Poltekkes Pangkalpinang Perkenalkan Tanaman Pemanis Alami Stevia di Penagan
Fitriadi July 18, 2026 11:03 AM

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Tim pengabdi dari Program Studi DIII Keperawatan Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang membagikan bibit tanaman stevia (Stevia Rebaudiana Bertoni) kepada kader Posyandu di Desa Penagan, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka, Jumat (17/7/2026).

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk pencegahan penyakit Diabetes Melitus di Desa Penagan dan sekitarnya.

Tim pengabdi dari Poltekkes mengenalkan tanaman stevia dan manfaatnya kepada kader Posyandu Desa Penagan. 

Tim pengabdi terdiri dari Ashar Abilowo, S.ST.,M.Kes selaku ketua tim, dan beberapa anggota di antaranya Ns. Dudella Desnaini Firman Yasin, M.Kep ; Ns. Arif Rahman Aceh, M.Kep ; Yuliansyah Saputra, S.Gz.,S.Pd ; Robert Ilham; Berliana Indah Putri dan Ela Saputri.

Pembagian bibit stevia ini dilakukan di lima Posyandu Desa Penagan.

Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal budidaya stevia di daerah Kabupaten Bangka khususnya di daerah Desa Penagan.

Tim pengabdi juga membagikan pupuk NPK, paranet, dan perlengkapan menanam lainnya.

Pada pertemuan sebelumnya hari Kamis (9/7/2026), tim pengabdi telah mempraktikkan tentang pemanfaatan daun stevia kering untuk pemanis minuman teh di Kantor Kepala Desa Penagan.

Hal tersebut sebagai bentuk pengenalan tentang tanaman stevia kepada para kader Posyandu.

Tim pengabdi membuat minuman teh dengan pemanis dari daun stevia kering lalu dibagikan ke kader posyandu yang hadir dalam kegiatan tersebut. 

Beberapa komentar terkait rasa disampaikan oleh kader Posyandu, diantaranya adalah rasa manis yang berasal dari daun stevia berbeda dari gula pasir pada umumnya. 

Rasa manis yang dirasakan bercampur sedikit rasa pahit alami dari daun stevia.

Tim pengabdi dari Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang juga mempraktikkan cara menanam stevia dari perkecambahan biji.

Stevia merupakan tanaman perdu yang berasal dari Paraguay Amerika Selatan.

Tanaman stevia dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 500-1500 mdpl, suhu udara antara 14℃- 27℃, pada curah hujan antara 1600-1850 mm/tahun.

Tumbuhan stevia memiliki tinggi mencapai 30 hingga 65 cm, memiliki batang berkayu tegak dengan daun berbentuk lanset.

Perbanyakan spesimen tumbuhan ini dapat dilakukan melalui proses stek atau perkecambahan dari biji.

Tanaman stevia memiliki daya regenerasi yang kuat, namun tidak bisa hidup di daerah dataran rendah dengan suhu panas, maka disarankan tanaman stevia diletakkan di daerah yang teduh.

Apabila stevia ditanam di daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, maka membutuhkan naungan termasuk menggunakan paranet (wareng).

Stevia menawarkan banyak keuntungan bagi kesehatan diantaranya tidak mempengaruhi kadar gula darah dan aman bagi penderita diabetes.

Selain itu, stevia mencegah kerusakan gigi dengan menghambat pertumbuhan bakteri di mulut, dan membantu memperbaiki pencernaan dan meredakan sakit perut.

Stevia juga baik untuk mengatur berat badan, untuk membatasi makanan manis berkalori tinggi. 

Daun stevia mengandung steviosida dengan tingkat kemanisan 200-300 kali lebih tinggi dari gula tebu (sukrosa).

Stevia telah digunakan sebagai pemanis minuman teh lokal dan obat-obatan oleh penduduk asli Paraguay.

Pengembangan stevia sebagai penghasil gula alternatif diharapkan dapat menambah pasokan bahan pemanis nasional guna membantu program swasembada gula, disamping menyediakan pemanis alami yang sehat. 

Stevia sebagai alternatif pemanis alami mutlak diperlukan karena tanaman ini selain menghasilkan gula juga memiliki prospek cerah di masa yang akan datang.

Sementara itu, pemanis sintetik seringkali berpengaruh buruk terhadap kesehatan, sehingga memiliki peluang untuk peningkatan pendapatan petani dan kesejahteraan masyarakat petani. (*/E1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.