Jatim Terpopuler: Usulan Pengasuh Ponpes Darul Ulum soal PBNU hingga Pembunuhan Berencana Nganjuk
Arie Noer Rachmawati July 18, 2026 07:14 AM

Diawali dengan kiai Pengasuh Ponpes Darul Ulum Rejoso usulkan wajah baru pimpin PBNU.

Selanjutnya keluarga kenang momen terakhir sebelum lima orang tewas di Tol Malang–Pandaan.

Terakhir polisi ungkap pembunuhan berencana di Nganjuk, anak angkat dan kekasih terancam hukuman mati.

Berikut selengkapnya:

Baca juga: Jatim Terpopuler: Nasib 8 SDN di Ponorogo Tak Dapat Siswa Baru hingga Ledakan di Gupusmu Madiun

Kiai Pengasuh Ponpes Darul Ulum Rejoso Usulkan Wajah Baru Pimpin PBNU

Wacana mengenai regenerasi kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai mengemuka menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, 27-31 Agustus 2026.

Forum lima tahunan tersebut diharapkan pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang, KH Zainul Ibad As'ad atau Gus Ulib, menjadi titik balik untuk memperkuat persatuan organisasi.

Menurut Gus Ulib, muktamar semestinya tidak dijadikan ruang melanjutkan persaingan yang berpotensi memperpanjang ketegangan di internal NU.

Sebaliknya, forum tersebut diharapkan melahirkan kepemimpinan yang mampu diterima seluruh elemen Nahdliyin.

Ia menilai, tokoh-tokoh yang selama ini berada dalam pusaran konflik sebaiknya memberikan kesempatan kepada figur lain yang lebih mampu merangkul berbagai kelompok.

Langkah itu, menurutnya, penting agar organisasi memasuki babak baru yang lebih kondusif.

"Elite PBNU yang kemarin konflik, tolong sadar diri jangan maju lagi," ucap Gus Ulib kepada TribunJatim.com, Kamis (16/7/2026).

Menurutnya, konflik berkepanjangan hanya akan menguras energi organisasi dan berpotensi menghambat upaya membangun NU yang semakin solid.

"Harapan saya, kepemimpinan mendatang diisi sosok yang tidak memiliki beban perselisihan dengan kelompok mana pun," ujarnya melanjutkan.

Gus Ulib juga mengingatkan bahwa Muktamar ke-35 memiliki makna penting karena digelar di Jombang, salah satu daerah yang memiliki sejarah kuat dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.

"Momentum ini sangat tepat untuk memperkuat rekonsiliasi dan mempererat persaudaraan di lingkungan NU," ungkapnya.

Ia menegaskan, organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu berdiri di atas semua kepentingan, membangun komunikasi lintas kelompok, serta menjaga soliditas NU dalam menghadapi berbagai tantangan pada abad kedua perjalanannya.

Selain itu, Gus Ulib mengajak seluruh warga NU untuk kembali menghidupkan semangat para pendiri organisasi dengan menjadikan nilai ketulusan, pengabdian, dan persatuan sebagai pijakan dalam menentukan arah kepemimpinan.

"Keberadaan dzurriyah atau keturunan para muassis juga memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai dasar NU yang diwariskan sejak organisasi didirikan," bebernya.

BACA SELENGKAPNYA >>>

Baca juga: Jatim Terpopuler: ASN Tulungagung Bolos Kerja Sebulan hingga Gerai Kopdes Dibangun di Telaga

Keluarga Kenang Momen Terakhir Sebelum 5 Orang Tewas di Tol Malang

Momen kebersamaan yang dipenuhi canda tawa menjadi kenangan terakhir bagi satu keluarga asal Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya, sebelum kecelakaan maut merenggut lima nyawa di ruas Tol Malang–Pandaan KM 72/B, wilayah Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Rabu (15/7/2026) sekitar pukul 19.30 WIB.

Rombongan keluarga yang berjumlah sekitar 15 orang berangkat berwisata ke kawasan Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menggunakan tiga kendaraan.

Dalam perjalanan pulang menuju Surabaya, mobil Honda CR-V yang berada di posisi paling depan mengalami kecelakaan setelah menabrak bagian belakang truk Mitsubishi Fuso yang sedang berhenti di bahu jalan karena mogok.

Akibat peristiwa tersebut, lima orang meninggal dunia, yakni pengemudi MI (37), istrinya MH, dua anggota keluarga berinisial HH dan HN, serta balita WPP.

Sementara empat penumpang lainnya mengalami luka-luka dan menjalani perawatan di RS Mitra Sehat Medika Pandaan serta RSUD Bangil.

Humas Polres Pasuruan Iptu Joko Suseno mengatakan, berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), Honda CR-V bernomor polisi L-1720-CAY melaju dari arah Malang menuju Surabaya sebelum bergerak ke sisi kiri jalan.

"Diduga pengemudi kurang berhati-hati dan kurang konsentrasi," katanya.

Menurut Joko, kendaraan sempat menyerempet guardrail di sisi kiri sebelum akhirnya menghantam bagian belakang kanan truk yang berhenti di bahu jalan.

"Sesaat sebelum kecelakaan, kendaraan bergerak ke kiri hingga menyerempet guardrail, lalu menghantam bagian belakang kanan truk," ujarnya.

Ia menambahkan, faktor manusia diduga menjadi penyebab utama kecelakaan, sementara kondisi kendaraan, cuaca, jalan maupun faktor alam tidak ditemukan sebagai pemicu insiden tersebut.

Di tengah suasana duka, sepupu korban, Mulyadi, mengungkap dugaan kronologi kecelakaan berdasarkan cerita RI, salah seorang tetangga yang ikut dalam rombongan menggunakan kendaraan lain.

Menurut informasi yang diterimanya, mobil yang dikemudikan MI sempat melaju sekitar 100 kilometer per jam.

Namun, ketika memasuki KM 72 Tol Malang–Pandaan, kecepatan kendaraan terus menurun dan bergerak ke arah kiri.

Pengemudi kendaraan di belakang disebut berulang kali membunyikan klakson karena melihat laju mobil tidak normal.

BACA SELENGKAPNYA >>>

Baca juga: Jatim Terpopuler: Polisi Kejar E Pembunuh ASN Ruly di 5 Tempat hingga Krisis Murid Baru Ponorogo

Polisi Ungkap Pembunuhan Berencana di Nganjuk

Kepolisian mengungkap fakta baru dalam kasus tewasnya Gatot Tri Wahyu Widodo (53), warga Dusun Nanggungan, Desa Kaloran, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Penyidik memastikan pembunuhan tersebut dilakukan secara terencana oleh dua tersangka, yakni DM (19) dan NJS (28).

Hasil penyidikan menyebutkan aksi pembunuhan telah dipersiapkan beberapa hari sebelum dieksekusi.

Polisi menduga kedua pelaku telah membagi peran sejak awal untuk menghabisi nyawa korban, kemudian berusaha menghilangkan jejak dengan menguburkan jasad di pekarangan samping rumah.

Dalam perkara ini, penyidik menetapkan DM sebagai pihak yang diduga berperan menyusun rencana sekaligus mengatur jalannya aksi pembunuhan.

Sementara NJS disebut membantu pelaksanaan pembunuhan hingga proses menguburkan korban.

Atas perbuatannya, kedua tersangka kini dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman paling berat berupa pidana mati.

Wakapolres Nganjuk Kompol Didid Wahyu Agustyawan mengatakan, DM dan NJS dipersangkakan melanggar Pasal 459 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP yang mengatur tindak pidana pembunuhan berencana.

"Diancam dengan hukuman maksimal berupa pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 tahun," katanya, Jumat (17/7/2026).

Kasat Reskrim Polres Nganjuk AKP Sukaca menegaskan, penyidik menemukan adanya unsur perencanaan sebelum pembunuhan dilakukan.

"Ini adalah pembunuhan berencana. Jadi sebelum mengeksekusi, sudah direncanakan."

Menurut penyidik, rencana pembunuhan disusun pada Sabtu (11/7/2026) saat kedua tersangka bertemu di Kabupaten Nganjuk.

Dalam pertemuan itu, DM diduga menyusun skenario pembunuhan sekaligus membagi peran kepada NJS.

"Yang punya ide inisiatif, merencanakan, dan membagi peran, tersangka DM. Sehingga otak pembunuhan ini adalah DM," jelas AKP Sukaca.

DM diketahui merupakan anak angkat perempuan korban yang tinggal di Dusun Nanggungan, Desa Kaloran, Kecamatan Ngronggot.

Sementara NJS merupakan kekasih DM dan berdomisili di Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk.

BACA SELENGKAPNYA >>>

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.