Sekolah Rakyat di Madukara Banjarnegara Berdiri Sejak Tahun 1912
khoirul muzaki July 18, 2026 11:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA- Era pemerintahan Presiden Prabowo banyak membangun Sekolah Rakyat, termasuk yang ada di Banjarnegara Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SMRP) 27.

Namun ternyata jauh lebih lama, Banjarnegara sudah memiliki Sekolah Rakyat (SR). 

SR tersebut adalah SR VI Madukara, yang saat ini menjadi SD Negeri Pekauman Madukara, Banjarnegara. 


Saat ini sekolah tersebut tengah dikaji oleh Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) dan Tim Ahli Cagar Budaya TACB) Kabupaten Banjarnegara untuk dijadikan cagar budaya. 


Ketua Umum YSMI Heni Purwono sempat berkunjung ke sekolah itu untuk melakukan kajian lapangan. 


"Ini menarik karena dalam buku induk yang ada, diawali tahun 1949. Ada siswa bernama Partijah yang masuk 10 September 1949, anak dari Santawirja,  petani di Limbangan dan tamat pada 14 Juni 1950.

Artinya itu saat-saat akhir perang kemerdekaan, jadi permulaan suasana damai di Indonesia," jelas Heni

 

Menariknya, tambah Heni, sekolah tersebut sudah berdiri sejak tahun 1912 sesuai dengan Surat Penyerahan Tanah tahun 1983.


"Kalau melihat rupa bangunannya, jelas sekolah ini sezaman dengan SDN 1 Kecepit yang memang berdiri awal abad 20. Pertanyaannya, kalau ini SR VI Madukara, sekolah serupa di Madukara lainnya mana? Mengapa yang masih tersisa utuh bangunannya hanya di sini," tanya Heni. 

Baca juga: Diam-diam Jateng Ekspor 403 Ton Cincau Kering ke Berbagai Negara


Ia berharap, bangunan SR VI Madukara ini dapat segera ditetapkan menjadi cagar budaya beserta beberapa benda lainnya. 


"Selain bangunan ada empat buku induk yang nanti juga akan kami koordinasikan dengan Disarpus untuk didigitalisasi dan dirawat, ada 3 buah lemari dan 3 buah kursi. Ini aset sejarah pendidikan yang sangat berharga untuk mengkaji sejarah pendidikan di Banjarnegara," tandas Heni. 



Kepala SDN Pekauman Madukara Mufariatun sangat berharap dengan kajian ini menjadikan pemerintah lebih peduli terhadap bangunan cagar budaya. 


"Kondisinya ya seperti itu. Kami tentu sangat mendukung untuk dijadikan cagar budaya. Sekaligus berharap ada perhatian lebih mengingat kondisi tembok beberapa sudah ada yang rusak dan perlu perbaikan," ujar Mufariatun.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.