Budaya Merawat
Abdul Azis Alimuddin July 18, 2026 12:22 AM

Oleh: Muh. Zulkifli Mochtar
Diaspora Indonesia di Tokyo, Ketua ICMI Jepang

TRIBUN-TIMUR.COM - Ada pengalaman kecil menarik terjadi minggu lalu.

Saya lupa handphone entah dimana.

Padahal sudah dalam perjalanan.

Kemungkinan terbesar tertinggal di meja rumah.

Jalan satu satunya mencari telepon umum.

Zaman sekarang pasti tidak mudah menemukan fasilitas ini.

Ternyata ada, setelah berjalan sekitar 10 menit dari stasiun kecil.

Letaknya di gang kecil perumahan.

Kondisi box telephone juga sudah sangat tua.

Saya ragu masih bisa digunakan atau tidak.

Bentuknya telepon koin – saya coba dengan 10 yen.

Ternyata bisa, tersambung ke handophone saya.

Ini bukan kali pertama.

Saya pernah mencoba telepon umum di berbagai tempat.

Meski kondisi tua, selalu berfungsi.

Terasa benar bahwa manejemen kontrol perawatan selalu tetap dilakukan.

Selain itu, jika pernah berkunjung ke Jepang mungkin anda akan mendapatkan betapa lembaran uang kertas Yen mereka sangat bersih, rapih dan tidak lecek.

Belum pernah sekalipun saya menerima uang yen lecek, baik di toko besar maupun di pasar kecil.

Semua bersih serasa habis diseterika.

Mereka memberlakukan uangnya dengan baik dan bersih.

Uang kertas mereka selalu disimpan dalam amplop, atau dijejerkan rapi dalam dompet.

Cobalah jalan jalan ke pasar tradisional kita dan bandingkan dengan kondisi uang kertas rupiah kita.

Saya mungkin bisa dikategorikan tipe orang yang sangat senang membersihkan.

Perasaan tidak enak jika baju yang dikenakan, kamar sendiri atau rumah terlihat kotor.

Mungkin karena dimasa kecil sudah diserahi tugas rumah mengurus buang sampah dan membersihkan pekarangan.

Saking bagusnya hasil kerja, saya terkadang diserahi tugas tambahan oleh orang tua mengecek kebersihan mobil setelah dibersihkan sopir.

Ada perasaan puas melihat tempat yang awalnya kotor berantakan, dengan keuletan tangan dan kepekaan perasaan bisa berubah menjadi bersih rapi mengkilap.

Sayangnya, ketika keluar bermobilitas, banyak sisi kota terlihat kotor, sampah berserakan tak terurus banyak terlihat.

Ya harus kita akui, manajemen kebersihan dan perawatan fasilitas kota kita belum sebaik dan sedisiplin mereka.

Kita menyaksikan betapa banyak fasilitas umum berupa trotoar, taman kota, toilet umum, halte bus, pasar dan stasiun kita terlihat kotor tidak terurus.

Benarkah masyarakat kita tidak maksimal merawat?

Sulit mengatakan tidak : lihatlah fasilitas umum sekitar kita yang kotor tidak terawat.

Fungsinya juga berubah menjadi tempat jualan, tempat tidur atau tempat parkir kendaraan secara liar.

Bicara tentang telepon umum, jangankan berfungsi – kebanyakan gagang telepon sudah putus dirusak dan diambil.

Selain punya manajemen perawatan rutin oleh institusi kota, masyarakat Jepang juga berpikiran maju yang salah satu cirinya memang sudah punya kultur sadar kebersihan dan antusiasme merawat.

Lagi lagi masalah kesadaran – sesuatu yang tidak mudah dibentuk di negara kita.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.