Amankan Negeri Sendiri
Hari Widodo July 18, 2026 08:48 AM

Berbeda dengan beberapa bulan sebelumnya, perhatian masyarakat dunia masih fokus pada perang AS dengan Iran – yang juga melibatkan Israel – karena kekhawatiran pada arah peta politik dunia ketika perang berakhir.

Masyarakat dunia sempat terbuai akan gencatan senjata dan perjanjian damai yang diusung AS untuk mengakhiri perang. Namun sejak Jumat, konflik itu kembali memanas dan belum diketahui apakah berakhir dalam waktu singkat atau malah kian panjang.

Ironisnya, serangan AS ke Iran terjadi hanya beberapa hari menjelang partai final Piala Dunia 2026 Argentina vs Spanyol yang digelar di Stadion Metlife di East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat.

Federasi sepakbola dunia (FIFA) pada Maret 2026 lalu pernah menegaskan komitmennya untuk menjadikan sepak bola sebagai alat pemersatu, setelah dinamika geopolitik dunia yang mengkhawatirkan.

Piala Dunia adalah momentum perdamaian karena sepak bola menyatukan seluruh negara tanpa batasan agama, ras mauoun politik. Sangat disayangkan, turnamen empat tahunan yang digadang sebagai momen keberagaman, dinodai oleh ambisi dan egoisme negeri adidaya, AS.

Jadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 yang mengedepankan perdamaian, tapi Paman Sam membuka konflik baru dengan Iran yang tiada diketahui kapan berakhirnya.

Lantas, apa yang harus dilakukan Indonesia menyikapi kemungkinan dampak buruk perang AS dengan Iran ini? Saat konflik beberapa bulan lalu saja, efek negatifnya masih terasa hingga sekarang, terutama dalam pasokan energi dan ekonomi. Belum lagi tertata betul, perang kembali berkecamuk.

Indonesia harus punya skala prioritas dalam memitigasi dampak konflik geopolitik dunia ini ketimbang ikut campur di tengah konflik dan berlagak bak juru damai, Segera amankan pasokan energi Indonesia.

Upaya alternatif impor minyak mentah sudah tidak bisa ditawar, harus terlaksana, jangan hanya wacana. Demikian pula perlu ada percepatan pemanfaatan energi nabati seperti B3 atau B40 untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor.

Kemudian, hitung ulang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah tidak perlu alergi untuk menyetop program atau memotong anggaran program yang menyedot APBN besar.

Misalnya, mengurangi anggaran program makan bergizi gratis (MBG). Mengapa tidak? Jika manfaatnya membawa kestabilan keuangan negara.

Indonesia juga harus melindungi ekonomi lokal yang bersandar pada kemampuan daya beli masyarakatnya, khususnya golongan menengah ke bawah.

Perlindungan kepada kelompok rentan ini dapat menopang perekonomian lokal dari dampak konflik dunia.

Sebuah negara yang bisa mencukupi keperluan dalam negerinya, bakal lebih tahan pada dampak negatif dari konflik geopolitik dunia. 

Rakyat menunggu kebijakan pemerintah itu, sembari berdoa konflik AS dengan Iran betul-betul berakhir. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.