal, masyarakat dan wisatawan sudah bisa memesan layanan Bekalista dalam radius 2 kilometer dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta, dengan pusat operasi di kawasan Malioboro.

Ke depannya, lanjut Gembong, jangkauan layanan Bekalista akan terus diperluas hingga ke berbagai fasilitas publik dan destinasi wisata lainnya.

​"Belum ke Yogyakarta kalau belum mencoba naik Bekalista, dan belum lengkap kunjunganmu kalau belum berfoto di Malioboro," pungkasnya.

BECAK LISTRIK: Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menunggangi becak listrik
BECAK LISTRIK: Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menunggangi becak listrik "Bekalista" keliling Alkid, Kamis (16/7/26) sore. (Tribun Jogja/Azka Ramadhan)

Libatkan Tenaga Lokal hingga Pelajar

Saat meresmikan peluncuran Bekalista, Menkeu ​Purbaya juga menegaskan proyek modernisasi moda transportasi tradisional ini 100 persen melibatkan tenaga lokal Yogyakarta, bahkan dari kalangan pelajar.

Mulai dari fabrikasi, perakitan, kelistrikan, hingga ekosistem pendukungnya diintegrasikan melalui program teaching factory di lingkungan pendidikan kejuruan, tepatnya di SMK Negeri 3 Yogyakarta.

​"Saya titip, stasiun pengisian daya harus benar-benar menyala, mudah digunakan, dan dirawat dengan baik. Kemampuan SMK ini luar biasa, dan harus dimanfaatkan demi menyelesaikan persoalan nyata di sekitar kita," ujarnya.

​Menkeu menambahkan, ekosistem Bekalista telah disiapkan secara matang dengan menghadirkan 12 stasiun pengisian daya (charging station), satu bengkel bergerak (mobile), delapan baterai cadangan, serta bengkel induk yang dipusatkan di SMKN 3 Yogyakarta.

Menurutnya, becak listrik merupakan masa depan moda transportasi yang semakin menunjang status Yogyakarta sebagai kota tujuan wisata nomor wahid di tanah air.

​"Bagi wisatawan, perjalanan dengan becak mungkin hanya 10 sampai 20 menit. Tapi, bagi seorang tukang becak, itu berarti belanja dapur, biaya sekolah, dan kecukupan kebutuhan keluarga. Hari ini yang kita elektrifikasi bukan sekadar becak, tapi yang kita nyalakan adalah peluang, harapan, dan masa depan keluarga," tegasnya.

Pertemukan Tiga Pilar Kehidupan di Jogja

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, menyampaikan apresiasi atas hadirnya kebijakan fiskal negara yang menyentuh langsung denyut nadi pelaku usaha kecil di Yogyakarta.

Menurut Ngarsa Dalem, peluncuran becak kayuh listrik wisata tersebut, secara langsung berhasil mempertemukan tiga pilar penting kehidupan Yogyakarta.

​"Becak listrik mempertemukan tiga kepentingan, yaitu menjaga identitas budaya, memuliakan pelaku transportasi tradisional, dan membangun mobilitas yang lebih ramah lingkungan. Melestarikan becak tidak berarti melestarikan kelelahan para pengemudinya," ungkapnya.

​Lebih lanjut, Sultan menekankan pentingnya filosofi Hamemayu Hayuning Bawana dalam adopsi teknologi modern di kawasan-kawasan cagar budaya. 

Transformasi transportasi tidak hanya menuntut kecepatan, tetapi juga wajib memenuhi aspek ketertiban, kebersihan, aspek kemanusiaan, dan penghormatan terhadap karakter ruang.

​"Teknologi harus menjaga keselarasan antara manusia, lingkungan, dan kebudayaan. Ekosistem becak listrik yang komplit ini diharapkan mampu menghubungkan kawasan wisata, pasar rakyat, sentra kerajinan, hingga kampung budaya sehingga setiap perjalanan turut menggerakkan mata rantai ekonomi lokal secara nyata," cetusnya. (*/aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.